The Washington Post melaporkan bahwa selain para wartawan, sejumlah staf Gedung Putih juga meyakini Trump berada di dalam pesawat tersebut.
Wartawan sebenarnya juga menanyakan mengapa tirai jendela harus ditutup selama penerbangan. Namun Trump mengatakan mereka "mungkin sedang berada dalam penerbangan berbahaya".
Pesawat C-32A yang membawa Trump terbang menuju Inggris dan tiba sekitar pukul 22.20 waktu setempat. Sementara itu, Air Force One lama dan rombongan media tiba beberapa menit kemudian.
Sebenarnya, operasi serupa pernah dilakukan pada 2000 ketika Presiden AS Bill Clinton menggunakan jet eksekutif tanpa tanda khusus untuk terbang ke Pakistan. Air Force One resminya digunakan sebagai pesawat pengalih perhatian.
Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steve Cheung mengatakan pesawat baru pemberian Qatar tersebut telah dilengkapi protokol keamanan tingkat tinggi untuk memastikan keselamatan presiden dan stafnya. (*)