Pandu mencontohkan, investasi Danantara bukan sekadar mempertimbangkan commercial returns. Harus ada economic returns, seperti penciptaan lapangan kerja, menyelesaikan masalah lingkungan hidup, hingga penciptaan kesejahteraan.
"Investasi itu adalah suatu hal yang sebenarnya tidak boleh terburu-buru, harus memiliki suatu sikap kehati-hatian yang pas. Apapun yang kami buat sekarang, Anda baru akan nilai lima tahun-sepuluh tahun ke depan," imbuh Pandu.
Ia mengatakan progres investasi langsung yang disiapkan Danantara sekarang adalah proyek Waste to Energy (WTE). Pandu berkata WTE yang disiapkan Danantara menjadi proyek terbesar di dunia.
Ada masalah utama yang ingin diselesaikan Danantara, yakni krisis lingkungan. Pandu menyebut salah satu alasan mereka mengajak pihak swasta bergabung adalah agar bisa menilai langsung kinerja Danantara.
"Dulunya ada tipping fee di daerah, kita hilangkan, kita pindahkan semua di sisi power purchase agreement yang sekarang menjadi 20 cent per kilowatt hour (kwh). Satu harga. Jadi, yang kita ubah sekarang, kita akan menyiapkan lahan secara gratis," jelasnya soal proyek WTE Danantara.
"Kita juga akan melakukan take and pay, 20 cent itu suatu harga yang menurut kami cukup attractive. Ada 120 perusahaan dan konsorsium yang ingin bidding hanya untuk 10 proyek pertama. Jadi, ini massive demand, bahwa memang secara komersial ini attractive," imbuh Pandu.