"Bahasa Batak memuat nilai kesopanan, kekerabatan, dan nasihat kebijaksanaan. Kami mengajak masyarakat bergerak dari sekadar mengenal menjadi memahami, dan dari memahami menjadi mengamalkan," ungkap Pontas.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga, lingkungan adat, dan media digital dalam mentransformasikan kebudayaan tersebut kepada generasi penerus.
Diskusi publik ini menghadirkan narasumber utama Saut Poltak Tambunan (SPT) "Pande Gurit", serta jajaran penanggap dari berbagai latar belakang etnis Sumatera Utara, antara lain Ivan HP Siregar, M.Min. (Angkola), Lisda Meyanti, M.Hum. (Mandailing), Yosua Victor S. Purba, S.Hum. (Karo), Marno Siagian (Toba), serta Mery Tambaria Damanik Ambarita, Ph.D. (akademisi dan praktisi).
Melalui momentum ini, seluruh elemen panitia dan organisasi kebudayaan mengundang masyarakat luas untuk turut berpartisipasi aktif pada puncak acara Batak Culture Summit 2026 mendatang guna memperkuat sinergi pelestarian budaya Batak secara berkelanjutan.(*)