Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 10 Juni 2026

254 Bonsai dari Taiwan dan Jepang Ramaikan Kontes Seni Bonsai Regional di Medan

* Harga Bonsai Berusia Ratusan Tahun Bisa Miliaran Rupiah
- Rabu, 01 April 2015 16:55 WIB
3.161 view
254 Bonsai dari Taiwan dan Jepang Ramaikan Kontes  Seni Bonsai Regional di Medan
Ketua panitia Kontes Bonsai Nasional Achiang sedang berpose bersama bonsai unggulannya cemara sinensis pada kontes nasional seni bonsai regional, madya dan utama, serta bursa tanaman hias 2015, di halaman parkir belakang Plaza Medan Fair, Selasa (31/3).
Medan (SIB)- Sebanyak 254 varian tanaman bonsai dipamerkan di halaman parkir belakang Plaza Medan Fair, Selasa (31/3). Kontes Nasional Seni Bonsai Regional,  dan Bursa Tanaman Hias 2015. Kontes tersebut dibuka Ketua Harian Persatuan Penggemar Bonsai Indonesia Amri Pinayungan Siregar bersama Wakil Ketua M Fahrial. Hadir Juga Presiden Persatuan Bonsai Negeri Malaysia Dato’ Pui Khiang, Wakil Presiden Persatuan Bonsai Malaysia Mr Teoh Sin Keong dan Ketua panitia A Halim (Achiang).

Medan mengandalkan anting putri yang anggun dengan untaian bunga putih dan cemara beragam varian misalnya jenis sinensis dari Kota Malang Jawa Timur, jenis cemara buaya, cemara kuning dan cemara batu. Keunggulan cemara sinensi menurut juru bicara panitia, Fernando Siahaan memiliki gaya akar  dan gaya  hutan alam (raft style dan forest style).

Ketua panitia Achiang menonjolkan cemara sinensis yang sudah berusia 60 tahun. Riwayat hidup bonsai ini dari pohon cemara yang roboh di hutan Jawa Timur. Dari tumbangan pohon itu tumbuh akar baru dan membentuk tunas dan terbentuklah pohon kerdil yang indah yang meniru induk aslinya. Ada juga dari Taiwan seperti beringin kimang, pinus timberti dan cemara duri.

Ada juga pohon asam jawa yang dikerdilkan, pohon buah ceri, kawista krikil asal Pulau Jawa juga menghias kontes tersebut. Tidak ketinggalan bogiuvile  Taiwan, black olive, beringin picus elegan, boxus, tanaman serut, jeruk kelingkit, mirton dari Sulawesi dan banyak jenis lagi.

Pebonsai tanah air selama ini mengadopsi gaya segi tiga bertingkat sedangkan Taiwan segi tiga bulat. Jenis-jenis pohon bonsai juga banyak didapat dari Jepang dan Taiwan, selanjutnya pebonsai menata dan membentuk dengan gaya-gaya sesuai kreasi masing-masing seniman bonsai ini. Namun gaya sudah berubah, pecinta dan kolektor bonsai belakangan ini  mengidolakan natural style.

“Bagaimana tumbuh aslinya di hutan begitulah bonsai ini kami tata sesuai dengan jenis pohon dan karakter tumbuhnya. Misalnya beringin dan cemara yang tegak, sedangkan medianya ditumbuhi lumut-lumut layaknya pohon di hutan sebenarnya,” ucap Fernando.

Mengenai harga, bonsai sama seperti lukisan, batu akik maupun barang antik, kalau pecintanya sudah suka maka berapapun harganya sanggup dibeli. 

Namun usia pohon-pohon yang dipamerkan tersebut antara 60 sampai  100 tahun dan sudah melanglang buana ikut kontes bonsai mancanegara. Sertifikat dan penghargaan sudah disandang bonsai-bonsai ini sehingga tidak heran kalau harganya ada yang menembus Rp 1 miliar. (A12/i)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru