Perayaan ini bukan sekadar napak tilas sejarah masa lalu, melainkan proklamasi teologis atas kesetaraan. Hal tersebut diutarakan oleh Sekretaris Jenderal UEM, Pdt. Dr. Andar Parlindungan Pasaribu.
Ia mengingatkan kembali visi besar tahun 1996 ketika UEM bertransformasi dari sekadar lembaga misi Jerman menjadi persekutuan setara.
"Pada tahun 1996 lahirlah sebuah visi baru, yaitu UEM tidak lagi dipahami sebagai lembaga misi dari Jerman, melainkan sebagai persekutuan internasional yang menghapus sekat-sekat antara pemberi dan penerima, antara gereja tua dan gereja muda. Ini adalah sebuah proklamasi iman bahwa gereja-gereja di Indonesia mampu berdiri sejajar, memikul tanggung jawab bersama bagi misi Allah dan pelayanan kemanusiaan di dunia ini," ungkap Pdt. Andar.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Panitia Penyelenggara, Pdt. Dr. Jenny RC Purba, M.A., menyebutkan acara ini adalah wujud nyata kecintaan GKPS dan gereja-gereja Asia terhadap misi global UEM.
"Perayaan 30 tahun internasionalisasi UEM adalah sebuah perjalanan teologis yang sangat berani. Kita mau beranjak dari perjalanan misi yang sangat kuno, menuju kolaborasi yang sangat unik antara Asia, Afrika, dan Eropa dengan kesetaraan. Seluruh rangkaian yang kita saksikan bersama ini adalah seluruh talenta terbaik yang ada di GKPS, yang kami tunjukkan untuk UEM," jelas Pdt. Jenny.
Solidaritas dan keberanian untuk melangkah bersama juga digarisbawahi oleh Sekretaris Jenderal GKPS, Pdt. Dr. Janhotner Saragih. Ia merefleksikan bahwa ketakutan adalah hal yang manusiawi, namun kebersamaan dalam iman adalah solusinya.