Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 14 Mei 2026

NASA Umumkan Seorang Pegawainya Terinfeksi Virus Corona

* Melonjak Drastis, 1.025 Orang Positif Virus Corona di AS, 28 Meninggal
Redaksi - Kamis, 12 Maret 2020 20:26 WIB
253 view
NASA Umumkan Seorang Pegawainya Terinfeksi Virus Corona
kompas.com
Ilustrasi
Washington (SIB)
Badan Penerbangan dan Luar Angkasa AS (NASA) mengonfirmasi satu pegawainya positif terkena virus corona. Dilaporkan Sky News pada Selasa (10/3), karyawan yang tidak disebutkan identitasnya itu bertugas di Pusat Penelitian Ames di Silicon Valley. NASA menyatakan, akses fisik menuju ke Ames sudh diperketat setelah si pegawai positif terinfeksi Covid-19, penyakit yang ditimbulkan virus corona.

Banyak dari staf kemudian diinstruksikan untuk bekerja saja dari rumah. Badan antariksa berusia 63 tahun itu melakukannya sebagai bentuk langkah pencegahan. Administrator Jim Bridenstine menjelaskan, pengetatan akses masuk tak hanya memberi mereka keleluasaan melacak siapa saja karyawan yang melakukan kontak dengan si penderita.

Namun juga memperkirakan area mana saja yang membutuhkan penanganan tambahan, sekaligus memitigasi potensi terpaparnya pegawai yang lain. "Berkoordinasi dengan aparat, fasilitas Ames bekerja melacak dan memberi tahu individu yang mungkin melakukan kontak dengan penderita," jelas Bridenstine. Dia melanjutkan, staf yang diizinkan untuk memasuki kawasan penelitian hanyalah mereka yang bekerja di sektor kritis dan menunjang keberhasilan misi.

Berlokasi di Moffett Field, California, Pusat Penelitian Ames adalah satu dari 10 kawasan penelitian lapangan yang dipunyai NASA. Di sana, dilakukan penelitian serta pengembangan di bidang penerbangan, eksplorasi teknologi, maupun ilmu pengetahuan. Selain mengumumkan kasus positif stafnya, NASA juga melaporkan bahwa tiga misi udara Earth Science ditunda hingga akhir tahun ini.

Melonjak Drastis
Jumlah pasien terinfeksi virus corona melonjak pesat di Amerika Serikat. Sejauh ini sebanyak 1.025 orang telah dinyatakan positif corona, nyaris dua kali lipat dari dari 550 kasus coronavirus yang dikonfirmasi sehari sebelumnya. Demikian menurut data dari Johns Hopkins University seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (11/3). Menurut Johns Hopkins setidaknya 28 orang telah meninggal akibat coronavirus (COVID-19) di AS. Lonjakan kasus ini terkait dengan perluasan pengujian seiring sebagian besar diagnosis telah bergeser dari laboratorium federal ke laboratorium negara bagian.

Menurut para ahli epidemiologi, alat tes yang salah ditambah dengan strategi diagnostik yang awalnya menargetkan terlalu sedikit orang, memungkinkan penyakit ini menyebar di luar kemampuan pemerintah AS untuk mendeteksinya. Kegagalan telah berkontribusi pada virus yang berakar di seluruh negeri, demikian ditulis akademisi dari Johns Hopkins University dan Stanford University dalam Journal of American Medical Association (JAMA) pada hari Senin (9/3) waktu setempat.

Wakil Presiden AS Mike Pence membela respons pemerintah pada pertemuan Gedung Putih dan mengatakan bahwa "sejuta alat tes ada di lapangan." Dia mengatakan bahwa lebih banyak alat tes akan ditambahkan karena pemerintah bermitra dengan perusahaan-perusahaan swasta. Menurut angka terbaru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), lebih dari 8.500 tes telah dilakukan pada hari Senin (9/3) waktu setempat.

Para pakar memperingatkan, pengurangan laporan kasus infeksi yang terjadi di sejumlah negara harusnya tidak boleh dilihat sebagai akhir dari wabah. Laboratorium milik militer pemerintah Amerika Serikat (AS) sedang bekerja untuk mengembangkan vaksin virus corona Covid-19. (Sky News/kps/AFP/detikcom/f)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru