Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 30 Agustus 2026

‎Mekhikhis, Tradisi Bakar Lemang Masyarakat Alas Sambut Maulid Nabi

Indah Apriliana dewi Ginting - Minggu, 30 Agustus 2026 19:07 WIB
152 view
‎Mekhikhis, Tradisi Bakar Lemang Masyarakat Alas Sambut Maulid Nabi
harianSIB.com/Ind‎
Bakar lemang tradisi suku Alas menyambut perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

‎Aceh(harianSIB.com)

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Tradisi yang dikenal sebagai Khanduri Maulid ini biasanya digelar secara besar-besaran selama tiga bulan, dimulai sejak Rabiul Awal. Perayaan umumnya berlangsung di meunasah atau masjid dan melibatkan seluruh warga gampong atau desa.

Di Aceh Tenggara (Agara), masyarakat memiliki tradisi khas dalam menyambut Maulid Nabi, yakni mekhikhis atau memasak lemang. Tradisi ini menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat suku Alas yang terus dipertahankan secara turun-temurun.

Lemang merupakan kuliner tradisional suku Alas yang telah dikenal sejak dahulu. Hingga kini, keberadaannya tetap terjaga dan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial serta budaya masyarakat Aceh Tenggara.

Baca Juga:
Marzuki Ahmad Cut, warga asli Aceh Tenggara, menjelaskan, petasak khikhis atau kegiatan memasak lemang dilakukan secara berkelompok. Satu kelompok biasanya terdiri atas dua hingga empat keluarga, sesuai kesepakatan masyarakat. Setiap anggota kelompok kemudian berbagi tugas. Ada yang menyiapkan beras pulut, santan, daun pisang, bambu, hingga kayu bakar atau seban yang digunakan untuk memasak lemang.

"Semakin besar kelompok yang ikut berpartisipasi, semakin banyak pula jumlah lemang yang akan disajikan. Mekhikhis memiliki makna yang luar biasa, salah satunya menjalin silaturahmi yang kuat di antara masyarakat dengan filosofi saling berbagi," ujar Marzuki.

Setelah lemang matang, makanan tersebut kemudian dibagikan kepada tetangga dan sanak saudara. Sebaliknya, mereka juga akan saling memberikan lemang. Meski jenis makanan yang diberikan sama dan masing-masing keluarga mungkin telah memilikinya, pemberian tersebut tetap diterima dengan penuh suka cita.

Menurut Marzuki, mekhikhis bukan sekadar kegiatan memasak atau ajang menunjukkan hasil masakan. Tradisi tersebut memiliki nilai filosofis yang kuat, yakni nilai syariat serta nilai adat dan budaya.

"Nilai syariat memiliki makna bahwa mekhikhis merupakan ucapan syukur dan terima kasih masyarakat Agara atas datangnya agama Islam di Tanoh Alas," katanya.

Tradisi petasak khikhis biasanya dilaksanakan dua kali dalam setahun. Pertama, pada 11 Rabiul Awal, atau sehari sebelum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi serupa kembali dilakukan pada 9 Zulhijjah, sehari sebelum Hari Raya Iduladha. Pada momen ini, masyarakat memasak lemang sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas terlaksananya rukun Islam kelima, meski tidak semua orang memiliki kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Melalui tradisi tersebut, masyarakat Alas tidak hanya menjaga warisan kuliner leluhur, tetapi juga merawat nilai kebersamaan, silaturahmi, rasa syukur, dan semangat berbagi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. (*)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Kasdim 0108/Agara: Aceh Tenggara Jadi Pilot Project Koperasi Desa Merah Putih di Aceh
Pesta Kerja Rani GBKP Lawe Desky Dihadiri Anggota DPRK Agara
Pembangunan Lods Pasar Berbiaya Belasan Miliar Rupiah di Agara Terkesan Dipaksakan
Kodim Agara Adakan Lomba Desa Mandiri
Babinsa Agara Bantu Petani Panen Padi
Petani Mengeluh, Pupuk Langka di Agara
komentar
beritaTerbaru