Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 01 September 2026

Vaksin Rabies di RS Pirngadi Medan Kembali Tersedia, Dinkes: Ada Enam Rabies Center

Leo Bastari Bukit - Senin, 31 Agustus 2026 18:54 WIB
319 view
Vaksin Rabies di RS Pirngadi Medan Kembali Tersedia, Dinkes: Ada Enam Rabies Center
Ilustrasi vaksin rabies

Medan(harianSIB.com)

Ketersediaan vaksin rabies di RSUD Dr Pirngadi Medan sempat mengalami keterlambatan akibat perubahan sistem pendataan dari pemerintah pusat. Namun, saat ini stok vaksin telah kembali tersedia dan pelayanan bagi pasien gigitan hewan penular rabies (GHPR) tetap berjalan.

Plt Direktur RSUD Dr Pirngadi Medan dr Mardohar Tambunan MKes mengatakan perubahan sistem pendataan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan distribusi vaksin sempat terlambat.

"Dulu untuk kasus rabies, kita tangani di rumah sakit dan vaksin sudah sesuai kebutuhan. Kenapa sempat terhenti karena ada perubahan sistem pendataan dari pusat. Sekarang selain NIK harus ada nomor telepon, sehingga prosesnya menjadi lebih lambat," ujar Mardohar, Senin (31/8/2026).

Ia menjelaskan, vaksin rabies merupakan program nasional yang distribusinya berasal dari pemerintah pusat, kemudian disalurkan melalui Dinas Kesehatan Provinsi Sumut dan diteruskan kepada kabupaten/kota.

"Informasinya perubahan sistem ini sedikit lambat, sehingga beberapa bulan terakhir vaksin datangnya agak terlambat dari Dinas Kesehatan Provinsi. Saat ini stok sudah ada, sambil melengkapi data yang diminta Kementerian Kesehatan melalui dinas terkait," katanya.

Mardohar memastikan RS Pirngadi tetap memberikan pelayanan bagi pasien yang mengalami gigitan hewan berisiko rabies. Namun, ketersediaan vaksin di rumah sakit bergantung pada distribusi dari instansi terkait.

"Kalau ada pasien tetap bisa kita tangani. Tapi rumah sakit menerima vaksin dari dinas terkait. Kalau tidak ada, bagaimana kami mencarinya, karena itu bukan tugas rumah sakit," jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya penanganan terhadap hewan yang terindikasi rabies. Menurutnya, pencegahan tidak cukup hanya dilakukan terhadap korban gigitan, tetapi juga harus menyasar sumber penularan.

"Anjing yang gila atau terindikasi rabies harus ada penanganan. Kita juga perlu langkah antisipasi agar tidak terus memakan korban," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Medan, dr Shereivia Faradillah MKM mengatakan masyarakat tidak perlu hanya mengandalkan RS Pirngadi untuk mendapatkan pelayanan rabies.

Saat ini terdapat enam fasilitas kesehatan yang menjadi pusat layanan rabies atau rabies center di Kota Medan. Selain RS Pirngadi, layanan tersebut tersedia di Puskesmas Bestari, Sunggal, Helvetia, Tuntungan, dan Johor.

"Jadi kalau vaksin rabies tidak tersedia di Pirngadi, masyarakat bisa mendapatkan pelayanan di rabies center lainnya. Tidak hanya bergantung pada satu rumah sakit," ujarnya.

Shereivia menjelaskan, pasien yang mengalami gigitan hewan penular rabies tidak selalu harus langsung mendapatkan suntikan vaksin pada saat kejadian. Penanganan awal yang paling penting adalah membersihkan luka secara menyeluruh.

"Kalau digigit hari ini tidak harus langsung disuntik. Penanganan awal dilakukan dengan pembersihan luka, pemberian antiseptik, kemudian dilakukan penilaian apakah gigitan tersebut berisiko atau tidak sesuai SOP Kementerian Kesehatan," katanya.

Penilaian tersebut mempertimbangkan lokasi gigitan dan kondisi hewan yang menggigit. Gigitan pada area wajah dan ujung jari termasuk yang memiliki risiko lebih tinggi. Petugas juga akan melakukan observasi terhadap hewan apabila memungkinkan.

"Masa inkubasi sampai muncul gejala biasanya kita lihat sekitar 14 hari. Hewannya juga harus diobservasi. Kalau hewan peliharaan mati, barulah dilakukan penyuntikan. Kalau hewannya tidak mati, tidak diberikan suntikan," jelasnya.

Menurut Shereivia, distribusi vaksin dilakukan pemerintah pusat melalui Dinas Kesehatan Provinsi Sumut, kemudian disalurkan kepada kabupaten/kota berdasarkan jumlah kasus.

"Kabupaten/kota mendapatkan vaksin dari provinsi sesuai distribusi dan jumlah kasus. Kota Medan termasuk yang kasusnya cukup banyak, sehingga vaksin harus dibagi ke beberapa rabies center," katanya.

Ia mengatakan penetapan lima puskesmas sebagai rabies center dilakukan dengan mempertimbangkan wilayah pelayanan dan jumlah kasus agar masyarakat dapat memperoleh akses pelayanan yang lebih dekat.

Terkait ketersediaan vaksin di RS Pirngadi yang terkadang cepat habis, Shereivia menyebut kondisi itu tidak terlepas dari status rumah sakit tersebut sebagai fasilitas pelayanan 24 jam dan rujukan pasien dari berbagai daerah.

"RS Pirngadi sering menjadi rujukan karena buka 24 jam dan bisa melayani siapa saja dari daerah mana pun. Sementara vaksin yang diberikan provinsi merupakan alokasi untuk masyarakat Kota Medan," ujarnya.

Karena itu, pasien dari luar Kota Medan seharusnya mendapatkan vaksin sesuai alokasi dari kabupaten/kota asalnya.

Shereivia menambahkan, seluruh pasien juga tidak dapat diarahkan ke satu rabies center karena setiap fasilitas memiliki pembagian pelayanan, baik bagi pasien baru maupun pasien lanjutan.

"Setiap rabies center sudah memiliki peruntukannya. Karena itu masyarakat tidak perlu hanya datang ke Pirngadi, tetapi bisa memanfaatkan rabies center yang lebih dekat dengan wilayah tempat tinggalnya," pungkasnya. (*)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru