Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Bertahan Tanpa Menjadi Keras, Krisis Kepercayaan dan Ketahanan Mental di Indonesia Awal 2026

Oleh: Aron Ginting Manik, S.Si Teol C,CM
Redaksi - Senin, 19 Januari 2026 10:22 WIB
3.026 view
Bertahan Tanpa Menjadi Keras, Krisis Kepercayaan dan Ketahanan Mental di Indonesia Awal 2026
Ist/SNN

(harianSIB.com)

Awal 2026 membuka babak baru yang ambivalen dalam kehidupan sosial Indonesia. Di satu sisi, data Bank Indonesia menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) ramai-ramai berada pada level optimis di pertengahan dan akhir 2025—termasuk angka 121,2 pada Oktober dan 124,0 pada November 2025—menunjukkan bahwa persepsi sebagian konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat meski bergejolak.

Namun di sisi lain, hasil Global Consumer Confidence Index yang dirilis Ipsos pada September 2025 memetakan gambaran yang lebih kompleks: kepercayaan konsumen Indonesia turun tajam, menurun sekitar 9,2 poin dibanding tahun sebelumnya—meski tetap berada di atas rata-rata global.

Dalam situasi kontras ini—antara optimisme statistik dan kehati-hatian batin—terlihat bagaimana masyarakat Indonesia berusaha bertahan di tengah ketidakpastian sekaligus menghadapi trust issue yang tumbuh di berbagai lini kehidupan.

Pasar, Biaya Hidup, dan Kepercayaan yang Rapuh

Baca Juga:
Tekanan ekonomi bukan sekadar angka. Survey Voice of the Consumer 2025 oleh PwC menunjukkan bahwa 50% konsumen Indonesia semakin khawatir terhadap ketidakstabilan ekonomi dan meningkatnya biaya hidup, lebih tinggi dibanding rata-rata global (44%) dan kawasan Asia Pasifik (42%). Kekhawatiran ini memengaruhi perilaku belanja, mendorong konsumen membeli lebih sedikit atau memilih alternatif yang lebih murah.

Bagi kelas menengah dan pekerja muda, angka-angka ini bukan sekadar statistik. Inflasi, biaya pendidikan, dan tekanan pekerjaan kontrak atau freelance kerap membuat masa depan terasa seperti opsi berisiko tinggi. Kelas menengah yang dulu merasa beranjak mapan kini berkutat pada keputusan harian: menabung atau membayar kebutuhan pokok? Menabung atau membayar kredit?

Survei Survei Konsumen dan Perekonomian yang dilakukan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sepanjang 2025 menunjukkan dinamika serupa. Indeks Menabung Konsumen dan Indeks Kepercayaan Konsumen sempat melemah atau naik tergantung bulan, cerminan respon yang labil terhadap ekspektasi dan situasi ekonomi nyata di lapangan.

Trust Issue dalam Ruang Publik

Ekonomi jelas memainkan peran besar. Namun gejala yang lebih mendasar adalah trust issue, yang merambat lebih luas dari sekadar kepercayaan terhadap pasar. Di ruang publik—media sosial, narasi politik, dan ruang kerja—kepercayaan terhadap institusi kerap dipertanyakan.

Sementara survei dari Kompas Research & Development menunjukkan bahwa Polri menjadi salah satu institusi yang dipercaya tinggi oleh publik, dengan angka kepercayaan mencapai sekitar 78,2% pada akhir 2025, trust issue tetap tajam terhadap berbagai lapisan institusi lain yang dirasakan publik tidak konsisten dalam kinerjanya.

Pendekatan atas trust issue ini tidak hanya membutuhkan data statistik, tetapi pembacaan sosial-kultural: masyarakat Indonesia kini lebih berhati-hati dalam menaruh kepercayaan, memilih mana yang dianggap kredibel dan relevan, serta seringkali merasakan jurang antara harapan dan kenyataan.

Resilience: Bukan Sekadar Tetap Tangguh

Di tengah tekanan ini, banyak pihak menyerukan pentingnya mental resilience—ketahanan mental—sebagai solusi kolektif. Istilah ini sering disederhanakan sebagai kemampuan untuk "tetap kuat dalam kondisi sulit". Padahal, menurut kajian psikolog, ketahanan mental adalah kemampuan untuk mengintegrasikan pengalaman sulit ke dalam narasi hidup yang sehat dan bermakna, bukan hanya menutup mata terhadap luka atau berusaha memaksa diri tetap produktif dalam kondisi yang tak manusiawi.

Bagi komunitas religius, konsep ketahanan semacam ini memiliki resonansi tersendiri. Ketika kepercayaan terhadap struktur sosial atau institusi publik menjadi goyah, banyak komunitas religius justru menawarkan ruang pemaknaan yang menguatkan jiwa, bukan hanya sekadar mendorong ketangguhan mekanis.

Ketahanan yang sehat justru lahir dari ruang untuk menangis, berdoa, berbagi, dan merawat relasi sosial sebagai bentuk care of the self yang sesuai dengan pengalaman batin manusia. Pendekatan ini jauh lebih dalam dibanding sekedar seruan self-help yang menggurui.

Manajemen Diri: Kontrol vs. Kesadaran

Berangkat dari tekanan ekonomi dan trust issue, wacana manajemen diri kini sering dipahami sebagai kemampuan mengontrol hidup secara ketat—menjaga jadwal, disiplin tinggi, mengatur emosi. Namun pemikiran kontemporer dan praktik mindfulness mengingatkan bahwa manajemen diri bukan semata soal kontrol, melainkan kesadaran penuh terhadap hidup sendiri dalam seluruh kompleksitasnya.

Mengelola diri adalah belajar hadir, menerima kondisi tanpa penghakiman, dan memahami bahwa kita bukan mesin yang dirancang semata untuk produktivitas. Individu yang sadar akan nilai dirinya cenderung mengambil keputusan yang lebih sehat—bukan sekadar reaktif terhadap tekanan, tetapi responsif terhadap realitas.

Bagi pekerja muda, ini berarti menempatkan produktivitas dalam proporsi yang lebih manusiawi. Bagi komunitas akar rumput, ini berarti merawat kehidupan batin dan relasi sosial sebagai sumber kekuatan yang tak tergantikan.

Akhir Kata: Kemanusiaan di Tengah Ketidakpastian

Data dan riset menunjukkan peta ekonomi dan psikologis masyarakat Indonesia yang kompleks. Namun angka hanya menjadi angka jika kita tidak melihat konteks manusiawi di baliknya. Ketika kepercayaan terhadap ekonomi, institusi, dan narasi publik diuji, tantangan terbesar bukan sekadar bertahan—tetapi bertahan dengan kemanusiaan.

Di era "trust issue", ketahanan mental yang sejati bukan menutup luka, tetapi mengajaknya berdialog. Manajemen diri yang sehat bukan sekadar kontrol ketat, tetapi kesadaran yang membuka ruang bagi relasi, empati, dan makna. Di sinilah letak kekuatan Indonesia 2026: bukan pada statistik optimis atau pesimis, tetapi pada cara kita menjaga rasa percaya dalam diri sendiri dan sesama.

Editor
: Eva Rina Pelawi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Gaet Milenial, Bank Indonesia Memperbarui Tata Pamer Museum
KPw Bank Indonesia Serahkan Bantuan PSBI Kepada SMAN 5 Pematangsiantar
Bank Indonesia P Siantar Kampanye GNNT dan GPN di Tiga Kabupaten/Kota
Bank Indonesia Sosialisasi Elektronifikasi Pemerintah Daerah di P Siantar
Bank Indonesia Segera Perkenalkan Dua Acuan Pasar Uang Baru
Bank Indonesia Siap Intervensi Nilai Tukar
komentar
beritaTerbaru