Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 11 Agustus 2026

Respon Keluhan Masyarakat, KPPU Telusuri Penyebab Kelangkaan dan Melambungnya Harga Semen di Sumut

Indah Apriliana dewi Ginting - Selasa, 11 Agustus 2026 15:51 WIB
181 view
Respon Keluhan Masyarakat, KPPU Telusuri Penyebab Kelangkaan dan Melambungnya Harga Semen di Sumut
Foto: Dok/KPPU
KPPU menggelar pertemuan dengan pihak terkait membahas kelangkaan pasokan dan kenaikan harga semen di Sumut, Senin (11/8/2026).

Medan(harianSIB.com)

‎Menyikapi keluhan dari berbagai kalangan masyarakat dan jajaran Pemerintahan Sumatera Utara atas kenaikan harga dan kelangkaan semen di sejumlah wilayah Sumut, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengatakan akan mendalami struktur pasar dan rantai distribusi semen di Sumut.

‎Pendalaman KPPU dimulai dari kantor Wilayah I dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD), Kajian Struktur Pasar dan Distribusi Semen di Sumut, Senin (10/8/2026).

‎FGD yang berlangsung di ruang rapat KPPU wilayah Sumut I, menghadirkan produsen dan distributor semen, asosiasi pelaku usaha konstruksi, Polda Sumut serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumut.

‎Kegiatan yang dibuka secara daring oleh anggota KPPU Budi Joyo Santoso, merupakan bagian dari proses pengumpulan informasi guna memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi pasokan, distribusi, pembentukan harga dan persaingan pasar semen di Sumut.

‎FGD yang dipimpin Kepala Kanwil I Ridho Pamungkas membahas awal temuan KPPU mengenai kenaikan harga semen, keterbatasan pasokan beberapa merk semen serta perbedaan harga produk yang sama di Sumut, dibandingkan dengan harga di wilayah lainnya.

‎KPPU melihat adanya kondisi yang perlu ditelusuri, pasokan dan kapasitas produksi secara umum tersedia, tetapi konsumen di beberapa daerah tetap kesulitan mendapatkan semen. KPPU ingin mengetahui di mana terjadi bottleneck atau hambatan dalam rantai pasok.

‎"Berdasarkan data BPS pada Juni 2026, kelompok bangunan / konstruksi secara nasional mengalami kenaikan harga sekitar 8,68persen, sementara kelompok transportasi meningkat sekitar 4,57 persen dan pada saat yang sama, kenaikan harga semen di Sumut berada di 25 hingga 40 persen serta disertai keterbatasan pasokan di sejumlah titik. Kenaikan biaya produksi dan logistik tentu menjadi salah satu faktor. Namun, apakah kenaikan biaya tersebut cukup untuk menjelaskan kenaikan harga yang jauh lebih tinggi sekaligus keterbatasan pasokan tersebut?" ujar Ridho.

‎Dari hasil diskusi, belum terdapat informasi yang menunjukkan adanya gangguan produksi secara umum yang menyebabkan terhentinya pasokan semen. Namun, sejumlah pelaku usaha menyampaikan adanya kendala logistik dan distribusi, khususnya pada Mei–Juni 2026.

‎Kenaikan biaya BBM dan transportasi, antrean BBM, keterbatasan kontainer, serta peningkatan biaya pelayaran disebut turut memengaruhi distribusi semen dari produsen menuju pasar.

‎Perwakilan Indocement menyampaikan adanya kendala pengiriman semen dari Pulau Jawa ke Sumatera Utara melalui Pelabuhan Kuala Tanjung dan Belawan.

‎Sementara itu, Semen Indonesia Group (SIG) menyampaikan, penjualan semen di Sumatera Utara hingga Juli 2026 meningkat sekitar 16 persen, antara lain dipengaruhi peningkatan kebutuhan untuk pemulihan pascabencana di Aceh. SIG juga menyampaikan adanya kendala dalam meningkatkan produksi akibat keterbatasan pasokan batu bara sebagai bahan pendukung produksi.

‎Sementara itu, Semen Merah Putih menyampaikan, gangguan mesin pabrik dan kendala distribusi akibat antrean BBM solar sempat memengaruhi harga jual.

‎Berbagai informasi tersebut menjadi bahan bagi KPPU untuk melihat lebih jauh hubungan antara kapasitas pasokan, kebutuhan pasar dan ketersediaan semen di tingkat konsumen.

‎"Kalau dari sisi kapasitas produksi dan pasokan secara umum sebenarnya masih tersedia, tetapi di sisi lain konsumen mengalami kesulitan memperoleh semen, kita perlu melihat lebih jauh di titik mana adanya hambatan antara pasokan dari produsen dengan kebutuhan di pasar," lanjut Ridho.

‎Menurutnya, kondisi tersebut juga perlu dilihat dari perspektif persaingan antar produk. Dalam mekanisme pasar yang kompetitif, apabila satu merek mengalami kekurangan pasokan, konsumen pada dasarnya dapat beralih ke merek lainnya. Namun, apabila berbagai merek pada saat yang sama sulit diperoleh di pasar, kondisi tersebut memerlukan penelusuran lebih lanjut untuk memahami apa yang terjadi pada sisi pasokan.

‎"Ketika satu merek mengalami kekurangan, secara teori konsumen masih dapat beralih ke merek lain. Tetapi apabila pada saat yang sama berbagai merek semen juga sulit diperoleh di pasar, kita perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi pada sisi pasokannya," tambahnya.

‎KPPU akan mendalami struktur biaya dan pembentukan harga mulai dari produsen hingga konsumen, pola distribusi dan alokasi pasokan, serta berbagai hambatan logistik yang dapat memengaruhi harga dan ketersediaan semen.

‎Pendalaman juga akan dilakukan terhadap distribusi melalui jalur laut dengan melibatkan pihak terkait, termasuk pelaku distribusi, pelayaran, dan Pelindo. KPPU akan melihat antara lain kapasitas angkutan, ketersediaan kontainer, proses loading, waktu tunggu, serta komponen biaya dalam pengiriman semen ke Sumatera Utara.

‎Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah kenaikan biaya produksi dan logistik memiliki hubungan yang proporsional dengan kenaikan harga semen di pasar.

‎"Kalau persoalannya adalah kenaikan BBM dan biaya logistik, kita perlu melihat seberapa besar kenaikan biaya tersebut dan seberapa besar pengaruhnya terhadap harga semen. Pertanyaan berikutnya adalah mengapa dengan kondisi yang sama, harga semen di Sumatera Utara dapat lebih tinggi dibandingkan wilayah lain atau produk lain yang juga diangkut dari luar provinsi. Ini yang masih perlu kami dalami," tegas Ridho.

‎KPPU menegaskan, hasil FGD belum merupakan kesimpulan akhir. Informasi yang diperoleh akan menjadi bahan untuk kajian, verifikasi data dan pendalaman kondisi lapangan.

‎"FGD hari ini baru memberikan gambaran awal. KPPU masih akan menindaklanjuti informasi yang kami peroleh dengan pendalaman data dan turun langsung ke lapangan. Kami ingin memastikan apakah perbedaan harga tersebut memang sepenuhnya dapat dijelaskan oleh faktor biaya dan kondisi logistik, atau masih terdapat faktor lain dalam struktur dan rantai distribusi semen di Sumatera Utara yang perlu kami pahami," pungkas Ridho. (**)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru