Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 31 Agustus 2026

Presiden SBY: Agama Harus Utamakan Nilai, Ketimbang Simbol

- Jumat, 04 Juli 2014 20:01 WIB
305 view
Presiden SBY: Agama Harus Utamakan Nilai, Ketimbang Simbol
Jakarta (SIB)-  Presiden Republik Indonesia Prof. Dr Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, semua agama memiliki kebajikan spritual dan yang disiapkan bukan hanya pemeluk agamanya, dan harus dilihat sebagai nilai bukan sebagai simbol semata.

"Kalau dilihat simbol pasti berbeda satu sama lain. Simbol itu bisa memecah, tapi kalau nilai itu bisa menyatukan,"kata Presiden SBY, dalam sambutan buka puasa, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Kamis (3/7).

Agama bila dibangun dengan nilai maka akan terwujud semangat toleransi dalam kebajikan dan kebaikan bersama antara agama yang satu dengan yang lainnya.

"Agama dipandang sebagai nilai maka bisa membangun harmoni, dan itu ukuran hakiki meletakan agama sebagai nilai bukan simbol,"tutur Presiden SBY.
Dalam buka puasa bersama hadir Ibu Negara Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono dan Isteri Herawaty Boediono, Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko, dan Kepala Staf TNI AD Budiman, Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI AL Marsetio, Kepala Staf AU Marsekal TNI IB Putu Dunia, dan jajaran TNI.

"Kita bersyukur Indonesia menjadikan agama dengan damai, dan memelihara ketentraman, antara Islam, Hindu dan agama-agama lain,"katanya.

Dia mengemukakan, di berbagai negara-negara Islam terjadi pergolakan karena perbedaan simbol, dan bukan karena nilai, seperti di Irak, Pakistan, Afganistan, dan daerah Timur lainnya.

Katanya, Indonesia tidak terjadi pergolakan karena hakekatnya agama sebagai segi kebajikan rahmatin alamin, sehingga terbangun kententraman dan kedamaian. "Apalagi konflik sekarang keyakinan terjadi dimana-mana, dan akarnya bagaimana memahami agama dan peribadatan antara agama satu dengan yang lain,"tambahnya.

Lebih lanjut Presiden SBY mengemukakan, lima tahun terakhir ketika ekonomi kuat, maka pemerintah melakukan memoderisasi persenjataan TNI. Dengan memoderisasi persenjataan maka pertahanan TNI makin kuat dan makin moderen.

"Bangsa Indonesia  cinta damai, dan kita bukan bangsa agresif yang memamerkan kekuatan, meski demikian kita cinta akan kedaulatan wilayah kita,"kata Presiden.

Menurutnya dengan pembangunan kekuatan kekuatan TNI maka kekuatan lawan akan gentar, namun Indonesia akan terus membangun kekuatan bukan untuk memamerkan kekuatan tersebut akan tetapi kekuatan lebih pada smart power.

"Sesungguhnya bangsa kita telah membangun efek tengah, dan kita tidak dilecehkan dan diganggu kekuatan lain, dan Indonesia menjadi contoh untuk membangun kawasan dan perdamaian dunia yang elok dengan kekuatan smart power,"paparnya.

Menurutnya, Indoesia siap berperang bila ada kedaulatan mengancam NKRI. Maka Presiden berharap di seluruh tanah air prajurit di dalam jiwanya percaya diri dan rendah hati. "Dengan begitu kawasan dunia agar menyampaikan peran yang baik, den tepat,"tambahnya.

Dia mengimbau, TNI dimasa kini dan masa depan haruslah ditakuti lawan, disegani kawan, dan dicintai rakyat, kalau itu sudah  ada di TNI, maka TNI akan menjadi kekuatan yang tangguh oleh bangsa dan negaranya.

"Dan jangan terlalu gunakan hard power. Tapi kalau melindungi nasinal kita tanpa gunaka milter, maka kita gunakan smart power,dengan strategi TNI ke depan,"pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengemukakan, Presiden SBY dalam kepemimpinannya sangat baik telah membangun TNI yang sangat tangguh, dan dirasakan bagi prajurit TNI.

"Dan saat ini merasakan bagian perkembangan kekuatan,dan perkembangan kondisi Laut China Selatan yang instabilitas, saya tidak bisa membayanghkan Laut China Selatan seperti itu dengan alut sista kita seperti yang lalu,"ungkap Moeldoko. (G2/c)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru