Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 27 Agustus 2026

Kekristenan dan Final Liga Champions (1 Korintus 9: 24-27)

Oleh: Pdt Dr Estomihi Hutagalung
Redaksi - Minggu, 31 Mei 2026 06:00 WIB
709 view
Kekristenan dan Final Liga Champions (1 Korintus 9: 24-27)
(harianSIB.com/Dok)
Pdt Dr Estomihi Hutagalung

These are the champions!

Die Meister, die Besten, les meilleurs equipes, the champions.

Die Meister, die Besten, les meilleurs equipes, the champions.

Kemegahan lagu ini lahir karena mengadopsi unsur musikal dari karya monumental George Frideric Handel (16851759) yang berjudul "Zadok The Priest". Komposisi musik zaman Baroque ini digubah dalam lingkungan budaya Kristen Eropa yang kental dan tradisi penobatan monarki Inggris. Ketika Tony Britten mengadaptasinya pada tahun 1992 untuk UEFA, ia menghidupkan kembali nuansa seremoni religius masa lalu ke dalam panggung modern, menciptakan atmosfer yang tidak hanya sakral tetapi juga menggelorakan optimisme atas pencapaian tertinggi manusia.

Nilai religius orisinal dari anthem tersebut berakar kuat pada teks Kitab Suci. Karya asli Handel merupakan sebuah nyanyian sakramental yang didedikasikan untuk penobatan takhta monarki Inggris sejak masa Raja George II tahun 1727, yang teksnya diambil langsung dari 1 Raja-raja 1: 38-40 mengenai penobatan Salomo sebagai raja Israel.

Hubungan historis ini membawa refleksi yang lebih dalam: meskipun abad pencerahan (Aufklärung) kerap dipandang sebagai gerakan rasionalisme modern yang kritis, perkembangannya tidak dapat dilepaskan dari fondasi budaya Kristen yang telah membentuk Eropa selama berabad-abad. Pengaruh ini mewujud nyata dalam tradisi estetika dan liturgi gereja. Dalam ibadah Minggu, gereja-gereja di Eropa sejak lama menjadi rahim bagi lahirnya musik-musik dengan kandungan teologis yang sangat dalam serta gubahan arsitektur suara yang impresif.

Dari rahim tradisi itulah masyarakat Eropa tumbuh dengan keyakinan bahwa musik tidak sekadar menjadi ekspresi dan refleksi kontemplatif atas realitas sosial. Lebih dari itu, musik mampu menstimulasi jiwa dan menggelorakan semangat kerja demi meraih keberhasilan, sebuah bentuk kesadaran terhadap panggilan diri (vocation, berufung) sebagai ciptaan Tuhan yang harus diekspresikan demi pencapaian makna dan cita-cita luhur kemanusiaan.

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Diduga Diusir Jemaatnya, Pendeta Faber Manurung Mengadu ke Polisi
Pusat Kekristenan Diramal akan Berada di Afrika Timur
Dilantik Sebagai Ketua MPK Wilayah Sumut-NAD, RE Nainggolan : Karakter Kekristenan di Sekolah Kristen Mulai Pudar
Bishop GKPI Pdt Abdul Hutauruk MTh: Indonesia Maju 2045 Jangan Sampai Mereduksi Iman Kekristenan
PWKI Medan Minta Panti Rehab Narkoba Berbasis Kekristenan
Sudung Situmorang Monitoring Penanganan Kasus Korupsi di Sumut
komentar
beritaTerbaru