Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 27 Agustus 2026

Kekristenan dan Final Liga Champions (1 Korintus 9: 24-27)

Oleh: Pdt Dr Estomihi Hutagalung
Redaksi - Minggu, 31 Mei 2026 06:00 WIB
712 view
Kekristenan dan Final Liga Champions (1 Korintus 9: 24-27)
(harianSIB.com/Dok)
Pdt Dr Estomihi Hutagalung

Kekristenan dan Olah Raga

Belajar dari surat Paulus pada 1 Korintus 9: 24-27: "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya."

Suatu ajaran dalam konteks kehidupan jemaat yang senang dengan kegiatan olah raga. Tujuannya, memudahkan ajaran Injil yang disampaikan sesuai situasinya. Sebab masa itu, di Korintus (Athena) sedang berlangsung kegiatan olah raga, event prestisius dengan menghadirkan orang-orang hebat dan para penonton pertandingan di Isthmian, Delphi, Nemea dan Olympic sebagai olah raga terbesar sampai saaat ini.

Oleh karena itu, istilah olah raga sudah dikenal jemaat dan dengan ilustrasi olah raga memberi dampak yang baik dalam Pekabaran Injil. Paulus ingin mengajarkan bahwa kehidupan rohani dan kehidupan orang beriman dapat diibaratkan seperti kehidupan seorang atlet. Dibutuhkan kesungguhan, disiplin diri, berani keluar dari penderitaan, bekerja keras demi keberhasilan.

Implikasi UEFA Champions League

Cita-cita menjadi tim terbaik dan menjadi juara adalah dambaan setiap orang sebagai wujud kesadaran diri yang dikaruniai Tuhan berbagai talenta. Di dalamnya terkandung suatu imperatif antropologis teologis. Kesadaran itulah yang mendorong tim-tim UEFA Champions League datang dan bertanding dengan mental juara, mengolah bola dengan indah sehingga mengundang decak kagum pada penonton.

Ada perang urat syaraf, adu strategi antar pelatih dan menghasilkan pertandingan dengan suasana perang bintang serta melahirkan juara baru lambang supremasi sepak bola Eropa. Mereka ingin meraih kejayaan warisan peradaban Aufklärung. Para milioner bola ini, akan menari di atas lapangan hijau bukan sekedar meraih uang tetapi mengaktualisasikan diri sebagaimana teori Abraham Maslow.

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Diduga Diusir Jemaatnya, Pendeta Faber Manurung Mengadu ke Polisi
Pusat Kekristenan Diramal akan Berada di Afrika Timur
Dilantik Sebagai Ketua MPK Wilayah Sumut-NAD, RE Nainggolan : Karakter Kekristenan di Sekolah Kristen Mulai Pudar
Bishop GKPI Pdt Abdul Hutauruk MTh: Indonesia Maju 2045 Jangan Sampai Mereduksi Iman Kekristenan
PWKI Medan Minta Panti Rehab Narkoba Berbasis Kekristenan
Sudung Situmorang Monitoring Penanganan Kasus Korupsi di Sumut
komentar
beritaTerbaru