Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 31 Agustus 2026

Kekerasan Sektarian di Myanmar, 2 Orang Tewas

- Jumat, 04 Juli 2014 19:53 WIB
397 view
Kekerasan Sektarian di Myanmar, 2 Orang Tewas
Yangon (SIB)- Kepolisian Myanmar, Kamis (3/7), mengatakan dua orang pria tewas di tengah terus berlanjutnya kekerasan sektarian di kota kedua terbesar di negeri itu, Mandalay. Seorang warga Buddha meninggal karena terkena tebasan pedang warga muslim, sementara seorang warga muslim tewas dalam perjalanan menuju masjid saat akan menunaikan ibadah shalat subuh. Untuk mencegah kericuhan meluas, pemerintah memberlakukan jam malam.

Bentrok pertama kali terjadi Selasa (1/7) malam ketika kerumunan orang merusak pertokoan muslim dan sebuah masjid, mencederai lima orang.

Kekerasan dipicu berita yang beredar di media sosial bahwa seorang wanita Buddha diperkosa  seorang atau lebih pria Muslim.

Tulisan tersebut kemudian ditempatkan juga pada halaman Facebook salah satu biksu kontroversial Mandalay. Ashin Wirathu adalah pimpinan kelompok kontroversial 969 dan sebelumnya pernah dipenjara karena dianggap memicu permusuhan keagamaan. Kelompok 969 menolak perluasan Islam di Myanmar.

Pada malam pertama kekerasan, polisi mengatakan mereka menggunakan peluru karet untuk membubarkan ratusan perusuh bersenjatakan batu dan pisau, melukai lima orang. Ketertiban akhirnya pulih hari Rabu, tetapi kerusuhan pecah lagi pada malam hari, menyebabkan seorang penganut Buddha dan seorang muslim tewas.

The government has faced international criticism for failing to act strongly to stop the violence, which in Rakhine state reportedly occurred in several cases as security forces looked on. So far, the government has not commented on the Mandalay attacks.

Ini merupakan kericuhan pertama yang pecah di Mandalay, kota terbesar kedua dan pusat ekonomi penting yang juga adalah pusat budaya Buddha.

Presiden Thein Sein dalam pidatonya menekankan pentingnya stabilitas keamanan. “Agar reformasi berhasil, saya mendesak semua orang menghindari sikap yang memicu kebencian antar sesama warga,” jelasnya.

Myanmar telah mengalami gelombang kekerasan secara periodik anti-Muslim sejak bulan Juni 2012, ketika kerusuhan pecah setelah terjadinya sengketa sektarian antara mayoritas umat Budha dan Muslim minoritas Rohingya di negara bagian Rakhine.

Sejak itu kekerasan telah menyebar di tempat lain, menewaskan sedikitnya 200 orang, sebagian besar umat Islam. Puluhan ribu orang juga telah kehilangan tempat tinggal. Kekerasan sektarian besar-besaran belum mencapai Mandalay, pusat bersejarah agama Buddha, di mana kedua komunitas agama tersebut pada umumnya telah hidup dalam damai satu sama lain. Myanmar, negara berpenduduk 60 juta orang, sudah mulai pulih dari 50 tahun pemerintahan militer yang langsung dan keras, yang secara resmi berakhir pada tahun 2011. (AP/R15/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru