Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 12 Agustus 2026

‎Cuaca Ekstrem, Harga Ikan Laut di Pasar Tradisional Meroket

Indah Apriliana dewi Ginting - Rabu, 12 Agustus 2026 15:46 WIB
208 view
‎Cuaca Ekstrem, Harga Ikan Laut di Pasar Tradisional Meroket
‎Foto/dok/harianSiB/ind
Efek Cuaca Ekstrim, harga ikan laut segar semakin meroket tinggi di pasar tradisional kota Medan, Rabu (12/11/2026).

Medan(harianSIB.com)

‎Harga ikan laut segar di beberapa pasar tradisional Kota Medan mengalami kenaikan yang cukup signifikan sejak beberapa waktu terakhir. Berbanding terbalik dengan harga cabai dan bawang yang mulai melandai.

‎Kenaikan harga bahkan menyentuh hampir 100 persen untuk beberapa jenis ikan favorit masyarakat.

‎Berdasarkan pantauan di Pasar sentral dan dan Sukaramai, komoditas ikan seperti dencis, gembung kuring dan tongkol mengalami kenaikan harga yang sangat tinggi.

‎Ikan gembung kuring pekan lalu masih berharga Rp40.000, sekarang melonjak ke harga Rp 70.000 per kg.

‎Disusul Ikan dencis super Rp60.000 dan ikan tongkol 50.000 per kg.

‎Ikan tuna yang biasanya menjadi primadona, kini dibanderol mencapai Rp 75 ribu per kilogram.

‎Kenaikan harga ikan segar membuat para pedagang dan pembeli makin menjerit.

‎Salah seorang pedagang ikan di pasar Sukaramai, Anto mengatakan kenaikan harga yang semakin melambung ini membuat pelanggannya semakin berkurang dan beralih mencari ayam sebagai gantinya.

‎"Pasokan ikan laut segar yang masuk dari nelayan cuma sedikit, mungkin akibat faktor cuaca ekstrim akhir-akhir ini, jadinya harga ikan melonjak tinggi dan pembeli malah beralih ke ayam atau ikan air tawar. Jadi berlipat pusing saya, beli ikan ke nelayan mahal, ga habis pula, karena pelanggan lebih pilih beli ikan tawar yang lebih murah," kata Anto berkeluh.

‎Di Pasar Sentral, salah seorang warga Sutomo, Limei mengaku tetap pilih membeli ikan laut segar meski harga terus meroket untuk memenuhi gizi keluarganya.

‎"Kaget juga si, kok harga ikannya bisa naik banyak sekali, tapi ya kita faham la, cuaca lagi tak menentu seperti ini, pasti berpengaruh pada aktivitas nelayan. Karena kita harus penuhi gizi anak-anak, meski mahal ya harus dibeli juga," kata Limei.

‎Pada harian SIB, beberapa pelaku usaha warung Nasi juga mangaku kaget dan pusing dengan ke kenaikan harga ikan tapi terpaksa membeli untuk melengkapi menu dagangannya meski hanya sedikit.

‎Seperti yang diungkapkan Suci, pedagang warung nasi di pusat pasar mengaku kaget dengan kenaikan harga ikan tetapi tetap harus beli.

‎"Kami harus tetap beli ikan meski harga selangit untuk melengkapi menu dagangan, tinggal disiasati aja nanti potongannya agar pembeli tetap bisa beli dan kami tidak rugi, kalo ga begitu, lapak dagangan kami bisa sepi kalo pilihan menunya cuma sedikit dan mahal pula. Semoga kondisi ini tidak berlama-lama, pusing kita semuanya serba mahal," kata Suci.

‎Suci dan rekan pedagang warung nasi lainnya faham saat ini lagi masuk pergantian musim, ombak laut lagi besar-besarnya sehingga mempengaruhi hasil tangkapan nelayan ikan.

‎Mereka hanya bisa berharap harga ikan, baik laut maupun air tawar, dapat kembali stabil sehingga daya beli tetap terjaga. Sebagian warga memilih beralih mengonsumsi ayam sebagai alternatif lauk pauk, sembari menunggu cuaca di laut kembali tenang dan pasokan ikan kembali normal. (**)

Editor
: Robert Banjarnahor
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru