Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 17 Mei 2026

Peneliti Sebut Jika Ingin Kualitas Air Oligotrofik, Jangan Ada Aktivitas di Perairan Danau Toba

Redaksi - Kamis, 29 Desember 2022 08:53 WIB
667 view
Peneliti Sebut Jika Ingin Kualitas Air Oligotrofik, Jangan Ada Aktivitas di Perairan Danau Toba
Foto : Shutterstock/Andi syahputra
Danau Toba 
Simalungun (SIB)

Ketua Peneliti Kajian Daya Dukung dan Daya Tampung Danau Toba yang juga Guru Besar Universitas Sumatera Utara, Prof Ternala Barus telah merampungkan penelitiannya di tahun 2022 ini tentang kajian Daya Dukung dan Daya Tampung Danau Toba yang diinisiasi oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara.

Barus menyampaikan bahwa dari hasil penelitian yang ia lakukan, Kawasan Danau Toba merupakan destinasi penting secara historis dan kegiatan ekonomi masyarakat Indonesia khususnya provinsi Sumatera Utara, katanya dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Rabu (28/12).

Dia mengatakan mulai dari pariwisata, rumah tangga, transportasi, peternakan, pertanian, budidaya perikanan, hingga pabrik-pabrik industri telah lama ada di perairan kawasan Danau Toba. Sehingga penataan kawasan Danau Toba yang merupakan agenda pemerintah masih menjadi perdebatan hangat hingga saat ini.

Diakuinya, berbagai pandangan pro dan kontra mewarnai rencana pemerintah untuk menertibkan kawasan Danau Toba hingga mengembalikan kualitas airnya menjadi oligotrofik.

Menurutnya, mengembalikan kualitas airnya menjadi oligotrofik yang dimaksud agar kondisi airnya sangat bening dan jernih sehingga apa yang ada di dalamnya cenderung dapat dilihat.

Selain itu, mempunyai ketersediaan oksigen yang memadai dan tidak pernah habis dari permukaan air hingga dasar danau.

Ternala juga menyampaikan bahwa dari pemantauan 4 tahun berturut-turut mulai tahun 2005, 2006, 2007 dan 2008 ditemukan nilai oksigen yang terlarut (DO). "Untuk tahun 2006 memang terjadi penurunan. Namun begitu, jika kita menginginkan status oligotrofik, itu artinya tidak diperbolehkan kegiatan apapun di perairan Danau Toba,” ujarnya.

Ternala Barus juga mengungkapkan kawasan Danau Toba tidak dapat dipisahkan dari kegiatan ekonomi yang menjadi penopang dan sumber kehidupan masyarakat setempat. [br]





Di sisi lain, kelestarian lingkungan tidak dapat ditawar oleh sebab itu semua aktivitas ekonomi dan wisata harus dilakukan secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Pemanfaatan Danau Toba yang bersifat multi use mencakup pariwisata, transportasi, konservasi dan akuakultur perlu berjalan secara seiring sesuai dengan pengaturan zonasi yang telah diatur dan disepakati dalam aturan yang ada. Pengembangan kegiatan ekonomi dan konservasi harus seimbang dan mengadopsi prinsip-prinsip keberlanjutan.

Karena itu, untuk pencegahan pencemaran Danau Toba perlu dilakukan dengan menyeluruh, baik dari sumber pencemar di darat maupun di perairan yang berasal dari beragam aktivitas ekonomi dan sosial yang ada. Itu juga kalau mau kualitas air oligotrofik, dan jangan ada aktivitas di perairan Danau Toba, sebutnya.

Dalam sosialisasi hasil penelitiannya di hadapan pemerintah Pusat, pemerintah Daerah Provinsi Sumut, Pemerintah Kabupaten di Sekitar Danau Toba dan dinas terkait, Prof Ternala menyampaikan bahwa hasil kajian Daya Dukung Danau Toba yakni sebesar 55.083, 16 ton per tahun.

Daya dukung ini tentu dapat dijalankan dengan mengaplikasikan tata kelola pembangunan yang berkelanjutan, yang meliputi pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan sosial dan keberlanjutan lingkungan, ungkapnya. (D10/f)




Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru