Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 09 Juli 2026

Pemuda Katolik dan GAMKI Kecam Rentetan Kekerasan di Papua

Victor R Ambarita - Kamis, 09 Juli 2026 18:27 WIB
75 view
Pemuda Katolik dan GAMKI Kecam Rentetan Kekerasan di Papua
Foto: Dok/GAMKI
Pengurus GAMKI dan Pemuda Katolik menyampaikan pernyataan sikap terkait rentetan kekerasan di Tanah Papua dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.

Jakarta(harianSIB.com)

Pemuda Katolik dan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) mengecam keras rentetan aksi kekerasan yang terjadi di Tanah Papua, termasuk pembakaran pesawat misionaris AMA PK-RCY serta penembakan yang menewaskan pilot Nicholas F. Gosselin, Pendeta Elianus Agimbau, ibu hamil Melkiana Duwitau beserta bayinya, anak muda Okto Tigau, serta aparat keamanan.

Pernyataan sikap bersama tersebut disampaikan kedua organisasi dalam keterangan resmi pada Selasa (7/7/2026). Mereka menilai rangkaian peristiwa itu menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan akibat konflik bersenjata yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di Papua.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma, menegaskan bahwa kekerasan terhadap pelayanan kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun.

"Kami berduka bersama Gereja Katolik di Tanah Papua atas gugurnya seorang pilot yang datang bukan untuk berperang, melainkan untuk melayani masyarakat di wilayah-wilayah terpencil. Pembakaran pesawat misionaris dan pembunuhan terhadap pilotnya bukan hanya menyerang aset gereja, tetapi juga melukai harapan masyarakat yang selama ini bergantung pada pelayanan kemanusiaan tersebut," ujar Gusma dalam keterangan pers kepada jurnalis di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Baca Juga:
Ketua Umum DPP GAMKI, Sahat Martin Philip Sinurat, menegaskan bahwa setiap nyawa manusia memiliki martabat yang harus dihormati sehingga segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil, tokoh agama, tenaga kemanusiaan, maupun aparat negara harus dihentikan.

"Kami mengecam segala bentuk kekerasan terhadap siapapun, baik warga sipil, tokoh agama, tenaga kemanusiaan, aparat negara, maupun kelompok masyarakat lainnya. Tidak ada perjuangan yang memperoleh legitimasi moral ketika dibangun di atas pembunuhan dan teror. Papua membutuhkan ruang dialog, keadilan, dan rekonsiliasi, bukan lingkaran kekerasan yang terus memakan korban," tegas Sahat.

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Pemberangkatan Satgas Pamtas, Kapolres Belawan : Sinergitas TNI - Polri  Kekuatan Utama Jaga Keamanan Nasional
TNI Ungkap Identitas Tujuh Penumpang Selamat dari Penembakan dan Pembakaran Pesawat AMA di Yahukimo
Bobby Nasution Siapkan Extra Flight, Kontingen Pesparawi Sumut Dipulangkan dari Papua Hari Ini
Direktur Travel Akui Bertanggung Jawab atas Gagal Berangkatnya Kontingen Pesparawi Kepri, Janji Kembalikan Dana
Kasus Kontingen Pesparawi Kepri Gagal Berangkat ke Manokwari Diselidiki Polda Kepri
Pemprov Kepri Sebut Sudah Kucurkan Rp1,4 Miliar, Tunggu Penjelasan Panitia Pesparawi
komentar
beritaTerbaru