Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 11 Maret 2026

Gelombang Protes Meluas di Iran: 36 Orang Tewas, Mossad Serukan Turun ke Jalan

Redaksi - Kamis, 08 Januari 2026 20:03 WIB
3.010 view
Gelombang Protes Meluas di Iran: 36 Orang Tewas, Mossad Serukan Turun ke Jalan
Foto: Dok/Int
Gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang melanda Iran sejak akhir Desember 2025 terus meluas dan memakan korban jiwa.

Teheran(harianSIB.com)

Gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang melanda Iran sejak akhir Desember 2025 terus meluas dan memakan korban jiwa. Kelompok hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 36 orang tewas dalam 10 hari terakhir aksi protes yang dipicu krisis ekonomi parah.

Dikutip dari berbagai sumber, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) mencatat, 34 korban jiwa merupakan demonstran sipil, sementara dua lainnya adalah anggota pasukan keamanan. Selain itu, lebih dari 60 demonstran dilaporkan terluka dan sebanyak 2.076 orang ditangkap. Aksi protes telah menyebar ke 27 dari total 31 provinsi di Iran.

Pemerintah Iran hingga kini belum merilis data resmi jumlah korban. Namun, otoritas mengakui tiga personel keamanan tewas dalam kerusuhan. BBC Persia menyatakan telah memverifikasi identitas dan kematian sedikitnya 20 orang.

Baca Juga:
Insiden terbaru terjadi pada Selasa malam, 6 Januari 2026. Media semi-resmi Iran melaporkan seorang polisi tewas ditembak oleh kelompok yang disebut sebagai "perusuh" di Malekshahi, Provinsi Ilam, Iran bagian barat. Wilayah tersebut menjadi salah satu titik protes paling intens dengan respons keras dari aparat keamanan.

Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan pasukan keamanan menembakkan gas air mata ke arah massa di kawasan Pasar Besar Teheran. Para pengunjuk rasa terdengar meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah dan anti-penguasa ulama. Aksi sporadis juga dilaporkan terjadi di sekitar Pasar Yaft Abad di selatan Teheran, pusat perbelanjaan Caterpillar di barat daya, serta persimpangan Azari.

Protes bermula pada 28 Desember 2025, ketika para pedagang di Teheran turun ke jalan menyusul anjloknya nilai tukar rial Iran ke level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat.

Inflasi yang mencapai sekitar 40 persen, sanksi internasional terkait program nuklir, praktik korupsi, serta buruknya pengelolaan ekonomi memperburuk kondisi masyarakat. Mahasiswa dan warga dari berbagai lapisan sosial kemudian bergabung, menyebabkan demonstrasi meluas ke puluhan kota.

Di Malekshahi, rekaman lain menunjukkan sejumlah bank dibakar. Massa terlihat merayakan aksi tersebut di tengah bara api dari perabotan dan ban yang dibakar.

Kelompok hak asasi manusia Kurdi, Hengaw, melaporkan sedikitnya 27 kematian terverifikasi, termasuk lima anak. Hengaw juga menuding pasukan keamanan menyerbu Rumah Sakit Imam Khomeini di Kota Ilam untuk menangkap demonstran yang terluka.

Sementara itu, media semi-resmi Iran melaporkan hanya tiga orang tewas, termasuk satu anggota pasukan keamanan, saat kelompok yang disebut "perusuh" mencoba menduduki fasilitas keamanan di wilayah tersebut.

Menanggapi kerusuhan di Provinsi Ilam, Presiden Iran Masoud Pezeshkian memerintahkan pembentukan delegasi khusus untuk melakukan investigasi.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan, "para perusuh harus ditempatkan pada tempatnya" dan menegaskan Iran tidak akan "menyerah kepada musuh".

Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, mengatakan, pemerintah akan mendengar keluhan sah masyarakat terkait persoalan mata pencaharian, namun menegaskan aparat tidak akan bersikap lunak terhadap pihak yang dianggap melakukan kerusuhan.

Dari luar negeri, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat, 2 Januari 2026, mengeluarkan peringatan keras dengan menyatakan Washington "siap siaga dan siap bertindak" apabila pasukan Iran membunuh demonstran damai.

Di tengah eskalasi tersebut, Badan Intelijen Israel, Mossad, mengirimkan pesan berbahasa Persia kepada demonstran Iran melalui media sosial. Dilansir The Jerusalem Post, Mossad menggunakan akun Twitter berbahasa Persia untuk mendorong warga Iran turun ke jalan menentang rezim. "Pergilah bersama-sama ke jalanan. Waktunya telah tiba," tulis Mossad.

Mossad juga menyatakan dukungannya terhadap para demonstran dan mengklaim berada "bersama Anda di lapangan", sebuah pengakuan terbuka yang jarang terjadi terkait aktivitas intelijen Israel di Iran.

Protes juga dilaporkan meluas di lingkungan kampus. Menurut laporan media asing seperti AP, The New York Times, dan Al Jazeera, unjuk rasa terjadi di sekitar 10 universitas, termasuk Universitas Teheran, Universitas Teknologi Sharif, dan Universitas Teknologi Isfahan. Mahasiswa dan pelaku usaha kecil menuntut pemerintah segera menstabilkan nilai tukar dan menerapkan kebijakan ekonomi yang transparan.

Gelombang protes kali ini disebut sebagai yang terbesar sejak demonstrasi massal pada 2022 menyusul kematian Mahsa Amini, yang saat itu menewaskan lebih dari 550 orang dan menyebabkan sekitar 20.000 orang ditangkap.

Hingga kini, situasi di Iran masih diliputi ketegangan dengan potensi eskalasi lebih lanjut seiring berlanjutnya krisis ekonomi dan politik. (*)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Rico Waas : Pencairan JHT BPJS Tenaga Kerja Eks PHL Tetap Dapat Dilakukan
Perayaan Natal Kedua di HKBP Sirantau Tanjungbalai Dirangkai Pemberian Bingkisan
Natal Perdana Paus Leo XIV di Vatikan, Serukan Kepedulian Bagi Sesama
Wali Kota dan Kapolres Pantau Ibadah Malam Natal di Tanjungbalai
Laut Berwarna Merah Darah di Pantai Hormuz Iran, Ini Faktanya
Paskibra 22 Kecamatan se-Deliserdang Meriahkan Hari Bela Negara
komentar
beritaTerbaru