Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 15 Mei 2026

229 Orang Meninggal dalam 5 Bulan, Brasil KLB Demam Berdarah

- Minggu, 17 Mei 2015 18:51 WIB
203 view
229 Orang Meninggal dalam 5 Bulan, Brasil KLB Demam Berdarah
SIB/Reuters/ r
FOGGING: 229 orang meninggal dalam 5 bulan, Brasil KLB demam berdarahfogging di salah satu desa di Brasil.
Jakarta (SIB)- Meninggalnya 229 orang dalam 5 bulan terakhir membuat pemerintah Brasil kelimpungan. Mereka pun menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk penyakit bersumber nyamuk tersebut.

Data dari Kementerian Kesehatan Brasil menunjukkan bahwa ada 750.000 kasus demam berdarah yang tercatat sejak awal Januari 2015. Sementara korban meninggal dunia sudah mencapai 229 orang, lebih tinggi 45 persen dari tahun 2014 lalu.

Menteri Kesehatan Arthur Chioro mengatakan penyebab KLB ini ada kaitannya dengan kekeringan yang terjadi di bagian Tenggara Brasil, termasuk kota Sao Paulo. Sebabnya, banyak warga yang menghemat air dan menyimpannya di ember atau kaleng, yang merupakan tempat favorit nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.

"Kami memiliki dana $3,3 juta (sekitar Rp 43,4 miliar) untuk menangani demam berdarah yang terus terjadi setiap tahun. Namun hanya 60 persen yang bisa digunakan. Kami kekurangan sumber daya termasuk penelitian yang menjanjikan," urainya, dikutip dari Reuters, Rabu (13/5).

Hanya saja, pengakuan yang dikatakan Chioro mendapat tentangan dari banyak pihak, termasuk warga dan anggota senat. Mereka menyoroti pemerintahan Presiden Dilma Rousseff yang ditengari sangat korup.

Raimunda da Costa (52) seorang ibu rumah tangga dari Sao Paulo menolak dengan tegas pernyataan Menteri Chioro soal kaleng dan drum air sebagai tempat bersarangnya nyamuk. Menurutnya jika pemerintah tak mencuri uang rakyat, program seperti fogging dan pemberian obat anti jentik nyamuk seharusnya bisa dijalankan.

"Jika saja pemerintah tidak mencuri terlalu banyak dari kami, aku pasti akan membawa keluargaku ke dokter untuk berobat," tutur da Costa, yang disetujui oleh belasan warga Sao Paulo lainnya.

Selain pelayanan kesehatan, hal lain yang disorot adalah sistem asuransi kesehatan dari pemerintah Brasil. Marcus Melo, pakar kebijakan kesehatan, mengatakan bahwa dalam undang-undang Brasil juga memiliki sistem pelayanan kesehatan untuk semua (Universal Health Coverage).

Namun buruknya tata laksana serta tak memadainya infrastruktur membuat program ini tak berjalan dengan baik. Di satu sisi, masyarakat diminta untuk membayar pajak tinggi untuk kesehatan. Namun di sisi lain, hanya sedikit manfaat yang diterima masyarakat dari sistem tersebut.

"Orang-orang tidak mendapat apa yang mereka bayarkan. Hanya satu cara agar bisa hidup bahagia di Brasil, jangan pernah sakit," tutur Melo. (detikhealth/ r)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru