Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Bertahan Tanpa Menjadi Keras, Krisis Kepercayaan dan Ketahanan Mental di Indonesia Awal 2026

Oleh: Aron Ginting Manik, S.Si Teol C,CM
Redaksi - Senin, 19 Januari 2026 10:22 WIB
3.029 view
Bertahan Tanpa Menjadi Keras, Krisis Kepercayaan dan Ketahanan Mental di Indonesia Awal 2026
Ist/SNN

Di tengah tekanan ini, banyak pihak menyerukan pentingnya mental resilience—ketahanan mental—sebagai solusi kolektif. Istilah ini sering disederhanakan sebagai kemampuan untuk "tetap kuat dalam kondisi sulit". Padahal, menurut kajian psikolog, ketahanan mental adalah kemampuan untuk mengintegrasikan pengalaman sulit ke dalam narasi hidup yang sehat dan bermakna, bukan hanya menutup mata terhadap luka atau berusaha memaksa diri tetap produktif dalam kondisi yang tak manusiawi.

Bagi komunitas religius, konsep ketahanan semacam ini memiliki resonansi tersendiri. Ketika kepercayaan terhadap struktur sosial atau institusi publik menjadi goyah, banyak komunitas religius justru menawarkan ruang pemaknaan yang menguatkan jiwa, bukan hanya sekadar mendorong ketangguhan mekanis.

Ketahanan yang sehat justru lahir dari ruang untuk menangis, berdoa, berbagi, dan merawat relasi sosial sebagai bentuk care of the self yang sesuai dengan pengalaman batin manusia. Pendekatan ini jauh lebih dalam dibanding sekedar seruan self-help yang menggurui.

Manajemen Diri: Kontrol vs. Kesadaran

Berangkat dari tekanan ekonomi dan trust issue, wacana manajemen diri kini sering dipahami sebagai kemampuan mengontrol hidup secara ketat—menjaga jadwal, disiplin tinggi, mengatur emosi. Namun pemikiran kontemporer dan praktik mindfulness mengingatkan bahwa manajemen diri bukan semata soal kontrol, melainkan kesadaran penuh terhadap hidup sendiri dalam seluruh kompleksitasnya.

Mengelola diri adalah belajar hadir, menerima kondisi tanpa penghakiman, dan memahami bahwa kita bukan mesin yang dirancang semata untuk produktivitas. Individu yang sadar akan nilai dirinya cenderung mengambil keputusan yang lebih sehat—bukan sekadar reaktif terhadap tekanan, tetapi responsif terhadap realitas.

Bagi pekerja muda, ini berarti menempatkan produktivitas dalam proporsi yang lebih manusiawi. Bagi komunitas akar rumput, ini berarti merawat kehidupan batin dan relasi sosial sebagai sumber kekuatan yang tak tergantikan.

Editor
: Eva Rina Pelawi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Gaet Milenial, Bank Indonesia Memperbarui Tata Pamer Museum
KPw Bank Indonesia Serahkan Bantuan PSBI Kepada SMAN 5 Pematangsiantar
Bank Indonesia P Siantar Kampanye GNNT dan GPN di Tiga Kabupaten/Kota
Bank Indonesia Sosialisasi Elektronifikasi Pemerintah Daerah di P Siantar
Bank Indonesia Segera Perkenalkan Dua Acuan Pasar Uang Baru
Bank Indonesia Siap Intervensi Nilai Tukar
komentar
beritaTerbaru