Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 01 Mei 2026

Tantangan Mendikbud Membuat Belajar Menyenangkan

- Senin, 01 Agustus 2016 19:50 WIB
614 view
Tantangan Mendikbud Membuat Belajar Menyenangkan
Jakarta (SIB) - Pasca-pengumuman perombakan kabinet atau reshuffle jilid II oleh Presiden Jokowi, berbagai komentar dan opini berkembang di masyarakat. Ada yang menyambut positif, namun banyak juga yang mempertanyakan dasar presiden mengganti beberapa pos menteri.

Namun, menurut Wakil Ketua Komite III DPD Fahira Idris, di Jakarta, Kamis (28/7), apapun itu, reshuffle adalah hak prerogatif presiden yang mesti dihormati. Saat ini yang paling penting adalah bagaimana menteri yang baru saja dilantik menjawab tantangan masyarakat, melakukan perubahan yang cepat sehingga dampaknya langsung dirasakan.

"Salah satu tantangan besar bangsa ini adalah bidang pendidikan yang saat ini dinakhodai oleh Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Muhadjir Effendy," kata Fahira yang salah satu lingkup tugasnya pengawasan kinerja pemerintah di bidang pendidikan di DPD.

Ia mengungkapkan, tantangan terbesar dunia pendidikan di Indonesia adalah luasnya cakupan wilayah Indonesia dan masih belum sempurnanya kualitas pendidikan sistem belajar mengajar, kompetensi guru, infrastruktur, dan pemanfaatan teknologi, serta belum ada sistem nasional yang mampu memacu minat baca.
"Kompleksitas masalah inilah yang mengakibatkan pemeringkatan tingkat pendidikan Indonesia di tingkat dunia masih terus berkutat di papan bawah. Satu persatu persoalan ini mesti diurai oleh Mendikbud yang baru," ujar Fahira.

Untuk sistem pendidikan, lanjut Fahira, tantangan besarnya adalah bagaimana Mendikbud yang baru bisa memformulasi sistem yang mampu menghadirkan proses belajar mengajar menjadi asyik, menyenangkan dan tentunya setara dan berkualitas.

Dikatakannya, jika ingin merubah wajah pendidikan, bukan melulu soal mengganti kurikulum, tetapi bagaimana melatih kompetensi guru agar mampu membuat proses belajar mengajar menjadi asyik dan menyenangkan.

Terakhir, lanjut Fahira, harapan yang digantungkan kepada Mendikbud yang baru adalah meningkatkan kapasitas guru dan fasilitas PAUD karena PAUD adalah 'kawah' pembentukan anak-anak Indonesia agar tumbuh jadi pribadi yang mandiri, percaya diri, punya rasa sosial yang tinggi, cepat beradaptasi, berani jujur, dan punya rasa ingin tahu yang besar sehingga di masa depan mampu menjalankan negeri ini dengan baik.

"Usia nol hingga enam tahun merupakan tahun emas atau golden years pembentukan karakter anak. Kemdikbud harus beri perhatian lebih untuk PAUD," tutup Fahira. (PK/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru