Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 28 Agustus 2026

Parpol Miskin Strategi, Pertumbuhan Ekonomi Tak Pro Penciptaan Lapangan Kerja

- Sabtu, 29 Maret 2014 19:52 WIB
879 view
 Parpol Miskin Strategi, Pertumbuhan Ekonomi Tak Pro Penciptaan Lapangan Kerja
Jakarta (SIB)- Partai politik tidak punya strategi komprehensif tentang penciptaan lapangan kerja. Padahal, merekalah yang banyak menentukan kebijakan pemerintah. Faktanya, kebijakan pertumbuhan ekonomi sepuluh tahun terakhir gagal menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Hendri Saparini dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (27/3), menyatakan, rata-rata partai politik (parpol) tidak mempunyai strategi ekonomi yang komprehensif dalam menciptakan lapangan kerja. Dari kajian yang dilakukan CORE terhadap 14 parpol peserta Pemilihan Umum 2014, strategi mereka amat global.

CORE mendefinisikan strategi penciptaan lapangan kerja bisa disebut komprehensif jika meliputi tiga hal. Hal itu adalah target, konsep untuk mencapai target, serta dukungan strategi dan kebijakan komprehensif.

“Pemahaman parpol tentang strategi kebijakan penciptaan lapangan kerja tidak jelas. Mereka tahunya hanya yang bersifat umum. Ini kan pasti tidak akan menyelesaikan persoalan,” kata Hendri.

Peneliti senior Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Siti Zuhro, dalam kesempatan yang sama, mengatakan, semua parpol pasti menjanjikan peningkatan kesejahteraan rakyat. Salah satu indikator peningkatan kesejahteraan rakyat adalah penciptaan lapangan kerja.

Dalam struktur negara demokrasi, parpol merupakan salah satu pilar utamanya. Oleh sebab itu, Siti berpendapat, parpol semestinya menjadi lokomotif dalam mendorong kebijakan penciptaan lapangan kerja.

Namun, faktanya, parpol belum bersungguh-sungguh mengarusutamakan isu penciptaan lapangan kerja untuk mengurangi kemiskinan dan tingkat pengangguran. “Buat apa pemilu kalau tidak menyejahterakan rakyat,” kata Siti.

Beberapa waktu lalu, Guru Besar Ekonomi (Emeritus) Universitas Boston, Amerika Serikat, Gustav F Papanek, dalam kunjungannya ke Kompas, menyatakan, model bantuan sosial apa pun tidak menyelesaikan persoalan kemiskinan sampai kapan pun. Satu-satunya alat untuk memberantas kemiskinan yang bersifat masif dan sistemik adalah melalui penciptaan lapangan kerja sebanyak-banyaknya.

Menurut Hendri, persoalan penciptaan lapangan kerja telah dipahami oleh sejumlah pihak. Perbedaannya adalah paradigma penyelesaiannya.

Selama berpuluh-puluh tahun, pemerintah menggunakan paradigma pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Faktanya, ini gagal menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya.

Dalam sepuluh tahun terakhir, penyerapan tenaga kerja kian merosot. Tahun 2008, 1 persen pertumbuhan ekonomi menyerap 433.000 tenaga kerja. Tahun 2012, 1 persen pertumbuhan ekonomi menyerap 164.000 tenaga kerja.

“Saatnyalah bagi Indonesia mengubah orientasi. Sudah terbukti bahwa model pertumbuhan ekonomi selama ini tidak menyejahterakan. Kita perlu pertumbuhan ekonomi. Itu jelas. Tetapi, kita pastikan itu didorong sektor yang menyerap banyak tenaga kerja. Jadi, bukan pertumbuhannya dulu, melainkan sektornya dulu,” kata Hendri. (Kompas/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru