Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 07 Agustus 2026

Dinkes Sebut Ada 32 Kasus DBD Selama 2019 di Taput

Redaksi - Rabu, 15 Januari 2020 17:05 WIB
191 view
Dinkes Sebut Ada 32 Kasus DBD Selama 2019 di Taput
beritamanado.com
Ilustrasi
Tapanuli Utara (SIB)
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) Alexander GP Gultom SKM MKM, menjelaskan, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Taput selama tahun yang lalu (2019) tercatat 32 kasus yang terjadi di 3 kecamatan dari 15 kecamatan Taput.

Ketiga kecamatan tersebut yakni, Kecamatan Tarutung sebanyak 28 penemuan kasus DBD, Kecamatan Siborongborong 2 kasus DBD dan Kecamatan Pahae Jae 2 kasus DBD.

"Untuk awal tahun 2020 sampai sekarang belum ada, kalau tahun kemaren (2019) itu satu tahun hanya 32 kasus DBD dan tidak ada korban jiwa, semua bisa tertangani," kata Kadinkes Alexander saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Selasa (14/1).

Penyakit demam berdarah itu jelas dia, disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes Albopictus. Kedua nyamuk tersebut dapat menggigit di pagi hari sampai sore menjelang petang.

Penularan terjadi katanya, saat nyamuk menggigit dan menghisap darah seseorang yang sudah terinfeksi virus dengue. "Ketika nyamuk tersebut menggigit orang lain, maka virus akan tersebar. Hal tersebut terjadi karena nyamuk berperan sebagai medium pembawa (carrier) virus dengue tersebut," ujar dia.

Terkait langkah-langkah yang dilakukan, Alexander menjelaskan, pihaknya lebih memilih upaya edukasi. Menurutnya, warga harus banyak minum cairan agar terhindar dari dehidrasi, cukup istirahat, mengkonsumsi obat penurun panas sesuai anjuran dokter, menghindari obat-obatan pereda nyeri dan memantau frekuensi buang air kecil dan jumlah urine yang keluar.

Dia mengimbau, penanganan yang tepat dan cepat harus dilakukan warga ketika pengidap sudah mengalami komplikasi demam berdarah atau shock syndrome (DSS).

Adapun gejala dan tandanya yakni tanda pendarahan seperti mimisan, gusi berdarah, perdarahan di bawah kulit, muntah hitam, batuk darah maupun buang air besar dengan feses kehitaman.

Kemudian tekanan darah menurun, kulit basah dan terasa dingin denyut nadi melemah, frekuensi buang air kecil dan jumlah urine yang keluar, mulut kering serta sesak napas atau pola napas yang tidak beraturan.

Sedangkan berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah demam berdarah Alexander mengemukakan, menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, melakukan daur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti dan lainnya. (G01/q)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru