Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 13 Agustus 2026

Pengadilan Suriah Vonis Mati Bashar al-Assad

Redaksi - Kamis, 13 Agustus 2026 14:34 WIB
158 view
Pengadilan Suriah Vonis Mati Bashar al-Assad
(harianSIB.com/AP)
Bashar al-Assad.

Bashar al-Assad naik menjadi Presiden Suriah pada 2000, menggantikan ayahnya, Hafez al-Assad, yang meninggal dunia. Sebelumnya, Assad menempuh pendidikan kedokteran mata di London dan tidak semula dipersiapkan menjadi penerus kekuasaan.

Konflik besar pecah pada 2011, ketika demonstrasi yang menuntut perubahan politik berkembang menjadi pemberontakan. Konflik itu kemudian berubah menjadi perang panjang yang melibatkan kelompok oposisi, kelompok ekstremis, serta kekuatan regional dan internasional.

Assad mempertahankan kekuasaannya melalui kekuatan militer dengan dukungan Iran dan Rusia. Penyelidikan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa disebut menyimpulkan pasukan pemerintah menggunakan sarin dan klorin dalam serangan di wilayah yang dikuasai pemberontak.

Assad secara konsisten membantah pemerintahannya bertanggung jawab atas penggunaan senjata kimia. Ia menyebut konflik di Suriah sebagai konspirasi internasional dan menuduh lawan-lawannya sebagai kelompok ekstremis yang didukung asing.

Pada akhir 2024, pasukan pemberontak yang dipimpin Hayat Tahrir al-Sham bergerak cepat menuju Damaskus. Assad meninggalkan ibu kota menuju pangkalan udara Rusia di Latakia sebelum dievakuasi ke Moskow pada 8 Desember 2024.

Pemerintahan baru Suriah menyebut proses hukum tersebut sebagai bagian dari keadilan transisional. Namun, Kepala Pusat Studi dan Penelitian Hukum Suriah, Anwar al-Bunni, menilai hukuman mati dapat memperkecil peluang ekstradisi Assad.

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Bos Badan Intelijen Rusia Meninggal karena Sakit Parah
PN Tanjungbalai Vonis Mati Terdakwa Kasus 40,61 Gram Sabu
Fokus kepada Rusia dan China, AS Kurangi Pasukan di Afrika
Jaksa Agung Dipecat, Investigasi Kasus Rusia di Pilpres AS Diminta Tetap Jalan
Bisnis Menggiurkan di Balik Tren Perempuan Rusia Lahirkan Bayi di AS
Trump Ancam Tingkatkan Senjata Nuklir Untuk Tekan Rusia dan China
komentar
beritaTerbaru