Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 16 Agustus 2026
Berkunjung ke Batang Angkola

Sihar Sitorus Yakinkan Masyarakat, Djoss Jadikan Sumut Jadi Lumbung Padi Nasional

- Rabu, 30 Mei 2018 20:42 WIB
856 view
Sihar Sitorus Yakinkan Masyarakat, Djoss Jadikan Sumut Jadi Lumbung Padi Nasional
SIB/Horas Pasaribu
BERSAMA PETANI: Cawagubsu Sihar PH Sitorus berbincangbincang dengan seorang petani di tengah pematang sawah di Desa Hurase, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan, Senin (28/5).
Tapsel (SIB) -Calon Wakil Gubernur Sumatera Utara nomor urut 2, Sihar PH Sitorus optimis Sumut bisa jadi lumbung padi nasional. Dia melihat di kawasan Barat, Timur dan Tengah lahan padinya cukup luas, Djarot dan Sihar akan mewujudkannya. Dia juga mengakui Indonesia masih mengimpor beras, tapi itu bukan salah pemerintah, melainkan produksi gabah petani yang minim.

"Itu bisa karena gagal panen yang faktornya kena serangan hama dan ketidaktersediaan irigasi, sehingga pasokan beras dari petani untuk konsumsi masyarakat tidak mencukupi. Sehingga untuk memenuhi kekurangan itu, pemerintah mengimpor beras," kata Sihar kepada wartawan, usai meninjau pertanian sawah di Desa Hurase, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan, Senin (28/5).

Keyakinan Sihar, kalau Djoss bisa mengembangkan pertanian di Sumut karena memang Sumut memiliki tanah yang subur dan luas. Persoalan pertanian kata dia tidak sulit, Pemprovsu harus hadir di tengah-tengah para petani mempersiapkan benih, pupuk, pembasmi serangga dan ketersediaan air yang cukup lewat pembangunan irigasi.

Sihar tidak memungkiri banyaknya lahan pertanian yang berkurang di Sumut karena beralih fungsi ke fungsi lain. Kondisi itu terjadi  karena petani merasa produksi pertanian tidak sebanding dengan yang diharapkan. "Ini harus menjadi perhatian serius, padi sangat dibutuhkan untuk kebutuhan pangan, sementara lahan akan terus berkurang kalau produksinya dirasakan petani tidak menjanjikan kesejahteraan," terangnya didampingi tim pemenangan Timur Panjaitan.

Makanya lanjut Sihar,  kehadiran Djoss juga untuk mempersatukan potensi pertanian yang tercerai berai. Pertanian di berbagai daerah memiliki karakteristik masing-masing, pemerintah harus bisa memetakan potensinya dan menyeragamkan produksi, berapa ton hasil panen per hektar per wilayah. "Jika ini kita lakukan, niscaya produksi pertanian di Sumut melimpah, Sumut jadi lumbung padi di Indonesia, petanipun jadi untung," tegasnya.

Para petani mengapresiasi program pertanian Djoss seperti yang diungkapkan Sihar. Seorang petani, Batuara Nainggolan mengatakan, tahun 2018 ini hasil panen padi petani anjlok drastis akibat hama tikus. Biasanya dari 80 hektar persawahan yang dimiliki masyarakat Desa Hurase, Batang Angkola, setiap tahunnya bisa mendapat 100 ton.

"Tapi tahun ini kami cuma dapat sekitar 10 ton, akibat hama tikus yang menggagalkan panen kami. Lewat program pertanian Djoss yang lebih menyentuh, masyarakat petani yakin Djoss bisa menghargai produksi para petani," ungkapnya. (A10/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru