Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 14 Mei 2026
RI Tak Terlibat Blok Mana Pun

Prabowo: Satu Musuh Terlalu Banyak

Ingin Jadi Jembatan Konflik Dagang AS-China
Redaksi - Minggu, 13 April 2025 10:01 WIB
187 view
Prabowo: Satu Musuh Terlalu Banyak
Foto: Muchlis JR-Biro Pers Sekretariat Presiden via Kompas
BERBICARA: Presiden Prabowo Subianto saat menjadi pembicara dalam Antalya Diplomacy Forum (ADF) talk di Nest Convention Center, Antalya, Jumat (11/4).
Jadi Jembatan

Prabowo menegaskan, Indonesia tidak memihak ke mana pun dalam perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Prabowo mengungkap ingin menjadi jembatan dalam konflik tersebut.


"Tidak, tidak. Kami menghormati semua negara. Kami menganggap China sebagai teman baik kami. Kami juga menganggap AS sebagai teman baik. Kami ingin menjadi jembatan," kata Prabowo saat keterangan pers di Antalya.



Diketahui hubungan AS dan China kini kian panas dengan saling menaikkan tarif impor masing-masing. Prabowo pun berharap perang dagang AS dengan China mencapai kesepakatan.


"Saya berharap, pada akhirnya, mereka akan mencapai kesepakatan, saya harap," kata Prabowo.


Temui Trump
Prabowo juga mengungkap rencananya menemui Presiden Donald Trump membahas kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat (AS). Prabowo berharap ketersediaan waktu Trump.


"Saya sudah minta waktu, mudah-mudahan ya," kata Prabowo.


Prabowo mengatakan, tidak akan memutus hubungan kerja sama ekonomi dengan siapapun. Termasuk China.


"Oh tidak mungkin, China sangat dekat dengan Indonesia," saat ditanya apakah akan memutus hubungan kerja sama ekonomi dengan China buntut perang dagang.


Diketahui, AS telah menaikkan tarif untuk impor dari China menjadi 145 persen. Tak tinggal diam, China kembali menaikkan tarif impor produk Amerika Serikat (AS) menjadi 125 persen dari sebelumnya 84 persen.


Kebijakan ini berlaku mulai Sabtu, 12 April 2025, sebagai bentuk balasan terhadap Presiden Donald Trump. Aksi saling balas ini meningkatkan tensi perang dagang yang mengancam rantai pasok global.


"Jika AS terus mengenakan tarif lebih tinggi, itu tidak lagi masuk akal secara ekonomi dan akan menjadi lelucon dalam sejarah ekonomi dunia," ujar Kementerian Keuangan China dikutip dari CNBC, Jumat (11/4).

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru