Moskow (SIB)- Arab Saudi dan koalisi terus melancarkan serangan-serangan udara terhadap para pemberontak Syiah Houthi di Yaman. Hal itu membuat pemerintah Rusia risau karena Arab Saudi dan koalisi tidak berkonsultasi dengan Dewan Keamanan PBB sebelum melancarkan serangan tersebut. Rusia pun menyerukan negosiasi untuk menyelesaikan krisis Yaman.
"Saat ini operasi tersebut tidak punya landasan dalam hukum internasional. Tentunya kami agak risau, karena operasi itu dimulai tanpa konsultasi," ujar Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam wawancara dengan kantor berita Rusia, RIA-Novosti seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (7/4). Koalisi Arab Saudi bulan lalu memulai operasi militer terhadap pemberontak Houthi.
"Kami menghargai hubungan kami dengan Arab Saudi, dan dengan anggota-anggota koalisi lainnya, namun mereka datang ke Dewan Keamanan PBB setelah melakukannya, dan mulai meminta persetujuan atas apa yang telah mereka mulai," imbuh Lavrov. "Mustahil bagi kami untuk menyetujui satu pihak dalam konflik, dan secara praktis mengumumkan pihak lainnya melanggar hukum," tandasnya.
Rusia, salah satu negara anggota tetap DK PBB, telah menyerukan dewan tersebut untuk mengupayakan penghentian serangan Saudi dan koalisi demi alasan kemanusiaan. Menurut Lavrov, pihak-pihak yang bertikai di Yaman harus duduk bersama dalam perundingan. Lavrov pun menyerukan pemberontak Houthi untuk menghentikan pertempuran di Yaman selatan dan agar koalisi Arab menghentikan serangan-serangan udara. Ditegaskan Lavrov, situasi di Yaman "menciptakan perpecahan baru dan sangat dalam antara Sunni dan Syiah, hingga meningkatkan ketegangan di Teluk Persia."
Sementara itu otoritas Tiongkok untuk menutup sementara kantor konsulat dan kedutaannya menyusul pertempuran yang terus terjadi di Yaman. Kondisi keamanan di negara tersebut yang semakin memburuk menjadi alasan penutupan sementara ini.
Dua kapal perang Tiongkok sebelumnya, telah mengevakuasi 613 warga negara Tiongkok dan 279 warga negara asing dari wilayah Yaman. Momen ini merupakan yang pertama kalinya militer Tiongkok membantu negara lain dalam mengevakuasi warganya saat krisis internasional. "Merujuk pada semakin memburuknya situasi keamanan di Yaman, Tiongkok untuk sementara menutup kedutaannya dan juga konsulatnya di Aden," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Tiongkok.
Konflik di Yaman semakin meluas sejak tahun lalu, ketika pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran menguasai ibukota Sanaa, dan memaksa Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi mengungsi ke wilayah lain. Hingga akhirnya koalisi yang dipimpin Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap Houthi sejak pekan lalu.
Akhir-akhir ini, Tiongkok yang merupakan negara komunis, semakin aktif ikut serta dalam pemberian bantuan kemanusiaan dan pemulihan bencana di luar negeri, mengingat kepentingan ekonomi globalnya semakin meluas. Meskipun peran diplomat-diplomat Tiongkok sangat kecil di kawasan Timur Tengah, namun Tiongkok ikut menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya kekerasan di Yaman dan menyerukan solusi politik.
Lebih dari 540 Orang TewasPertempuran yang terjadi di Yaman masih terus berlangsung. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, lebih dari 540 orang tewas dalam konflik yang melanda Yaman sejak 19 Maret lalu. Sekitar 1.700 orang lainnya mengalami luka-luka akibat pertempuran yang terjadi antara pemberontak Houthi dengan koalisi yang dipimpin Arab Saudi, yang terus meluncurkan serangan udaranya.
"Lebih dari 540 orang tewas dan sekitar 1.700 orang lainnya luka-luka akibat konflik di Yaman sejak 19 Maret," terang juru bicara WHO, Christian Lindmeier kepada wartawan. Lindmeier menambahkan, bahwa jumlah tersebut tercatat oleh WHO hingga 6 April.
Secara terpisah, badan PBB lainnya, yakni UNICEF menyatakan, sedikitnya ada 74 anak-anak yang ikut menjadi korban tewas dan 44 anak lainnya menjadi korban luka dalam konflik di Yaman, tercatat sejak 26 Maret lalu. UNICEF memperkirakan jumlah tersebut masih akan bertambah.
Lebih dari 100 ribu orang, sebut UNICEF, kehilangan tempat tinggal akibat konflik tersebut. "Anak-anak membayar harga yang tidak layak untuk konflik ini," tutur perwakilan UNICEF untuk Yaman, Julen Harneis dalam pernyataannya.
"Mereka dibunuh, dilukai dan dipaksa kabur dari rumahnya, kesehatan mereka terancam dan pendidikan mereka terganggu. Anak-anak ini seharusnya mendapat penghormatan dan perlindungan khusus oleh semua pihak yang terlibat konflik, sejalan dengan hukum kemanusiaan internasional," imbuhnya.
Sedangkan juru bicara UNICEF, Christophe Boulierac menyebut, sekitar 1 juta anak di Yaman tidak bisa sekolah akibat konflik ini. Boulierac menjelaskan, penyebab tewasnya anak-anak di Yaman bisa dipicu oleh serangan langsung dan juga karena penyebab tidak langsung, yakni terkena dampak konflik yang memperburuk kesehatan dan kehidupan mereka.
Pertempuran yang semakin sengit di Yaman bagian selatan, mengambat upaya Palang Merah Internasional untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga Yaman. Diharapkan dalam dua hari mendatang, bantuan kemanusiaan tersebut bisa disalurkan dengan tepat.
(Detikcom/f)