Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 16 Agustus 2026

Anggota DPRK Lhokseumawe Aceh Kibarkan Bendera Bulan Bintang Merah dan Merah Putih

* Letusan Senjata Bikin Mahasiswa Aceh Urung Kibarkan Bendera *Di Merauke, Merah Putih Sempat Diturunkan Tentara PNG
- Minggu, 16 Agustus 2015 12:33 WIB
1.712 view
Anggota DPRK Lhokseumawe Aceh Kibarkan Bendera Bulan Bintang Merah dan Merah Putih
Anggota DPRK Aceh Utara dan Lhokseumawe dari Fraksi Partai Aceh mengibarkan bendera bulan bintang dan merah putih di halaman Masjid Agung Islamic Center, Lhokseumawe, Sabtu (15/8).
Lhokseumawe (SIB)- Memperingati 10 tahun perdamaian Aceh, sejumlah anggota DPRK dari Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara, Aceh mengibarkan bendera bulan bintang dan merah putih di halaman Masjid Agung Islamic Center, Lhokseumawe.
Kedua Bendera tersebut di pasang dengan tiang terpisah oleh anggota DPRK dari Fraksi Partai Aceh kedua daerah tersebut sekitar pukul 09.00 WIB, Sabtu (15/8).

Awalnya para anggota DPRK itu mengibarkan bendera merah putih dan kemudian disusul dengan proses pengibaran bendera bulan bintang melalui upacara dan disaksikan oleh seratusan warga yang memadati halaman masjid. Bendera bulan bintang itu dikibarkan oleh anggota DPRK Aceh Utara yakni Arafat Nur, Nurdin Hasbi dan Sulaiman.

Juru Bicara Anggota DPRK Aceh Utara, Tgk.Junaidi mengatakan pengibaran bendera bulan bintang ini dilakukan selama proses doa bersama berlangsung di dalam masjid.

"Setelah proses doa bersama, bendera bulan bintang akan kita turunkan, sedangkan bendera merah putih tetap naik," kata Tgk Junaidi kepada wartawan.
Menurutnya, pengibaran bendera ini, karena pada tanggal 15 Agustus 2005 lalu menjadi  hari sejarah bagi rakyat Aceh setelah perang sejak 30 tahun dengan pemerintah RI.

"Selain memperingati MoU Helsinki, kita juga meminta kepada pemerintah pusat bisa segera mengesahkan bendera bintang bulan sebagai bendera Aceh," ungkapnya.

Doa bersama di Masjid Islamic Center Lhokseumawe itu selain dihadiri oleh ratusan warga,  juga dihadiri oleh Wali Kota Lhokseumawe, ketua DPRK Lhokseumawe serta sejumlah anggota DPRK Lhokseumawe dan Aceh Utara.

Hingga kini qanun bendera bulan bintang yang sudah disahkan oleh DPR Aceh itu belum mendapat izin dari pemerintah pusat untuk dapat menjadi simbol bendera Aceh.

Letusan Senjata
Aksi mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Arraniry Banda Aceh mengibarkan bendera bulan bintang di tiang depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) urung dilakukan. Seorang polisi yang bertugas menjaga gedung DPRA terpaksa melepas tembakan ke udara untuk mencegah aksi tersebut.
Puluhan mahasiswa yang mengenakan almamater biru awalnya berorasi di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Sabtu (15/8). Mereka ikut membawa bendera merah putih dan bintang bulan. Di sana, mereka berorasi sembari membagi-bagikan uang mainan.

Uang mainan tersebut sengaja dibagikan kepada pengguna jalan untuk menyindir pemerintah Aceh yang tidak menepati janji semasa kampanye. Aksi ini menarik perhatian warga dan tidak mendapat pengawalan dari aparat kepolisian.

Setelah berorasi di sana sekitar 10 menit, mahasiswa kemudian berlari ke gedung DPRA yang berjarak sekitar 500 meter. Mereka ikut membawa bendera bulan bintang dan bendera merah putih.

Saat tiba di depan DPRA, gerbang utama terlihat terkunci. Mahasiswa satu persatu memanjat pagar dan menuju sebuah tiang. Di sana, terdapat dua tiang bendera. Satu diperuntukkan untuk bendera merah putih, satu lagi rencananya untuk mengibarkan bendera Aceh.

Karena letak tali yang agak tinggi, seorang mahasiswa memanjat. Setelah tali diraih, mereka selanjutnya mengikat selembar bendera yang dibawa. Tapi dua polisi yang bertugas menjaga gedung DPRA mencoba mencegah.

Seorang polisi yang melihat bendera sudah diikat mengokang senjata. Dan tiba-tiba sekitar pukul 15.05 WIB, suara letusan senjata laras panjang terdengar satu kali. Mahasiswa langsung turun dan berorasi di depan gedung.     

"Sekarang pemerintah Aceh selalu hanya bicara masalah bendera saja. Hari ini kami mau kibarkan agar masalah bendera ini bisa kami pikirkan dan pemerintah bisa memajukan Aceh," kata Ketua BEM UIN Arraniry, Sayed Fuadi Fajar Ramadan dalam orasinya.

Menurutnya, setelah 10 tahun damai masih banyak persoalan yang terjadi di Aceh sekarang. Seharusnya, dengan dana yang melimpah pemerintah Aceh mampu melakukan pembangunan dan menuntaskan kemiskinan.

"Setelah merdeka, isu merdeka sudah berubah ke arah positif. Dengan kata lain, merdeka dalam konteks saat ini adalah memerdekakan rakyat Aceh dari kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan," ungkapnya.

Hingga akhir orasi, tidak ada polisi yang terlihat bertugas mengamankan aksi. Di sana hanya ada beberapa polisi Pam Obvit. Saat meninggalkan lokasi, mahasiswa sempat memasang selembar bendera bintang bulan di pintu gerbang masuk DPR Aceh.

Merah-Putih Kembali Berkibar di Merauke
Klaim tapal batas tidak hanya terjadi di perbatasan antara Indonesia-Malaysia. Di kawasan timur Indonesia, tepatnya di Rawa Biru Distrik Sota, Merauke, insiden soal garis batas negara sempat mencuat. Bahkan diwarnai penurunan bendera Merah-Putih oleh militer Papua New Guinea (PNG).

"Saat ini di sana sudah ditempati pos dan bendera Merah-Putih sudah berkibar kembali," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigadir Jenderal Wuryanto.

Peristiwa penurunan bendera tersebut pertama kali diketahui setelah pihak TNI mendapatkan laporan dari Ketua RT 3 Kampung Yakyu, Rayli Maywa, ke Pos Rawa Biru. Pos tersebut berada di Kecamatan Sota, berjarak beberapa kilometer dari perbatasan yang ada di Kampung Yakyu. "Tidak sampai puluhan kilometer, masih terjangkau," kata Wury.

Ketua RT setempat menyampaikan bahwa telah terjadi penurunan bendera Merah-Putih Jumat (8/8) sekitar pukul 15.00 WIT, oleh 14 orang tentara PNG.
"Menurut tentara PNG Kampung Yakyu adalah kawasan netral, sehingga harus dua bendera yang berkibar, bukan hanya satu, seharusnya bendera RI dan PNG," beber jenderal bintang satu ini.

Kampung Yakyu sendiri, menurut Wury, adalah sepenuhnya wilayah Indonesia. "Jadi bukan kawasan status quo, itu sepenuhnya wilayah Indonesia," ujarnya.
Guna mengantisipasi kejadian serupa terulang, Kodam Cendrawasih menempatkan pos jaga di wilayah tersebut.

"Sekarang Kodam XVII sudah membuat pos di sana," kata Wury. (detikcom/d)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru