Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 11 Juni 2026

Sering Berhubungan Intim Tingkatkan Kekuatan Otak

- Minggu, 30 Juli 2017 18:47 WIB
346 view
Jakarta (SIB)- Banyak yang mengira berhubungan intim terlalu sering mempunyai dampak kurang baik bagi tubuh. Namun penelitian yang dipublikasikan di The Journal of Gerontology Series B mengatakan hal berbeda.

Para peneliti menemukan bahwa orang yang aktif secara seksual akan semakin tinggi dalam serangkaian tes mental. Selain itu kelancaran verbal lebih baik, kemampuan untuk melihat objek secara visual meningkat, serta bisa menilai jarak antar benda lebih baik.

Penelitian ini melibatkan 73 orang yang berusia antara 50-83 tahun dan menentukan seberapa sering mereka melakukan hubungan intim selama 12 bulan. Dikategorikan dalam rentang waktu untuk berhubungan intim, dan mencatat rincian kesehatan serta gaya hidup.

Sebanyak 28 pria dan 45 wanita diukur pola fungsi otaknya. Mereka dirancang untuk mengukur perhatian, ingatan, kelancaran, bahasa, dan kinerja spasial.
"Setiap kali kita melakukan penelitian, kita semakin dekat untuk memahami mengapa asosiasi ini ada. Bagaimana mekanisme dasarnya, dan apakah ada hubungan sebab dan akibat antara aktivitas seksual dan fungsi kognitif pada orang yang lebih tua," ujar salah satu peneliti, Dr Hayley Wright dari Coventry University.

Hasilnya, mereka yang memiliki aktivitas seksual lebih dari sekali dalam seminggu mencetak skor terbaik. Kemampuan verbalnya meningkat dan kinerja visualnya lebih tinggi. Namun frekuensi hubungan intim tidak berpengaruh pada peningkatan perhatian dan memori atau kosa kata.

Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Oregon State University, menemukan bahwa karyawan yang memiliki aktifitas seksual lebih banyak di rumah melaporkan semangat kerja lebih tinggi dan kepuasan kerja pun menjadi lebih besar.

Ini berarti bahwa setelah melakukan hubungan intim akan menghasilkan hormon seks dopamin dan oksitosin yang akan bertahan hingga 24 jam baik pada pria maupun wanita. Dan hal ini mempengaruhi kinerja otak mereka.

"Kami hanya bisa berspekulasi apakah ini didorong oleh unsur sosial atau fisik. Namun mekanisme biologis juga dapat mempengaruhi hal ini," tutup Dr Wright. (detikhealth/f)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru