Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 27 Agustus 2026

Kekristenan dan Final Liga Champions (1 Korintus 9: 24-27)

Oleh: Pdt Dr Estomihi Hutagalung
Redaksi - Minggu, 31 Mei 2026 06:00 WIB
713 view
Kekristenan dan Final Liga Champions (1 Korintus 9: 24-27)
(harianSIB.com/Dok)
Pdt Dr Estomihi Hutagalung

(harianSIB.com)

Final UEFA Champions League, Sabtu 30 Mei 2026 di Arena Psukas Budapest, menjadi momen penting guna memanjakan mata para pecinta si kulit bundar. Suatu event bergengsi dengan mempertemukan dua finalis terbaik ligaa Champions. Pada event inilah Paris Saint Germain dari Francis akan membangkitkan semangat yang tinggi untuk menaklukkan barisan pertahanan Arsenal dari Inggris, demi meraih trophy si Telinga Besar, lambang supremasi sepak bola di daratan Eropa.

Pada laga final ini, dapat dilihat keindahan permainan sepak bola oleh dua tim terbaik di liga ini. Pada babak semi final PSG sebagai juara bertahan musim lalu, telah menaklukkan tim unggulan Bayern Muenchen dari Jerman. Demikian juga Arsenal berhasil menumbangkam tim favourite lainnya Atletico Madrid Spanyol. Maka, final ini menjadi tontonan menarik bagi lebih dari jutaan pasang mata penonton dan berdampak ekonomi, bisnis iklan, makanan dan media massa.

Sesungguhnya, event ini tidak hanya dilihat pada keuntungan bisnis olahraga khususnya sepakbola. Di Budapest, momen tahunan ini akan menjadi panggung bagi para pemain terbaik untuk membuktikan diri sebagai manusia yang dikaruniai Tuhan talenta mengolah bola. Kota di tepi Sungai Danube ini sendiri merupakan pusat Kristenisasi Hungaria sejak era Raja St. Stephen sekitar tahun 1000 M, yang berdiri sebagai ruang temu bagi tradisi Katolik, Protestan, dan Ortodoks Timur.

Lapisan sejarahnya kian religius sekaligus kompleks karena pernah berada di bawah kekuasaan Ottoman, meninggalkan jejak ketangguhan iman melalui transformasi dramatis arsitektur Gereja lalu Masjid lalu Gereja kembali. Melalui latar belakang spiritual yang kuat ini, ajang final UEFA Champions League tidak hanya menaikkan level gengsi tim yang layak bertanding, tetapi juga menjadi tempat bertemunya talenta terbaik guna meraih simbol prestasi tertinggi di Eropa.

Baca Juga:
Pengaruh Kekristenan

Tetapi di balik kesemarakan event tahunan ini, sesungguhnya ada hal yang pantas dicermati dalam kaitannya dengan dinamika sejarah Kekristenan. Salah satunya adalah anthem UEFA Champions League yang selalu bergemuruh di stadion pada pembukaan dan penutupan pertandingan. Meskipun berlirik sederhana tentang keunggulan para jawara, anthem ini membawa kita pada memori kolektif peradaban Barat yang berakar pada tradisi spiritual, seperti yang tersirat dalam larik berikut:

Ceux sont les meilleurs equipes,

Es sind die aller besten Mannschaften, the main event.

Die Meister, die Besten, les meilleurs equipes, the champions.

Les grandes et les meilleurs!

Eine grosse stattliche Veranstaltung, the main event:

These are the men, Sie sind die Besten,

These are the champions!

Die Meister, die Besten, les meilleurs equipes, the champions.

Die Meister, die Besten, les meilleurs equipes, the champions.

Kemegahan lagu ini lahir karena mengadopsi unsur musikal dari karya monumental George Frideric Handel (16851759) yang berjudul "Zadok The Priest". Komposisi musik zaman Baroque ini digubah dalam lingkungan budaya Kristen Eropa yang kental dan tradisi penobatan monarki Inggris. Ketika Tony Britten mengadaptasinya pada tahun 1992 untuk UEFA, ia menghidupkan kembali nuansa seremoni religius masa lalu ke dalam panggung modern, menciptakan atmosfer yang tidak hanya sakral tetapi juga menggelorakan optimisme atas pencapaian tertinggi manusia.

Nilai religius orisinal dari anthem tersebut berakar kuat pada teks Kitab Suci. Karya asli Handel merupakan sebuah nyanyian sakramental yang didedikasikan untuk penobatan takhta monarki Inggris sejak masa Raja George II tahun 1727, yang teksnya diambil langsung dari 1 Raja-raja 1: 38-40 mengenai penobatan Salomo sebagai raja Israel.

Hubungan historis ini membawa refleksi yang lebih dalam: meskipun abad pencerahan (Aufklärung) kerap dipandang sebagai gerakan rasionalisme modern yang kritis, perkembangannya tidak dapat dilepaskan dari fondasi budaya Kristen yang telah membentuk Eropa selama berabad-abad. Pengaruh ini mewujud nyata dalam tradisi estetika dan liturgi gereja. Dalam ibadah Minggu, gereja-gereja di Eropa sejak lama menjadi rahim bagi lahirnya musik-musik dengan kandungan teologis yang sangat dalam serta gubahan arsitektur suara yang impresif.

Dari rahim tradisi itulah masyarakat Eropa tumbuh dengan keyakinan bahwa musik tidak sekadar menjadi ekspresi dan refleksi kontemplatif atas realitas sosial. Lebih dari itu, musik mampu menstimulasi jiwa dan menggelorakan semangat kerja demi meraih keberhasilan, sebuah bentuk kesadaran terhadap panggilan diri (vocation, berufung) sebagai ciptaan Tuhan yang harus diekspresikan demi pencapaian makna dan cita-cita luhur kemanusiaan.

Kekristenan dan Olah Raga

Belajar dari surat Paulus pada 1 Korintus 9: 24-27: "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya."

Suatu ajaran dalam konteks kehidupan jemaat yang senang dengan kegiatan olah raga. Tujuannya, memudahkan ajaran Injil yang disampaikan sesuai situasinya. Sebab masa itu, di Korintus (Athena) sedang berlangsung kegiatan olah raga, event prestisius dengan menghadirkan orang-orang hebat dan para penonton pertandingan di Isthmian, Delphi, Nemea dan Olympic sebagai olah raga terbesar sampai saaat ini.

Oleh karena itu, istilah olah raga sudah dikenal jemaat dan dengan ilustrasi olah raga memberi dampak yang baik dalam Pekabaran Injil. Paulus ingin mengajarkan bahwa kehidupan rohani dan kehidupan orang beriman dapat diibaratkan seperti kehidupan seorang atlet. Dibutuhkan kesungguhan, disiplin diri, berani keluar dari penderitaan, bekerja keras demi keberhasilan.

Implikasi UEFA Champions League

Cita-cita menjadi tim terbaik dan menjadi juara adalah dambaan setiap orang sebagai wujud kesadaran diri yang dikaruniai Tuhan berbagai talenta. Di dalamnya terkandung suatu imperatif antropologis teologis. Kesadaran itulah yang mendorong tim-tim UEFA Champions League datang dan bertanding dengan mental juara, mengolah bola dengan indah sehingga mengundang decak kagum pada penonton.

Ada perang urat syaraf, adu strategi antar pelatih dan menghasilkan pertandingan dengan suasana perang bintang serta melahirkan juara baru lambang supremasi sepak bola Eropa. Mereka ingin meraih kejayaan warisan peradaban Aufklärung. Para milioner bola ini, akan menari di atas lapangan hijau bukan sekedar meraih uang tetapi mengaktualisasikan diri sebagaimana teori Abraham Maslow.

Dan pada saat yang bersamaan, keyakinan diri sebagai orang beriman untuk meraih kesuksesan harus dicapai dengan kerja keras, disiplin yang tinggi sebagaimana akan dilakoni oleh Dembele dan Vitinha di PSG serta Saka, Rice serta teman-temannya di Arsenal. Nilai-nilai diri sebagai pribadi yang diberkati Tuhan haruslah menjadi daya dorong bagi setiap orang untuk berusaha keras meraih keberhasilan, bukan dengan korupsi, kejahatan kriminal, kejahatan judi online.

Maka, belajar dari keberhasilan para milioner bola tersebut, berimplikasi pada adanya kesadaran diri sebagai orang beriman. Dan momen tersebut menjadi inspirasi dan daya dorong bagi setiap orang Kristen untuk berusaha menjadi sukses tanpa korupsi. Tetapi kesuksesan adalah buah iman yang dinyatakan dalam kerja keras, tahan menderita dan tetap yakin pada janji Tuhan. Itulah warisan nilai Kekristenan yang terus diserukan dalam gereja saat ini. Semoga.(**)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Diduga Diusir Jemaatnya, Pendeta Faber Manurung Mengadu ke Polisi
Pusat Kekristenan Diramal akan Berada di Afrika Timur
Dilantik Sebagai Ketua MPK Wilayah Sumut-NAD, RE Nainggolan : Karakter Kekristenan di Sekolah Kristen Mulai Pudar
Bishop GKPI Pdt Abdul Hutauruk MTh: Indonesia Maju 2045 Jangan Sampai Mereduksi Iman Kekristenan
PWKI Medan Minta Panti Rehab Narkoba Berbasis Kekristenan
Sudung Situmorang Monitoring Penanganan Kasus Korupsi di Sumut
komentar
beritaTerbaru