Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 12 September 2026

Mi Kuah Jadi Goreng Berujung Hilang Nyawa Serda Ahmad di Tangan 4 Senior

Redaksi - Sabtu, 12 September 2026 11:58 WIB
167 view
Mi Kuah Jadi Goreng Berujung Hilang Nyawa Serda Ahmad di Tangan 4 Senior
Foto: Istimewa
Foto terakhir Serda Ahmad bersama ayahnya.

Magetan(harianSIB.com)

Kematian prajurit TNI AU Serda Ahmad Muzammil Farisa menyisakan duka sekaligus tanda tanya bagi keluarga. Prajurit muda tersebut diduga menjadi korban penganiayaan oleh empat seniornya di asrama hingga meninggal dunia pada Kamis (10/9/2026) sekitar pukul 03.00 WIB.

Dugaan tersebut kini tengah diselidiki Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau), sementara empat personel yang diduga terlibat telah menjalani pemeriksaan dalam berita acara pemeriksaan (BAPK).

Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo mengungkap, putranya diduga dianiaya oleh empat senior ketika berada di asrama. Keempatnya masing-masing berinisial Serda MTSA, Serda JM, Serda MAD, dan Serda AH, yang kini masih menjalani proses pemeriksaan untuk mendalami dugaan penganiayaan tersebut.

"Saya dapat laporan pelaku empat orang senior anak saya," ujar Toni, Jumat dini hari (11/9/2026) yang dilansir Detik.com.

Baca Juga:
Menurut keterangan Toni yang diterimanya dari sejumlah pihak, persoalan tersebut bermula ketika Serda Ahmad diminta seniornya membeli makanan, tetapi makanan yang dibawa disebut tidak sesuai dengan permintaan sehingga memicu kemarahan. Toni menyebut, Serda Ahmad diminta membeli mi kuah, tetapi justru membawa mi goreng.

"Dari informasi yang saya dapat anak saya disuruh membeli makanan yang tidak sesuai permintaan senior. Mintanya mi kuah namun diberikan mi goreng," tutur Toni dengan mata sembab.

Toni mengatakan, dirinya memperoleh informasi bahwa dugaan penganiayaan terhadap putranya terjadi dalam dua waktu berbeda, yakni pada Rabu (9/9/2026) sekitar pukul 23.00 WIB dan kembali terjadi pada Kamis dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.

"Info yang saya dapat ada dua kali waktu penganiayaan yang pertama pukul 23.00 WIB dan yang kedua setelah itu dini hari nya pukul 03.00 WIB," terang pria yang menjabat sebagai Kabag Protokol Pemkab Magetan ini.

Kabar kematian Serda Ahmad pertama kali diterima Toni sekitar pukul 04.00 WIB dari salah seorang rekan putranya, tetapi informasi awal yang disampaikan menyebut almarhum meninggal akibat kecelakaan. Tidak lama kemudian, Toni menerima informasi lain dari rekan Serda Ahmad yang menyebut kematian tersebut diduga berkaitan dengan penganiayaan oleh senior.

"Saya dapat info saat sudah meninggal pukul 03.00 WIB. Saya dihubungi oleh temannya almarhum pukul 04.00 WIB," lanjutnya.

"Pukul 04.00 WIB saya dihubungi bahwa anak saya meninggal dunia karena kecelakaan. Tapi ada teman lainnya menginfokan jika tidak kecelakaan tapi dianiaya senior," imbuh Toni.

Sebelum dipulangkan ke rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, jenazah Serda Ahmad menjalani proses autopsi di Jakarta. Toni juga menyebut, keluarga memperoleh informasi mengenai adanya luka pada tubuh almarhum, yang kemudian menjadi salah satu hal yang semakin menguatkan permintaan keluarga agar penyebab kematian diusut secara menyeluruh.

"Luka di wajah bagian dagu dan bagian dada infonya," jelas Toni.

Toni meminta Presiden Prabowo Subianto, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), hingga pihak terkait memastikan kasus kematian putranya diproses secara adil dan transparan. Ia berharap apabila dugaan penganiayaan tersebut terbukti, para pelaku mendapatkan sanksi berat dan kejadian serupa tidak kembali terjadi di lingkungan TNI AU.

"Mohon kepada pak Presiden (Prabowo), pak KSAU, juga Kadis Psikologi yang jadi induk kantor anak saya. Mohon dengan hormat agar pelaku penganiayaan anak saya dituntut seadil-adilnya," kata Toni.

"Kami terus terang menuntut keadilan. Apalagi kejadian di Mabes TNI AU, jadi istilahnya jadi percontohan nasional," ujar Toni.

"Harapan kami pada pelaku putusan sanksi yang berat kepada pelaku dan berharap tidak terulang lagi kejadian yang memakan nyawa prajurit anak tidak berdosa," imbuh Toni.

Sementara itu, dua hari sebelum Serda Ahmad meninggal, Toni sempat bertemu putranya di Jakarta ketika sedang menjalankan tugas mendampingi Bupati Madiun H Hari Wuryanto. Pertemuan pada Selasa (8/9/2026) itu bahkan sempat diabadikan dalam foto.

"Pertemuan terakhir saya saat ada tugas dinas luar kota saya ke Jakarta kemarin lusa. Kemarin hari Selasa saya ketemu saat saya mendampingi Pak Bupati Madiun kebetulan ada acara di Jakarta," ungkap Toni.

"Tidak mengira pertemuan terakhir," tandas Toni sambil menahan air mata.

Jenazah Serda Ahmad tiba di rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, pada Jumat (11/9/2026) sekitar pukul 01.00 WIB menggunakan ambulans TNI AU. Setelah disalatkan, jenazah dimakamkan dengan dihadiri keluarga, Bupati Madiun H Hari Wuryanto, jajaran ASN Pemkab Madiun, serta personel TNI AU Lanud Iswahjudi Magetan.

Pomau turun tangan menyelidiki dugaan kekerasan

Mabes TNI AU memastikan dugaan kekerasan terhadap Serda Ahmad sedang ditangani Pomau dengan meminta keterangan sejumlah pihak dan mengumpulkan bukti yang diperlukan. TNI AU menyatakan proses pemeriksaan terhadap sejumlah personel masih berlangsung dan penyelidikan dilakukan untuk mengungkap kronologi serta fakta secara utuh.

"TNI Angkatan Udara menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya seorang personel TNI AU, Serda AMF. Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau) saat ini tengah melakukan penyelidikan terkait dugaan kekerasan yang dialaminya," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana, Jumat (11/9/2026).

"Pomau telah meminta keterangan dari sejumlah pihak serta mengumpulkan keterangan dan bukti-bukti yang diperlukan guna pemeriksaan terhadap sejumlah personel masih berlangsung," lanjutnya.

TNI AU menegaskan penanganan perkara dilakukan secara profesional dan objektif sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Pemeriksaan terhadap para personel yang diduga terlibat masih berjalan sehingga fakta mengenai kejadian, peran masing-masing pihak, serta penyebab kematian Serda Ahmad masih menunggu hasil penyelidikan.

"TNI AU memastikan penanganan perkara dilakukan secara profesional, objektif, dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," beber Nyoman.

"Untuk mengungkap secara utuh kronologi serta fakta-fakta yang berkaitan dengan kejadian tersebut," tandasnya.(**)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Ayah: Serda Ahmad Diduga Tewas Dianiaya Senior gegara Salah Beli Mi
Warung Polri Presisi, Polres Labuhanbatu Berbagi Makanan dan Layani Pemeriksaan Kesehatan Warga
Polsek Pancurbatu Bersama Koramil 03 Sibolangit Gerebek Lokasi Diduga Tanaman Ganja
Plt Ketua Umum PPAD: Purnawirawan TNI-AD Adalah Aset Strategis Bangsa yang Harus Dijaga Kehormatannya
Diduga Baru Belanja, Tim Gabungan Kodim 0209/LB-Polres Labuhanbatu Tangkap Kurir Narkoba Asal Jatim dari Bus ALS
2 TNI Penyiram Air Keras Andrie Yunus Batal Dipecat, Hukuman Penjara Dikurangi 6 Bulan
komentar
beritaTerbaru