Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 01 Mei 2026

Tragedi Putra Humbahas di Peru: 5 Anggota Geng Internasional Pembunuh Diplomat Zetro Purba Dibekuk, Motif Dendam Menguat

Redaksi - Minggu, 14 September 2025 09:59 WIB
430 view
Tragedi Putra Humbahas di Peru: 5 Anggota Geng Internasional Pembunuh Diplomat Zetro Purba Dibekuk, Motif Dendam Menguat
Foto ist
Suasana pemakaman Zetro Leonardo Purba, diplomat Indonesia yang ditembak di Peru.
Lima(harianSIB.com)


Titik terang mulai menyelimuti kasus pembunuhan brutal terhadap Zetro Leonardo Purba, diplomat Indonesia yang merupakan putra terbaik dari Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara. Kepolisian Nasional Peru (PNP) pada Selasa (9/9/2025), berhasil membekuk lima orang tersangka yang diduga kuat sebagai pelaku penembakan keji di Lima, 1 September lalu.

Kelima tersangka, yang terdiri dari tiga warga negara Venezuela dan dua warga Kuba, diidentifikasi sebagai anggota jaringan kriminal berbahaya bernama "Los Maleantes del Cono" (Para Penjahat dari Selatan). Penangkapan ini menjadi jawaban atas doa dan desakan keadilan dari keluarga serta masyarakat Indonesia, khususnya dari Doloksanggul, Humbahas, tempat ayahanda almarhum, jurnalis Anton Anggiat Purba, menetap.

Dalam operasi penggerebekan yang dramatis, polisi Peru menyita barang bukti krusial, termasuk sepucuk pistol yang diyakini sebagai senjata pembunuhan, bahan peledak, narkoba, serta sepeda motor yang digunakan para pelaku untuk melarikan diri setelah menembak Zetro dari jarak dekat di depan mata istrinya.

Misteri Motif

Meski para pelaku telah tertangkap, motif di balik pembunuhan sadis ini masih menjadi misteri besar yang terus didalami oleh para penyelidik. Dua hipotesis utama kini menjadi fokus utama investigasi.

Pertama, dugaan adanya unsur balas dendam yang melibatkan pembunuh bayaran. Media terkemuka Peru, El Comercio dan La Republica, melaporkan adanya kemungkinan Zetro memiliki "masalah" di Indonesia sebelum bertugas di Lima. Spekulasi ini menguatkan dugaan bahwa pembunuhan ini telah direncanakan dari jauh dan bukan merupakan kejahatan jalanan biasa.

Hipotesis kedua yang tak kalah serius adalah keterlibatan Zetro dengan jaringan kriminal internasional yang bergerak di bidang eksploitasi seksual dan pemerasan. Polisi menemukan sejumlah nomor telepon wanita berkode Venezuela dan Kolombia di ponsel almarhum, yang diduga terkait dengan kelompok kriminal "One Family" pimpinan gembong berjuluk "El Chino".

Duka Mendalam

Kabar penangkapan pelaku disambut dengan kelegaan sekaligus duka yang masih menyelimuti tanah air. Jenazah Zetro Purba (40), yang meninggalkan seorang istri dan tiga anak, telah tiba di Indonesia pada 9 September dan dimakamkan di Tangerang Selatan pada 11 September 2025.

Tragedi ini memicu reaksi keras dari pemerintah dan parlemen Indonesia. Menteri Luar Negeri Sugiono mengecam keras insiden tersebut, sementara Wamenlu Anis Matta berjanji akan menjadikan kasus ini sebagai pelajaran untuk mengevaluasi dan memperkuat skema perlindungan bagi seluruh diplomat Indonesia di luar negeri.

Sorotan tajam datang dari anggota Komisi VI DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, yang mengkritik lemahnya alokasi anggaran perlindungan WNI. "Anggaran Dit. PWNI turun hampir 30% dalam RAPBN 2026. Ini ironis, padahal kita tahu Peru sedang mengalami krisis keamanan," ujarnya.

Peru memang tengah bergelut dengan gelombang kriminalitas yang tinggi. Angka pembunuhan di negara itu naik 20% pada awal 2025, memaksa Presiden Dina Boluarte memberlakukan status darurat di ibu kota Lima pada Maret lalu.

Presiden Boluarte secara pribadi telah menelepon Presiden Prabowo Subianto untuk menyampaikan belasungkawa mendalam dan berjanji akan mengusut tuntas kasus yang mencoreng citra keamanan negaranya ini.

Publik kini menanti hasil penyelidikan akhir dari kepolisian Peru untuk mengungkap siapa dalang sesungguhnya di balik pembunuhan Zetro Purba, putra Humbahas yang harus gugur saat menjalankan tugasnya untuk negara. (**)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru