"Menjadi sebuah refleksi bersama buat kita bahwa ternyata dalam keberimanan pun rasa takut masih ada. Tapi jangan pernah takut untuk berjalan bersama. Selebrasi 30 tahun ini menjadi sebuah komitmen bersama bahwa di tengah-tengah keberadaan kita yang berbeda, Tuhan sudah memanggil kita untuk melangkah bersama dalam pekebaran injil di dunia ini," tutur Pdt. Janhotner.
Di sisi lain, kehadiran pemerintah turut mewarnai perayaan ini. Wakil Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kumham Imipas) RI, Prof. Dr. Otto Hasibuan, SH, MM, memberikan apresiasi tinggi atas kontribusi sosial UEM selama tiga dekade.
Lebih lanjut, ia menantang gereja untuk turut andil menyelesaikan krisis nyata di tengah masyarakat, salah satunya darurat narkotika.
"Perjalanan pelayanan selama 30 tahun merupakan pencapaian yang patut disyukuri sekaligus menjadi bukti nyata komitmen UEM dalam melayani umat dan masyarakat secara konsisten. Namun, pemerintah kelihatannya tidak sanggup sendiri untuk bisa menyelesaikan persoalan ini (narkotika). Jadi betul-betul mimbar gereja menurut saya adalah satu mimbar yang paling penting untuk bisa membantu menyelesaikan masalah bangsa ini," imbau Prof. Otto Hasibuan.
Acara yang berlangsung khidmat sekaligus meriah ini menampilkan ragam talenta luar biasa, mulai dari parade budaya 17 Sinode Gereja Anggota UEM, pertunjukan tarian medley Nusantara, penampilan teatrikal yang merefleksikan ketakutan manusia modern, hingga persembahan pujian dari berbagai paduan suara pemenang penghargaan seperti Men's Choir HKBP Menteng, Sola Gracia GKPI Menteng, dan Koor Kaum Bapak HKI Cawang.
Acara ditutup dengan deklarasi komitmen "By Faith, We Walk Without Fear" yang dipimpin oleh para pimpinan sinode.(*)