Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 28 Agustus 2026

Pemerintah RI Sulit Kembangkan Gas dari Batu Bara yang Melimpah

*Dahlan: Kenapa Kita Impor LPG?
- Rabu, 26 Maret 2014 22:11 WIB
512 view
 Pemerintah RI Sulit Kembangkan Gas dari Batu Bara yang Melimpah
Jakarta (SIB)- Pemerintah masih kewalahan untuk mengembangkan Coal Bed Methane (CBM) atau gas di dalam batu bara. Padahal, selain banyak gas bumi, Indonesia juga memiliki banyak stok batu bara. Tetapi masih suka mengimpor BBM.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mengatakan, potensi CBM di dalam negeri mencapai 400 triliun kaki kubik (tcf). Namun yang direalisasikan hingga saat ini masih sedikit.

"Potensi sangat besar yaitu 400 tcf. Tapi sekarang masih sedikit. Padahal future dari gas itu di situ, gas yang ada itu makin lama makin sedikit," ungkap Susilo dalam sambutannya pada acara International Indonesia CBM (IndoCBM), di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa (25/3).

Susilo mengungkapkan,kendala pertama yang membuat pengembangan CBM masih sangat minim adalah peralatan yang tidak mencukupi, kedua adalah harga jual CBM yang masih belum mencapai keekonomian.

"Kelangkaan peralatan. Ini tidak ada peralatan yang lengkap. Jadi infrastruktur peralatan itu kendala yang pertama. Kemudian harganya (CBM) relatif lebih murah atau tidak mencapai keekonomian," ujarnya.

Kendala selanjutnya adalah tenaga kerja yang tidak mencukupi. Untuk mengendalikan rig (alat bor), menurutnya, harus dilakukan oleh tenaga kerja dengan kemampuan yang handal.

"Makanya, saya minta Badiklat ESDM dan IATMI (ikatan ahli teknik perminyakan indonesia) agar memberikan pelatihan kepada tenaga kerja di Indonesia. Karena sebenarnya kebutuhan tekanan kerja di sini besar, ada ribuan. Tapi, kalau skill-nya nggak cukup, kan sulit," sebutnya.

Di Indonesia, eksplorasi CBM baru mulai pada tahun 2008. Sampai saat ini sudah ada 54 perusahaan yang aktif dalam pengeboran CBM pada berbagai lokasi. Namun yang baru menjadi gas baru 0,5 mmscfd dari dua sumur.

Susilo menargetkan, pada tahun 2014 setidaknya ada pertambahan sumur yang dieksplorasi. Sehingga total menjadi 40 sumur CBM.

"Tahun ini ditargetkan paling tidak ada 40 sumur CBM. Sementara untuk produksi gasnya, belum bertambah," kata Susilo.

Ini disebabkan, produksi CBM membutuhkan waktu sampai dengan 7 tahun. Berbeda dengan minyak yang bisa lebih cepat pada prosesnya.

"Kalau CBM itu dibor pelan-pelan, airnya di pompa dulu, tekanannya hampir nggak ada, nah tunggu sampai gasnya keluar perlahan. Bukan langsung muncrat gitu," pungkasnya.

CBM sama seperti gas alam konvensional yang kita kenal saat ini, namun perbedaannya adalah CBM berasosiasi dengan batu bara sebagai source rock dan reservoir-nya.

CBM dapat dijual langsung sebagai gas alam, dijadikan energi dan sebagai bahan baku industri. Eksploitasi CBM tidak akan merubah kualitas matrik batu bara dan menguntungkan para penambang batu bara.

Karena gas emisinya telah dimanfaatkan sehingga lapisan batu bara tersebut menjadi aman untuk di tambang, selain itu CBM ini termasuk salah satu sumber energi yang ramah lingkungan.

Kenapa Kita Impor LPG ?

Indonesia sampai saat ini tercatat sebagai salah satu eksportir gas bumi dalam bentuk Liquefied natural gas (LNG), yang menandakan berlimpahnya gas di dalam negeri. Sementara untuk kebutuhan energi, Indonesia justru mengimpor banyak Liquefied petroleum gas (LPG) dan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Hal tersebut menjadi pertanyaan Menteri BUMN Dahlan Iskan di sela acara peresmian jaringan pipa gas bumi ke perumahan di Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (25/3).

"Nah, kalau  LPG dan BBM itu banyak sekali yang impor, kenapa kita impor? Kalau ternyata punya gas sendiri?" kata Dahlan.

Dahlan mengatakan, sudah saatnya penggunaan gas bumi digalakkan, sehingga penggunaan BBM dan LPG yang dipasok sebagian besar dari impor itu berkurang, bahkan jika perlu ditinggalkan seiring makin banyaknya pemanfaatan gas bumi, baik untuk transportasi maupun bahan bakar memasak rumah tangga.

"Gas ini harus banyak kita pakai, oleh karena itu ini terus kita galakkan. Ini akan menghemat uang negara. Kalau nggak import (BBM dan LPG) kita menghemat devisa, hemat subsidi, karena sekarang BBM impor, LPG juga kita impor sedangkan gas bumi tidak impor," tutupnya.

Seperti diketahui, kebutuhan BBM nasional mencapai 1,5 juta kilo liter (KL)/hari, sedangkan produksi minyak mentah sendiri saat ini hanya 795.000 barel/hari, itu belum dipotong bagian perusahaan minyak paling tidak sebanyak 15%. Artinya sisanya harus diimpor dari negara lain.

Begitu pula dengan LPG, hampir 70% dari kebutuhan hampir 1 juta metrik ton/tahun dipasok dari impor. Sedangkan produksi gas bumi nasional saat ini masih 49% diekspor ke luar negeri karena tidak terserap konsumen dalam negeri. Tidak terserapnya gas ini karena masalah klasik, yakni kurangnya infrastruktur pipa gas yang menyalurkan gas dari sumur gas ke konsumen. (dtf/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru