Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 01 September 2026

BPSDM Dorong GAMKI Sumut Jadi Laboratorium Kepemimpinan Pemuda

Leo Bastari Bukit - Minggu, 30 Agustus 2026 19:40 WIB
349 view
BPSDM Dorong GAMKI Sumut Jadi Laboratorium Kepemimpinan Pemuda
Foto Dok/GAMKI Sumut
MATERI: Kepala BPSDM Sumut diwakili Kabid Pengembangan Kompetensi Manajerial Agus Nadeak menyampaikan materi bertajuk “Peran Strategis dan Peningkatan Kompetensi Pemuda dalam Pembangunan SDM Daerah: Mewujudkan Kepemimpinan Pemuda Kristen yang Transf

Medan(harianSIB.com)

Sebanyak 25 kabupaten/kota mengikuti Pendidikan Kader Tingkat Madya (PKTM) Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia Provinsi Sumatera Utara (DPD GAMKI Sumut), yang digelar selama dua hari, 28-29 Agustus 2026.

Kegiatan berlangsung di Aula Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sumut, Jalan Ngalengko, Kecamatan Medan Timur, Medan.

Kegiatan turut dihadiri Ketua DPD GAMKI Sumut Swangro Lumbanbatu ST MSi, Sekretaris DPD GAMKI Sumut Erwin Nopiter Situmorang, bersama jajaran pengurus dan Ketua Panitia PKTM DPD GAMKI Sumut 2026 Hamonangan Sinaga SPd MPd.

Pada hari kedua, Sabtu (29/8/2026), Kepala BPSDM Sumut diwakili Kabid Pengembangan Kompetensi Manajerial Agus Nadeak menyampaikan materi bertajuk "Peran Strategis dan Peningkatan Kompetensi Pemuda dalam Pembangunan SDM Daerah: Mewujudkan Kepemimpinan Pemuda Kristen yang Transformatif dan Inovatif."

Agus menegaskan pemuda memiliki posisi strategis dalam pembangunan daerah. Pemuda tidak hanya dipandang sebagai pewaris masa depan, tetapi juga sebagai aktor yang menentukan kualitas masa depan bangsa.

"Pemuda bukan hanya pewaris masa depan, tetapi penentu kualitas masa depan," ujar Agustinus dalam pemaparannya.

Menurutnya, pembangunan daerah pada dasarnya merupakan pembangunan sumber daya manusia. Karena itu, Sumut membutuhkan generasi muda yang memiliki karakter, kompetensi, produktivitas, kemampuan beradaptasi, inovasi dan kolaborasi.

Ia menyebutkan, pemuda saat ini menghadapi tantangan besar di tengah transformasi digital dan perkembangan artificial intelligence (AI).

Tantangan tersebut meliputi persaingan dunia kerja, perubahan jenis pekerjaan, kesenjangan kompetensi, misinformasi dan disinformasi, polarisasi serta persoalan karakter dan integritas.

Untuk menghadapi perubahan tersebut, pemuda harus memiliki kemampuan belajar secara berkelanjutan dengan prinsip learn, unlearn, dan relearn.

"Yang akan bertahan bukan hanya yang paling pintar, tetapi yang paling mampu belajar dan beradaptasi," katanya.

Agus juga menekankan pentingnya integritas sebagai fondasi kepemimpinan. Menurutnya, kompetensi tanpa integritas dapat menjadi sesuatu yang berbahaya. Integritas, lanjutnya, merupakan kesatuan antara nilai, pikiran, perkataan, tindakan dan tanggung jawab.

Seorang pemimpin harus jujur, konsisten, bertanggung jawab, berani mengakui kesalahan, tidak menyalahgunakan kepercayaan dan mengutamakan kepentingan bersama.

Khusus bagi pemuda Kristen, kepemimpinan harus diwujudkan melalui konsep servant leadership atau kepemimpinan yang melayani. "Kepemimpinan bukan terutama tentang jabatan dan kekuasaan, tetapi tentang visi, pengaruh, pelayanan, pemberdayaan, perubahan dan dampak," jelasnya.

Ia pun mengingatkan kader GAMKI agar tidak menunggu memiliki jabatan untuk mulai memimpin. Kepemimpinan dapat dimulai dengan melihat persoalan di sekitar, membangun visi, menggerakkan orang lain, melakukan perubahan dan menghasilkan dampak nyata.

Dalam pembangunan daerah, pemuda dapat berperan sebagai akselerator melalui berbagai bidang, seperti kewirausahaan, ekonomi kreatif, UMKM, teknologi, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, lingkungan dan pemerintahan.

"Masalah pembangunan bukan hanya untuk pemerintah. Masalah pembangunan adalah tanggung jawab bersama," tegasnya.

Agus juga mendorong GAMKI menjadi laboratorium kepemimpinan bagi kader muda. Organisasi kepemudaan harus menjadi tempat bagi kader untuk belajar mengambil keputusan, berkomunikasi, mengelola konflik, membangun tim, mengelola program dan sumber daya, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi kepemudaan, perguruan tinggi, dunia usaha, gereja atau lembaga keagamaan dan komunitas.

Organisasi kepemudaan, katanya, harus ditempatkan sebagai mitra strategis pembangunan, bukan sekadar penerima program.

Dalam PKTM tersebut, para kader juga ditantang menjalankan konsep "One Kader, One Initiative, One Impact." Setiap kader didorong memilih satu persoalan nyata di lingkungannya, merancang solusi dan menghasilkan dampak yang dapat diukur.

Inisiatif tersebut dapat berupa literasi digital, pendidikan anak, pemberdayaan UMKM, kewirausahaan pemuda, pelestarian lingkungan, penguatan masyarakat desa, gerakan antihak, digitalisasi organisasi, penguatan toleransi dan persaudaraan hingga pelayanan sosial.

Konsep tersebut dapat dijalankan melalui model 30-60-90 hari, yakni 30 hari mengidentifikasi persoalan, 60 hari melaksanakan solusi dan 90 hari mengukur hasil serta mendokumentasikan pembelajaran.

Menutup pemaparannya, Agus menyampaikan tujuh pesan kepada kader GAMKI, yakni berani memiliki visi besar, membangun kompetensi sebelum menuntut posisi, menjaga integritas ketika memperoleh kepercayaan, menjadikan organisasi sebagai laboratorium kepemimpinan, menjadi generasi yang menawarkan solusi, membangun kolaborasi lintas sektor dan generasi, serta mengukur kepemimpinan berdasarkan dampak yang ditinggalkan.

Semangat tersebut sejalan dengan tema "Pulihkan Bangsa Kami", yang menempatkan pemulihan bangsa sebagai gerakan yang dimulai dari pemulihan manusia.

"Jangan menunggu menjadi pemimpin untuk melakukan sesuatu yang besar. Mulailah melakukan sesuatu yang berarti, dan kepemimpinan akan tumbuh dari sana," pungkasnya.

Melalui PKTM ini, GAMKI Sumut diharapkan mampu melahirkan kader muda Kristen yang berkarakter, kompeten, berintegritas, inovatif dan kolaboratif, serta siap menjadi penggerak perubahan dan pembangunan Sumut. (*)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru