Sementara itu, peternak ayam kampung asal Pancur Batu, Iwan (55), menjelaskan tingginya harga dipengaruhi masa pemeliharaan yang lebih lama, kebutuhan pakan yang lebih banyak, serta sistem pemeliharaan yang dilakukan secara alami.
"Masa panen ayam kampung ini lebih lama, berbeda dengan ayam broiler atau ayam ras yang bisa dipanen dalam waktu singkat, sekitar 4-6 minggu. Sistem pemeliharaan ayam kampung lebih alami, sehingga mereka lebih aktif bergerak, jadi sulit gemuk dan membutuhkan asupan pakan yang lebih banyak," jelas Iwan.
Ia menambahkan, jumlah peternak ayam kampung saat ini juga semakin berkurang sehingga pasokan bibit menjadi terbatas dan berdampak pada harga jual di pasaran.
"Sekarang jarang orang yang beternak ayam kampung karena masa panennya lama, jadi setiap jual ke pasar, harga ayam kami tidak pernah murah," pungkasnya.
Dengan pasokan yang terbatas serta permintaan masyarakat yang tetap tinggi, harga ayam kampung diperkirakan masih akan bertahan di level saat ini dan cenderung lebih stabil dibandingkan harga ayam broiler yang lebih fluktuatif.(**)