Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 10 Juni 2026

Gejolak Timur Tengah dan Kenaikan Pertamax Bayangi Pergerakan IHSG

Nelly Hutabarat - Rabu, 10 Juni 2026 18:58 WIB
189 view
Gejolak Timur Tengah dan Kenaikan Pertamax Bayangi Pergerakan IHSG
harianSIB.com/Dok
IHSG

Medan(harianSIB.com)

Mayoritas bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan pagi, Rabu (10/6/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat melakukan serangan ke wilayah Iran. Sentimen global tersebut turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat dibuka di zona merah pada level 5.744.

Namun, seiring berjalannya perdagangan, IHSG berangsur pulih dan kembali bergerak menguat didorong sentimen positif dari dalam negeri.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati kebijakan pemerintah yang mulai memberlakukan kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi mendorong laju inflasi nasional, meski di sisi lain dapat membantu mengurangi tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan ke level Rp17.910 per dolar Amerika Serikat setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan.

Baca Juga:
Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan penguatan rupiah menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik di tengah tekanan global yang masih tinggi.

"Penguatan rupiah menjadi kabar baik bagi pasar keuangan domestik. Namun risiko tetap perlu diwaspadai karena pasar masih mencermati dampak kenaikan harga Pertamax terhadap pola konsumsi masyarakat," ujarnya di Medan, Rabu (10/6/2026).

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
IHSG Kembali Terpuruk, Rupiah Justru Ditutup Menguat
Rupiah Tembus Rp18.050 per Dolar AS, Kenaikan Harga Minyak dan Geopolitik Timur Tengah Tekan Pasar
IHSG Menguat 1,11 Persen, Rupiah Kembali ke Rp17.835 per Dolar AS
Rupiah Terus Melemah, IHSG Berbalik ke Zona Hijau
Rupiah Menguat Tajam Usai BI Naikkan Suku Bunga, IHSG Tetap Melemah
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Terburuk Sepanjang Sejarah
komentar
beritaTerbaru