Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 16 Agustus 2026

Sugianto Makmur : Ingin Sejahtera, Petani Harus Lebih Kreatif Kelola Lahan

- Selasa, 19 Maret 2019 21:41 WIB
919 view
Sugianto Makmur : Ingin Sejahtera, Petani Harus Lebih Kreatif Kelola Lahan
SIB/Dok
BIMBINGAN : Sugianto Makmur (kiri) memberikan bimbingan kepada petani di Pusat Pelatihan Petani dan Peternak Terpadu Sei Mancirim, Deli Serdang.
Medan (SIB) -Indonesia dikenal negara agraris, tetapi masih banyak bahan pangan diimpor dari luar negeri. Keprihatinan atas hal ini membuat Sugianto Makmur (47) merasa perlu berkontribusi dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama yang masih mau bertahan dengan lahan pertaniannya. "Supaya tidak mudah tergoda untuk melakukan alih fungsi lahan pertaniannya menjadi perkebunan kelapa sawit," kata calon legislatif dari PDI Perjuangan, Dapil 12 (Binjai dan Langkat) untuk DPRDSU ini, Selasa di Medan.

Menurut dia, kalau petani ingin sejahtera, maka petani harus lebih kreatif untuk mengelola lahannya. Dari data Sawit Watch, luas perkebunan sawit di Indonesia saat ini mencapai 15,5 juta Ha, dengan laju ekspansi mencapai 500 ribu ha/tahun. Laju ekspansi yang cukup tinggi ini berdampak pada para petani pangan. Hal ini disebabkan alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit, yang menyebabkan tersingkirnya para petani pangan. "Kita sudah merdeka secara politik. Tetapi, cita-cita negara kita adalah mencapai masyarakat adil dan makmur, itu belum tercapai secara merata," papar suami dari Juliana Henny.

Dia mengatakan, dia ikut menjadi calon legislatif dari PDI Perjuangan untuk memberikan perhatian dan pendampingan kepada masyarakat, khususnya petani. "Menurut ideologi partai, bahwa petani itu harus kaya. Dan sangatlah penting masyarakat petani menjadi kaya dari hasil usaha taninya," ujarnya.

Menurut dia, ketika masyarakat petani kaya, maka hasil perindustrian perkotaan akan bisa dibeli (daya beli semakin baik) yang mengakibatkan industri juga berkembang, jumlah pengangguran berkurang, tingkat kriminalitas menurun. "Sudah pasti, impor juga akan berkurang. Kalau kita berbicara dalam konteks Indonesia, maka pemerintah lah yang harus membuat petani kaya. Tapi dengan reformasi cara berpikir tentang pertanian," tandasnya.

Bila tidak ada perbaikan, katanya, maka petani akan selamanya miskin dan susah. Itu sebabnya keterlibatannya dalam partai, membuatnya jadi semakin mantap untuk membuka Pusat Pelatihan Petani dan Peternak Terpadu. "Dalam sebutan khas partai, program ini kami sebut Sekolah Lapang. Yang dalam pelaksanaannya menggunakan dana sendiri, dimulai di Sei Mencirim, Paya Geli, Deli Serdang di lahan seluas 11.000 m2, membuat suatu percontohan yang membangun kemandirian petani dan bisa berpenghasilan lebih baik dari sebelumnya," tandasnya.

Program Sekolah Lapang, menurut dia, menyangkut rumput unggul, kolam ikan mandiri, black soldier fly sebagai sumber protein hewani, sorghum, jagung MSP dan azolla. Jenis ternak yang dipelihara adalah kerbau murrah, domba merrino, kambing ettawa, ayam kampung dan kelinci. Program yang bisa dibawa petani atau peternak tergantung kebutuhan mereka. (A11/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru