Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 26 Oktober 2026

Jejak Riset dari Rimba Tarutung: Daun Bosi-bosi Menembus Batas Ekstraksi Hijau dan Antikanker Payudara

Rickson Pardosi - Senin, 26 Oktober 2026 16:15 WIB
219 view
Jejak Riset dari Rimba Tarutung: Daun Bosi-bosi Menembus Batas Ekstraksi Hijau dan Antikanker Payudara
Foto: harianSIB.com/Dok
Muhammad Fauzan Lubis

Keberhasilan formulasi ekstraksi kemudian ditelaah melalui karakterisasi menggunakan instrumen Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan Transmission Electron Microscope (TEM). Hasil pengujian memperlihatkan interaksi ikatan hidrogen antara kolin klorida dan glukosa serta struktur sferis yang dilaporkan terbentuk dalam sistem ekstrak tersebut.

Tahap ini menjadi bagian penting sebelum ekstrak diuji lebih lanjut. Sebab, untuk memahami potensi tanaman obat, peneliti tidak cukup hanya mengetahui bahwa suatu tanaman mengandung senyawa tertentu. Karakteristik ekstrak, kandungan kimia, dan aktivitas biologisnya juga perlu diperiksa secara sistematis.

Setelah memperoleh ekstrak teroptimasi, tim melanjutkan penelitian untuk mengidentifikasi senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya. Analisis dilakukan menggunakan Liquid Chromatography-High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS), dengan fasilitasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Melalui analisis tersebut, tim berhasil mengidentifikasi 13 senyawa bioaktif utama. Ekstrak yang dihasilkan juga menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi. Pada konsentrasi 500 μg/mL, aktivitas penghambatan radikal bebas DPPH mencapai 89,32 persen.

Temuan ini memberikan gambaran awal mengenai potensi biologis ekstrak daun Bosi-bosi. Namun, perhatian penelitian tidak berhenti pada aktivitas antioksidan. Tim juga menguji respons sel kanker payudara terhadap ekstrak tersebut melalui pengujian sitotoksisitas in vitro menggunakan metode MTT assay pada tiga lini sel kanker payudara.

Untuk memahami respons sel secara lebih mendalam, penelitian dilengkapi dengan analisis flow cytometry dan penandaan imunositokimia. Hasil pengujian menunjukkan dua mekanisme utama yang berkaitan dengan penghambatan pertumbuhan dan kematian sel kanker, yaitu penghentian siklus sel serta induksi apoptosis.

Mekanisme pertama berkaitan dengan G0-G1 cell cycle arrest, yakni tertahannya siklus sel pada fase G0-G1. Dalam kondisi normal, sel menjalani tahapan tertentu sebelum membelah. Pada sel kanker, proses ini dapat berlangsung secara tidak terkendali. Penelitian menemukan adanya penurunan ekspresi protein cyclin D1 (downregulation), protein yang berperan dalam pengaturan siklus dan pembelahan sel. Penurunan ekspresi protein tersebut mengindikasikan adanya potensi penghambatan proses pembelahan sel kanker oleh ekstrak yang diuji.

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Indonesia-Belarus Sepakati Kerja Sama Riset dan Teknologi
Lembaga Riset Malaysia Unggulkan Pasangan Jokowi-Ma ruf
Dewan Riset Sampaikan Solusi Penanganan Banjir Kepada Wali Kota Medan
13 - 17 Oktober 2018, Festival Tenun Nusantara di Tapanuli Utara
Gebyar PAUD 2018 Tapanuli Utara Diwarnai Berbagai Lomba
UI: Riset dan Inovasi Jangan Hanya di Kertas
komentar
beritaTerbaru