Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 16 Agustus 2026

Pakar Semiotika Soal Debat Ke-4: Pemimpin Teknis vs Pemimpin Ideologis

- Senin, 01 April 2019 19:13 WIB
523 view
Pakar Semiotika Soal Debat Ke-4: Pemimpin Teknis vs Pemimpin Ideologis
Pakar semiotika Acep Iwan Saidi
Jakarta (SIB) -Pakar semiotika Acep Iwan Saidi memaparkan analisis soal jalannya debat keempat Pilpres 2019, Sabtu (30/3). Hasilnya, Jokowi dinilai menunjukkan diri sebagai pemimpin teknis sementara Prabowo dinilai pemimpin ideologis.

"Debat keempat telah memperlihatkan secara jelas kepada publik tentang karakter yang dimiliki oleh kedua calon, Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Keduanya bahkan bisa dibilang telah 'menelanjangi' dirinya di hadapan publik calon pemilih," kata Acep dalam keterangan tertulis, Minggu (31/3).

Menurutnya, karakter itu tidak hanya ditunjukkan lewat gestur dan bahasa tubuh, tapi juga melalui gagasan. Dalam perspektif semiotika, apa yang terdapat di kepala seseorang adalah bagian penting dari karakternya. Gagasan atau pikiran adalah petanda (konsep), sedangkan tubuh (tampilan) dan perilaku adalah penanda.

"Merujuk kepada semiotika Hjemslev, tubuh adalah ekspresi, pikiran adalah konten. Gabungan antara keduanya adalah karakter," ungkapnya.

Dari catatan selama debat, Acep menyebut gestur Jokowi di panggung debat yang tidak menyerang adalah ekspresi karakter natural sosok pribadi yang dilahirkan dalam kultur Jawa-Solo. Dari sisi gestur, dia menyebut Jokowi tidak mengentak-entak, cenderung bertahan, dan tampak tenang.

"Jokowi adalah tipe pemimpin teknis. Hal-hal ideologis (ranah tematik debat) hanya disentuh lapis luarnya. Ini menegaskan apa yang selama ini ditunjukkan dalam kepemimpinannya," kata Acep.

Sementara itu, Acep menyebut Prabowo menjawab dan menguraikan seluruh permasalahan yang diangkat dalam debat dari sisi substansi-ideologis. Beberapa jawaban juga dilandasi referensi.

Acep mengatakan gestur Prabowo yang agresif adalah ekspresi karakter natural sosok pribadi yang dilahirkan dalam kultur Jawa-Banyumas dan Minahasa. Dia menyoroti dari sisi gestur, nada bicara Prabowo sering tinggi, menyebut nama lawan (Pak Jokowi), mengentak-entak, serta selalu menggerakkan tangan atas-bawah dan tampak ofensif.

"Prabowo merupakan tipe pemimpin yang ideologis. Pertanyaan teknis dari panelis tentang pemerintahan juga dihubungkan ke aspek ideologis. Seperti Jokowi, apa yang ditampilkan Prabowo di panggung menegaskan karakternya sejauh ini. Tapi karakter Prabowo sebaliknya dari Jokowi. Prabowo tidak terlalu mementingkan penampilan, ia cenderung mengatakan sesuatu apa adanya," ungkap Acep.

Catatan KPAI
Debat keempat yang mempertemukan capres Jokowi dan Prabowo menimbulkan beragam tanggapan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga memberikan catatan mengenai isi debat itu.

Catatan pertama, KPAI menganggap kedua capres telah menyampaikan visi dan misi yang terukur. Kedua capres dianggap berkomitmen untuk memberikan penguatan dan internalisasi ideologi Pancasila kepada anak bangsa sejak usia dini hingga jenjang universitas (S1, S2 dan S3).

"Ini komitmen baik yang perlu diapresiasi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang generasinya kokoh dengan ideologi kebangsaannya," kata Ketua KPAI Susanto.

Hal kedua, lanjut Susanto, semangat untuk terus menjaga silaturahmi di antara kedua capres menunjukkan betapa perbedaan tak memutuskan rantai persahabatan. Ini merupakan spirit dan sekaligus pendidikan politik yang baik bagi anak Indonesia dalam kerangka berbangsa dan bernegara menuju Indonesia yang lebih baik.

"Kekayaan alam dan kekayaan budaya suatu bangsa tak akan berarti jika para tokoh politik dan bangsa tak memiliki komitmen menjaga persatuan dan kebersamaan. Komitmen yang ditunjukkan kedua capres sangat positif bagi anak negeri. Meski anak Indonesia dalam keragaman, baik agama, suku, bahasa, dan budaya, namun kebersamaan, persaudaraan, dan saling menghormati harus menjadi komitmen besar," kata Susanto.

Hal ketiga, sambung Susanto, kedua capres telah menunjukkan jiwa dan visi nasionalismenya. Menurut Susanto, Indonesia memang harus aktif berkontribusi di level internasional, sinergi antarnegara penting terus bangun, namun kedaulatan dan kepentingan bangsa harus menjadi prioritas utama.

"Komitmen positif ini menjadi spirit baik bagi generasi Indonesia yang mengikuti debat capres. Apalagi dalam UU No 23 Tahun 2002 Pasal 19 (b) ditegaskan bahwa setiap anak wajib mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman. Selanjutnya (c), setiap anak wajib mencintai tanah air, bangsa, dan negara," ujar Susanto.

Hal lain yang masih perlu dipertajam, lanjut Susanto, adalah untuk mengokohkan ideologi kebangsaan bagi anak Indonesia ke depan, visi dan langkah besar untuk perlindungan anak dari infiltrasi radikalisme harus terus diinovasikan.

"Mengingat saat ini pola jaringan radikalisme dan terorisme terus bergeser, tak mudah dideteksi dan sering kali anak menjadi sasaran infiltrasi. Ini harus terus kita jaga agar 83 juta anak Indonesia tumbuh kembang dengan baik, memiliki self protection, serta kokoh dalam menghadapi gempuran radikalisme yang semakin mewabah," kata Susanto. (detikcom/h)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru