Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 21 Juni 2026

30 Tahun Internasionalisasi UEM, Gelar Konser "Faith Beyond Fear" Serukan Kesetaraan dan Keberanian Gereja di Kancah Global

Victor R Ambarita - Minggu, 21 Juni 2026 19:52 WIB
130 view
30 Tahun Internasionalisasi UEM, Gelar Konser "Faith Beyond Fear" Serukan Kesetaraan dan Keberanian Gereja di Kancah Global
Foto: SNN/Victor Ambarita
Parade budaya 17 Sinode Gereja Anggota UEM (United Evangelical Mission) merayakan tonggak sejarah 30 tahun internasionalisasinya melalui perhelatan akbar bertajuk "Harmonious Concert: Faith Beyond Fear" di Smesco, Jakarta, Sabtu (20/6/2026).

Jakarta(harianSIB.com)

United Evangelical Mission (UEM) merayakan tonggak sejarah 30 tahun internasionalisasinya melalui perhelatan akbar bertajuk "Harmonious Concert: Faith Beyond Fear".

Berpusat di Smesco, Jakarta, Sabtu (20/6/2026), perayaan lintas benua ini menegaskan kembali wujud solidaritas global gereja-gereja di Asia, Afrika, dan Eropa dalam menjalankan misi pelayanan, diakonia, serta keadilan sosial di tengah dunia yang sarat akan tantangan.

Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) dipercaya sebagai tuan rumah perayaan ini, didukung oleh 17 sinode gereja anggota UEM lainnya di wilayah Asia.

Dengan mengusung tema "Bersatu dalam Kasih, Berkarya untuk Dunia", ibadah syukur dan konser harmoni ini dihadiri oleh ribuan jemaat, tokoh gereja internasional, hingga perwakilan pemerintah Republik Indonesia.

Baca Juga:
Ephorus GKPS, Pdt. John Christian Saragih, S.Th., M.Sc., dalam khotbahnya yang diambil dari 2 Timotius 1:7, menekankan gereja harus hadir membawa keberanian roh di tengah krisis dunia.

"Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan penguasaan diri. Ketika dunia menawarkan begitu banyak ketakutan, maka kehadiran gereja-gereja Tuhan dengan faith beyond fear akan selalu memampukan kita untuk mengatakan, 'We are in our mission'," tegas Pdt. John Christian Saragih.

Perayaan ini bukan sekadar napak tilas sejarah masa lalu, melainkan proklamasi teologis atas kesetaraan. Hal tersebut diutarakan oleh Sekretaris Jenderal UEM, Pdt. Dr. Andar Parlindungan Pasaribu.

Ia mengingatkan kembali visi besar tahun 1996 ketika UEM bertransformasi dari sekadar lembaga misi Jerman menjadi persekutuan setara.

"Pada tahun 1996 lahirlah sebuah visi baru, yaitu UEM tidak lagi dipahami sebagai lembaga misi dari Jerman, melainkan sebagai persekutuan internasional yang menghapus sekat-sekat antara pemberi dan penerima, antara gereja tua dan gereja muda. Ini adalah sebuah proklamasi iman bahwa gereja-gereja di Indonesia mampu berdiri sejajar, memikul tanggung jawab bersama bagi misi Allah dan pelayanan kemanusiaan di dunia ini," ungkap Pdt. Andar.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Panitia Penyelenggara, Pdt. Dr. Jenny RC Purba, M.A., menyebutkan acara ini adalah wujud nyata kecintaan GKPS dan gereja-gereja Asia terhadap misi global UEM.

"Perayaan 30 tahun internasionalisasi UEM adalah sebuah perjalanan teologis yang sangat berani. Kita mau beranjak dari perjalanan misi yang sangat kuno, menuju kolaborasi yang sangat unik antara Asia, Afrika, dan Eropa dengan kesetaraan. Seluruh rangkaian yang kita saksikan bersama ini adalah seluruh talenta terbaik yang ada di GKPS, yang kami tunjukkan untuk UEM," jelas Pdt. Jenny.

Solidaritas dan keberanian untuk melangkah bersama juga digarisbawahi oleh Sekretaris Jenderal GKPS, Pdt. Dr. Janhotner Saragih. Ia merefleksikan bahwa ketakutan adalah hal yang manusiawi, namun kebersamaan dalam iman adalah solusinya.

"Menjadi sebuah refleksi bersama buat kita bahwa ternyata dalam keberimanan pun rasa takut masih ada. Tapi jangan pernah takut untuk berjalan bersama. Selebrasi 30 tahun ini menjadi sebuah komitmen bersama bahwa di tengah-tengah keberadaan kita yang berbeda, Tuhan sudah memanggil kita untuk melangkah bersama dalam pekebaran injil di dunia ini," tutur Pdt. Janhotner.

Di sisi lain, kehadiran pemerintah turut mewarnai perayaan ini. Wakil Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kumham Imipas) RI, Prof. Dr. Otto Hasibuan, SH, MM, memberikan apresiasi tinggi atas kontribusi sosial UEM selama tiga dekade.

Lebih lanjut, ia menantang gereja untuk turut andil menyelesaikan krisis nyata di tengah masyarakat, salah satunya darurat narkotika.

"Perjalanan pelayanan selama 30 tahun merupakan pencapaian yang patut disyukuri sekaligus menjadi bukti nyata komitmen UEM dalam melayani umat dan masyarakat secara konsisten. Namun, pemerintah kelihatannya tidak sanggup sendiri untuk bisa menyelesaikan persoalan ini (narkotika). Jadi betul-betul mimbar gereja menurut saya adalah satu mimbar yang paling penting untuk bisa membantu menyelesaikan masalah bangsa ini," imbau Prof. Otto Hasibuan.

Acara yang berlangsung khidmat sekaligus meriah ini menampilkan ragam talenta luar biasa, mulai dari parade budaya 17 Sinode Gereja Anggota UEM, pertunjukan tarian medley Nusantara, penampilan teatrikal yang merefleksikan ketakutan manusia modern, hingga persembahan pujian dari berbagai paduan suara pemenang penghargaan seperti Men's Choir HKBP Menteng, Sola Gracia GKPI Menteng, dan Koor Kaum Bapak HKI Cawang.

Acara ditutup dengan deklarasi komitmen "By Faith, We Walk Without Fear" yang dipimpin oleh para pimpinan sinode.(*)

Editor
: Eva Rina Pelawi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Injil Kebangkitan : Kasih Karunia yang Menghidupkan Dunia (1 Korintus 15:1-11)
Lembaga Keagamaan Mitra Utama Bangun Karakter dan Harmoni Sosial
Pdt Dr Victor Tinambunan MST Diyakini Mampu Mempersatukan Parhalado dan Jemaat untuk Keutuhan dan Kebesaran HKBP Naboloni
Vandiko Minta Anak Samosir Terjamin Masa Depannya
Api Injil Tidak Boleh Padam di Mentawai
Seribuan Umat Kristen Ikuti Walk a Mile di Kabanjahe
komentar
beritaTerbaru
Mahasiswi USU Juara Karate Asia

Mahasiswi USU Juara Karate Asia

Medan(harianSIB.com)Karateka Timnas Indonesia yang juga mahasiswi Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (Fasilkom TI) Universitas S