Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 28 Agustus 2026

Ekspansi Usaha Dahana Bidik Pendapatan RP1,1 Triliun

- Sabtu, 15 Maret 2014 19:35 WIB
572 view
Ekspansi Usaha Dahana Bidik Pendapatan  RP1,1 Triliun
Jakarta (SIB)- PT Dahana (Persero) perusahaan milik negara yang bergerak di bidang bahan peledak berenergi tinggi pada tahun 2014 menargetkan pendapatan sebesar Rp1,1 triliun, meningkat dibanding pendapatan 2013 sebesar Rp1 triliun.

"Peningkatan pendapatan didorong antara lain produksi bahan peledak yang mencapai 65.000 ton, melonjak 16,07 persen dibanding 56.000 ton pada tahun 2013," kata Direktur Utama Harry Sampurno, saat berbincang dengan media di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat.

Saat yang bersamaan, Dahana membukukan laba bersih sekitar Rp70 miliar tahun 2014, naik dari sekitar Rp60 miliar pada tahun 2013.

Menurut Harry, tahun 2014 menjadi babak baru bagi Dahana setelah melakukan transformasi bisnis yang dimulai sejak tahun 2002. Dahana pun menargetkan menjadi perusahaan bahan peledak terkemuka di ASEAN pada tahun 2016.

Ia menjelaskan, dalam 10 tahun terakhir Dahana berhasil melakukan ekspansi produksi berbagai jenis bahan peledak termasuk detonator listrik, non-listrik, emulsi dan terakhir booster dan pengembangan bahan peledak untuk keperluan militer.

Seiring perjalanan waktu, Dahana yang didirikan tahun 1966 tersebut, saat ini memperluas usaha dengan tiga lini bisnis, yaitu produksi bahan peledak explosive manufacturing, drilling and blasting, dan related services.

Khusus bahan peledak, Dahana memproduksi setidaknya 16 jenis mulai dari detonator, blast effect bomb, dayagel, dayaprime, dayadet non electric, defence explosives, hingga shape charges.

Dahana memiliki penguasaan teknologi di bidang bahan peledak komersial dan militer serta fasilitas produk terintegrasi seperti, pabrik ammonium nitrate, pabrik detonator, propelan munisi, propelan roket, mixing high explosive, pabrik danfo, bulk emulsion, dan catridged emultion.

Dengan penguasaan teknologi tersebut, maka produk dan jasa Dahana banyak digunakan berbagai perusahaan di Indonesia, dari sektor pertambangan umum metal maupun non metal, sektor kuari, dan konstruksi seperti industri semen, aspal.

Selanjutnya, proyek konstruksi bendungan, terowongan, irigasi, penghancuran gedung-gedung tua, pendalaman pelabuhan, sektor minyak dan gas, seperti operasi perforasi casing sumur minyak, operasi seismik, dan juga operasi militer.

Ekspansi

Harry menjelaskan, saat ini kebutuhan bahan peledak di Indonesia berkisar 300.000 ton per tahun.

Pangsa bahan peledak dikuasai oleh dua perusahaan asing, yaitu Orica perusahaan milik Amerika-Australia, dan Dyno, perusahaan asal Amerika.

"Dahana hanya mampu memasok 56.000 ton per tahun, selebihnya atau sekitar 244.000 ton dipasok perusahaan asing tersebut," ujarnya.

Tentunya ujar Harry, dengan pengembangan teknologi yang dimiliki Dahana ingin menjadi "tuan rumah" di negeri sendiri dengan terus melakukan ekspansi.

Sementara itu, Direktur Operasional Dahana Bambang Agung mengatakan khusus untuk proyek pertambangan, Dahana saat ini sedang membangun tiga unit pabrik bahan peledak (on site plant/OSP) di lokasi tambang PT Adaro Energy Tbk, Kalimantan Selatan, PT Kasongan Bumi Kencana, Kalteng, dan ABN Grup Toba, Kalimantan Timur.

Dahana juga sedang melakukan penawaran tender pembangunan 6 proyek OSP, meliputi tambang emas di Sanga-sanga Kaltim, PT Cabuse di Malino, Kalimantan Utara, Mitra Perdana Utama, Malino Kalimantan Utara, dan tambang emas Bukit Pitu, Banyuwangi, dan konstruksi di Pulau Seram.

Direktur Keuangan dan SDM Dahana Susilo Hertanto mengatakan nilai kontrak ke enam pabrik tersebut masing-masing berkisar 15-20 juta dolar dengan masa kontrak minimal 3 tahun.

Susilo menambahkan, untuk mengembangkan lini bisnis dan ekspansi usaha, Dahana mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2014 sekitar Rp140 miliar. (Ant/d)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru