Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 16 Agustus 2026

Tolak Pemerintah Baru, Demo di Brasil Berujung Ricuh

- Selasa, 06 September 2016 16:34 WIB
283 view
Tolak Pemerintah Baru, Demo di Brasil Berujung Ricuh
Sao Paulo (SIB)- Sekitar 100 ribu orang turun ke jalanan Sao Paulo, Brasil untuk mendukung presiden yang dimakzulkan Dilma Rousseff. Para demonstran ini juga memprotes pemerintahan baru yang dipimpin Presiden Michel Temer. Penyelenggara unjuk rasa itu menyebut kekuasaan yang diperoleh Temer sebagai 'kudeta'. Sebelum menggantikan Rousseff sebagai Presiden Brasil, Temer menjabat Wakil Presiden Brasil sejak tahun 2011.

Seperti dilansir AFP, Senin (5/9), sekitar 100 ribu demonstran memenuhi jalanan utama Paulista Avenue, yang juga menjadi pusat perekonomian kota Sao Paulo. Beberapa orang di antaranya membawa poster bertuliskan 'Pergi Temer!' dan juga 'Pemilihan langsung sekarang!'.

Awalnya demo tersebut berjalan dengan damai. Namun, tiba-tiba polisi melemparkan granat listrik, gas air mata dan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa. Akibat tindakan tersebut, aksi damai itu berubah ricuh. Perlawanan pun dilakukan pendemo meneriakkan tuntutan meminta Presiden baru Brasil Michel Temer mundur. Sesaat setelah kericuhan berhasil diredakan, Kepolisian Brasil segera mengeluarkan pernyataan terkait penggunaan aksi represif tersebut. Mereka berdalih, langkah itu diambil demi mencegah aksi vandalisme.

Temer yang tengah berada di China untuk menghadiri KTT G20, menyebut unjuk rasa itu hanya dilakukan oleh kelompok kecil. "Ini hanya kelompok-kelompok kecil ... Saya tidak memiliki jumlah pastinya, tapi mungkin sekitar 40, 50, 100 orang. Tidak lebih dari itu. Dari total 204 juta warga Brasil, saya pikir itu tidak tergolong banyak," ucap Temer.

Pihak oposisi di Brasil segera menyangkal pernyataan Temer itu. "Presiden kudeta Brasil menyebut unjuk rasa kita hanya terdiri atas 40 orang. Inilah 40 orang itu -- kami sudah mencapai nyaris 100 ribu orang di Paulista Avenue," tegas Guilherme Boulos, salah satu anggota oposisi yang menggelar unjuk rasa. Unjuk rasa ini digelar pada sore hari, agar tidak mengganggu prosesi obor Paralympic Games, yang digelar di Rio de Janeiro selang tiga hari ke depan.

Walau Pemerintah Brasil mengatakan demo sama sekali tak mengganggu pemerintahan, seorang pengunjuk rasa Gustavo Amigo tetap bersikeras meminta pemilu segera digelar. Alasannya, otoritas yang memerintah saat ini adalah ilegal. "Melalui demo kami menunjukkan warga Brasil tetap punya kekuatan meski ada kudeta yang melanda, kami ada di jalanan kami akan gulingkan pemerintahan menyerukan pemilu cepat dilaksanakan," ucap Amigo.
Dalam beberapa bulan belakangan kondisi politik di Negeri Samba dilanda krisis. Ujungnya, Presiden Dilma Roussef lengser dari jabatannya. Tokoh dari kaum buruh itu digantikan Wakil Presidennya Michel Temer. Pria 75 tahun tersebut dilantik Senat Brasil pada pekan lalu. Sampai sekarang kondisi di Brasil masih jauh dari kata kondusif. Pasalnya, loyalis Roussef masih belum menerima penggulingan tersebut dan terus menuding aksi itu sebagai kudeta. (Detikcom/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru