Jakarta(harianSIB.com)
Panitia Batak Culture Summit 2026 menggelar Sarasehan Literasi, Bahasa, dan Aksara Batak di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Forum diskusi publik ini diselenggarakan sebagai langkah strategis untuk memajukan, melestarikan, serta mengantisipasi ancaman kepunahan bahasa dan aksara daerah di tengah derasnya arus modernisasi.
Batak Culture Summit 2026 lahir dari kolaborasi antara Batak Center dan Lokus Adat Budaya Batak (LABB).
Mengusung tema "Bersama Memajukan Literasi, Bahasa Etnis-etnis Sumatera Utara (Kebanggaan Kita Bersama)", kegiatan ini mempertemukan para tokoh adat, akademisi, budayawan, hingga perwakilan lintas etnis di Sumatera Utara.
Ketua Panitia Batak Culture Summit 2026, Drs. Martua Situngkir, Ak., menegaskan bahasa dan aksara Batak bukan sekadar alat komunikasi visual atau lisan, melainkan tempat tersimpannya ingatan kolektif, pengetahuan leluhur, serta kearifan lokal.
Baca Juga:
"Ketika aksara tidak lagi dipelajari dan bahasa semakin jarang digunakan, kita berisiko kehilangan sebagian kekayaan peradaban. Sarasehan hari ini tidak boleh berhenti pada pertukaran gagasan semata, tetapi harus bergerak menuju langkah nyata mendokumentasikan pengetahuan, mengembangkan bahan literasi, dan melibatkan generasi muda," ujar Martua.
Martua menjelaskan sarasehan ini merupakan bagian dari rangkaian menuju acara puncak Batak Culture Summit 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 6–7 November 2026 di NT Tower, Jakarta.
Dorong Digitalisasi
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Batak Center, Ir. Sintong M. Tampubolon, secara resmi membuka acara tersebut. Sintong menyoroti pentingnya merumuskan langkah konkret untuk menjaga kelestarian warisan leluhur Surat Batak serta kekayaan tutur bahasa Batak (Habatahon).
"Di tengah arus modernisasi dan teknologi digital, menurunkan minat generasi muda terhadap aksara lokal menjadi ancaman nyata. Jika tidak bertindak hari ini, anak cucu kita kelak mungkin hanya mengenal bahasa dan aksara Batak lewat buku sejarah di museum," tegas Sintong.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Batak Center merumuskan tiga langkah strategis. Pertama, digitalisasi aksara Batak agar dapat diakses dan digunakan secara luas pada media elektronik serta platform digital. Kedua, penguatan edukasi melalui muatan lokal di sekolah formal maupun kegiatan komunitas. Ketiga, kolaborasi multisektor antara pemerintah daerah, akademisi, dan kreator muda.
Pilar Identitas Kebudayaan
Sementara Ketua Umum Dewan Mangaraja (DM) Lokus Adat Budaya Batak (LABB), Dr. Pontas Sinaga, menyampaikan literasi, bahasa, dan aksara Batak merupakan pilar utama dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya.
"Bahasa Batak memuat nilai kesopanan, kekerabatan, dan nasihat kebijaksanaan. Kami mengajak masyarakat bergerak dari sekadar mengenal menjadi memahami, dan dari memahami menjadi mengamalkan," ungkap Pontas.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga, lingkungan adat, dan media digital dalam mentransformasikan kebudayaan tersebut kepada generasi penerus.
Diskusi publik ini menghadirkan narasumber utama Saut Poltak Tambunan (SPT) "Pande Gurit", serta jajaran penanggap dari berbagai latar belakang etnis Sumatera Utara, antara lain Ivan HP Siregar, M.Min. (Angkola), Lisda Meyanti, M.Hum. (Mandailing), Yosua Victor S. Purba, S.Hum. (Karo), Marno Siagian (Toba), serta Mery Tambaria Damanik Ambarita, Ph.D. (akademisi dan praktisi).
Melalui momentum ini, seluruh elemen panitia dan organisasi kebudayaan mengundang masyarakat luas untuk turut berpartisipasi aktif pada puncak acara Batak Culture Summit 2026 mendatang guna memperkuat sinergi pelestarian budaya Batak secara berkelanjutan.(*)