Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 14 Mei 2026

Negara-negara Arab Kecam Usul Netanyahu Dirikan Negara Palestina di Saudi

Redaksi - Senin, 10 Februari 2025 05:58 WIB
104 view
Negara-negara Arab Kecam Usul Netanyahu Dirikan Negara Palestina di Saudi
@IsraeliPM-X (Twitter)
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu
Kairo(harianSIB.com)

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bicara agar warga Palestina mendirikan negara di wilayah Arab Saudi. Negara-negara Arab mengecam pernyataan Netanyahu.

Dilansir Anadolu dan Reuters, Minggu (9/2/2025), beberapa negara seperti Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab (UEA), Sudan, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menolak pernyataan Netanyahu tersebut. Mesir dan Yordania sama-sama mengecam usulan Israel tersebut.

Mesir mengecam pernyataan Netanyahu dengan menyebutnya "tidak bertanggungjawab dan sepenuhnya ditolak". Mesir dalam pernyataan yang disampaikan Kementerian Luar Negerinya menolak pernyataan Netanyahu tersebut karena mengancam keamanan dan kedaulatan Arab Saudi.

"Sepenuhnya menolak pernyataan sembrono yang mengancam keamanan dan kedaulatan kerajaan," ujar pernyataan Kemlu Mesir dikutip dari detikcom.

"Stabilitas dan keamanan nasional Arab Saudi merupakan bagian integral dari keamanan dan stabilitas Mesir dan negara-negara Arab, suatu hal yang tidak dapat dikompromikan," imbuh pernyataan tersebut.

Selain Mesir, UEA dan Sudan menganggap pernyataan Israel itu melanggar hukum internasional dan piagam PBB. Mesir dan UEA juga menganggap kedaulatan Saudi sebagai 'garis merah'.

Menteri Luar Negeri UEA, Khalifa bin Shaheen Al-Marar, menegaskan dalam pernyataannya untuk kembali menolak usulan tersebut. Sebab hal itu merupakan pelanggaran atas hak rakyat Palestina.

Al-Marar merujuk pada "posisi UEA yang bersejarah dan teguh mengenai perlindungan hak-hak Palestina dan perlunya menemukan cakrawala politik yang serius yang mengarah pada penyelesaian konflik dan pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat."

Ia menambahkan dengan tegas bahwa "tidak akan ada stabilitas di kawasan ini tanpa solusi dua negara."

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru