Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 09 Juni 2026
TAJUK RENCANA

Setengah Abad Harian SIB

Redaksi - Sabtu, 09 Mei 2020 10:29 WIB
1.428 view
Setengah Abad Harian SIB
"Semua ada waktunya". Suatu ungkapan yang sering kita dengar dan selalu up-to-date pada momen-momen tertentu sepanjang masa.

Ada waktu lahir, waktu bertumbuh dan berkembang, ada juga waktu susah dan waktu senang.

Demikian halnya Harian Sinar Indonesia Baru (SIB), perusahaan pers (media cetak) yang didirikan Bapak DR GM Panggabean (+) setengah abad lalu (9 Mei 1970), juga sudah melalui waktu-waktu tersebut di atas.

Dengan bermodalkan doa, idealisme, semangat dan etos kerja yang tinggi ditambah mesin ketik seadanya, Harian SIB bisa hadir mewarnai media cetak kala itu dan berhasil booming. Berita dan cerita bersambung setiap hari sangat ditunggu-tunggu pembaca dan menjadi bahan perbincangan masyarakat sampai saat ini.

Secara ekonomi hasilnya cukup menggembirakan karena SIB yang tadinya dicetak di perusahaan saingan akhirnya memiliki mesin cetak sendiri. Oplah dan cakupan sirkulasi juga meningkat dan meluas. Tidak hanya di Sumut tetapi juga di kota-kota besar Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Jayapura sehingga berhasil meraih predikat koran oplah terbesar di Sumatera.

Masa kejayaan itu juga diwarnai tantangan yang silih berganti. Di antaranya pernah dibredel selama 3 minggu pada masa orde baru karena pemberitaan. Juga diserang preman dengan senjata api pada masa reformasi, diduga untuk melemahkan SIB terkait berita-berita judi togel yang marak di Sumut, 22 April 2004. SIB yang terkenal anti judi tidak takut, dan tidak mau mengecewakan masyarakat, sehingga tetap memberitakan hingga judi togel bersih di Sumut pada masa Kapolri Jenderal Pol Sutanto yang juga sahabat pak GM.

SIB juga nyaris dipaksa tutup dengan tekanan massa yang diduga didalangi mafia judi memanfaatkan kelengahan dalam penerbitan karikatur "Nasib Si Suar Sair" dengan mengkait-kaitkannya dengan unsur SARA. Namun SIB tetap hidup, kecuali karikaturnya yang terpaksa diistirahatkan.

Selanjutnya juga diancam "badai" hebat saat mendukung aspirasi masyarakat untuk percepatan pemerataan pembangunan melalui pembentukan Provinsi Tapanuli. SIB harus membayar mahal, hingga Wakil Pemimpin Umum SIB yang juga putra pak GM, yaitu Ir GM Chandra Panggabean masuk hotel prodeo akibat aksi unjukrasa di DPRDSU pada 3 Pebruari 2009. Pak GM yang pada saat itu menjalani perobatan di Singapura akhirnya hampir 2 tahun bertetap di sana hingga meninggal dunia 20 Januari 2011.

Namun selama hidupnya, bagi pak GM tantangan itu tidak membuatnya gentar, apalagi takut. Masalah itu dianggap seperti makanan sehari-hari yang membuat hidup bergairah dan tetap semangat menyuarakan suara masyarakat pembaca SIB.

Menurutnya, selama perusahaan pers mempedomani UU Pers (UU No.40/1999) dan wartawan mematuhi Kode Etik Jurnalistik, tidak perlu takut soal pemberitaan. Sehingga pak GM dan Harian SIB selalu disegani dan diakui kawan maupun lawan dalam menjalankan visi misinya "Untuk Demokrasi Persatuan dan Pembangunan".

Penasihat SIB, Pdt DR MD Wakkary, yang juga pimpinan GPdI, teman seperjuangan sekaligus mitra pak GM mengelola SIB sejak berdiri, saat dikunjungi Panitia HUT ke-50 SIB baru-baru ini di kediamannya, bersaksi sambil menitikkan air mata haru, bahwa SIB bisa eksis terbit setiap hari hingga di usia 50 tahun merupakan suatu mukjizat.

Tantangan pers memang akan selalu ada. Kalau di masa Pak GM, cenderung sebagai pers perjuangan, maka di era Revolusi Industri 4.0 saat ini, sarat persaingan dengan media yang mengandalkan teknologi digital (online) yang jauh lebih efisien. Persaingan ini membuat banyak media cetak kolaps.

Harian SIB di usia 50 tahun bersamaan dengan pandemi Covid-19 saat ini, juga sangat merasakan dampaknya. Namun manajemen berprinsip lebih baik kalah berjuang daripada menyerah sebelum berjuang, agar SIB tetap bisa menemui pembacanya setiap pagi di masa-masa sulit saat ini.

Maka melalui Pemimpin Redaksi GM Immanuel Panggabean, manajemen mengambil keputusan bijak, mengurangi jumlah halaman tanpa mengurangi konten berita dan efisiensi jam kerja karyawan secara bergiliran.

Sebelumnya juga pemimpin redaksi sudah mempersiapkan dengan litbang SIB, dan pada usianya yang ke-50, SIB melakukan transformasi dengan meluncurkan media digital otonom "hariansib.com" dimana pengunjungnya tampak terus meningkat setiap hari.

Sehingga SIB online akan bersinergi dengan SIB cetak menyajikan informasi terkini (up to date). Dengan transformasi ini, maka SIB cetak akan "diinstal ulang" untuk menyajikan berita secara lengkap (komprehensif) dan sekaligus akan menjadi bahan referensi bagi pembaca. Sehingga motto "SIB Bukan Sekedar Berita" tetap up to date sampai saat ini.

Itulah sekilas SIB masa lalu, masa kini dan masa depan. Akhir kata, manajemen dan kami yang selama inibergelut mengelola SIB menyampaikan terima kasih kepada pembaca, narasumber, penulis, pelanggan, agen, loper dan masyarakat pada umumnya. Last but not least, apresiasi kami juga tertuju kepada pemerintah yang terus mengayomi kehidupan masyarakatnya dengan harus berdampingan dengan juru warta dalam era transparansi.

Kami menyadari bahwa "Tak Ada Gading yang Tak Retak," sehingga penerbitan dan penyajian berita pun juga belum sempurna.

Bahkan mungkin masih ada wartawan dan koresponden SIB yang "nakal" di luar kendali kami. Untuk itu kami mohon maaf dan tetap mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga SIB bermanfaat bagi masyarakat.

Di akhir kata, sebagai masyarakat nusantara yang kaya budaya, kami sampaikan ungkapan dalam budaya Batak; Sititi ma sigompa, golang-golang pangarahutna. Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna.

(Sititi adalah sigompa, gelang-gelang pengikatnya. Meskipun tidak seberapa sajian kami, kiranya berlimpah berkah).
Horas..., horas..., horas!
Dirgahayu 50 Tahun Harian SIB. (*)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru