Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 15 Mei 2026

Jalinsum Sibolga-Tarutung Terkesan Diabaikan, Warga Menjerit Laju Ekonomi Mati Suri

Rosianna Anugerah Hutabarat - Jumat, 15 Mei 2026 19:17 WIB
291 view
Jalinsum Sibolga-Tarutung Terkesan Diabaikan, Warga Menjerit Laju Ekonomi Mati Suri
Foto: harianSIB.com / Rosianna Anugerah Hutabarat
Kondisi Jalinsum Sibolga-Tarutung.

Tapteng(harianSIB.com)

Pascabencana banjir dan longsor pada November 2025 lalu, kondisi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) ruas Sibolga-Tarutung yang melintasi wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), kini semakin memprihatinkan dan terkesan diabaikan oleh pemerintah.

Hasil pantauan harianSIB.com, baru-baru ini, terlihat jelas kondisi jalan yang nyaris amblas di sejumlah titik kritis, tebing-tebing perbukitan yang mulai terkikis air membuat pengguna jalan harus ekstra hati-hati.

Badan jalan yang sempit, menanjak dan berkelok, membuat pengendara roda empat harus saling bergantian saat melintasinya. Bahkan pengendara yang tidak akrab dengan topografi medan, harus waspada, jika tidak dikhawatirkan kendaraan dapat terperosok ke dalam jurang yang menganga di sisi jalan.

Belum lagi jika hujan turun sudah dipastikan membuat permukaan jalan licin siap mengancam hingga merenggut keselamatan pengendara yang melintas.

Baca Juga:
Meskipun Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Tapteng telah memberi imbauan agar pengendara roda empat maupun lebih agar melintas melalui jalur alternatif Jalan Rampa Poriaha namun sepertinya saran tersebut sulit dipatuhi oleh mayoritas masyarakat mengingat jarak yang dilalui cukup panjang dibandingkan Jalinsum Sibolga-Tarutung.

Diketahui jarak tempuh Sibolga menuju Gapura Rampa via Jalan Alternatif Rampa Poriaha sekira 17,2 kilometer sedangkan jika perjalanan dilakukan dari Sibolga menuju Gapura Rampa via Batu Lobang hanya sekira 10,2 kilometer. Terdapat perbandingan jarak tempuh yang cukup signifikan.

Tentu saja pengendara roda dua dan empat memilih melintas dari Jalinsum via Batu Lobang dengan alasan jarak lebih dekat, hemat waktu, dan efisien secara biaya bahan bakar, meskipun mereka harus mempertaruhkan keselamatan melintasi jalan yang rusak parah dan rawan bencana.

Pilihan berat ini akhirnya menjadi risiko yang harus ditanggung setiap hari oleh masyarakat dan pelaku ekonomi. Padahal, sudah enam bulan berlalu sejak banjir dan longsor besar melanda Tapanuli Tengah.

Warga sekitar menyebutkan bahwa proyek pengerjaan jalan tersebut sempat berjalan dikerjakan oleh PT Hutama Karya (Persero) yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang bergerak di bidang jasa konstruksi, namun entah mengapa aktivitas proyek tersebut justru terhenti di tengah jalan.

Warga melihat alat-alat berat yang sebelumnya sempat masuk dan bekerja membuka akses darurat, kini tak lagi terlihat beroperasi. Lokasi proyek pun tampak lengang menyisakan papan plang bertuliskan "Hati-hati ! Jalan berdebu".

Warga menilai, penanganan yang dilakukan pemerintah hanya sebatas membuka akses darurat saja, tanpa ada perbaikan struktur jalan atau penanganan jangka panjang yang serius.

Selain itu, pengabaian Jalinsum ini juga melumpuhkan laju ekonomi masyarakat Kecamatan Sitahuis.

Sebelum bencana melanda, pelaku ekonomi seperti pedagang di pinggir jalan pedagang buah musiman, rumah makan, warung kopi, pedagang madu sangat bergairah berusaha.

Setiap hari ratusan truk, bus dan kendaraan mobil pribadi hilir mudik membawa penumpang dan barang, sekedar beristirahat sejenak juga berbelanja oleh-oleh, menikmati penorama alam, terowongan bersejarah Baru Lobang, pemandangan itu tak lagi terlihat, yang tampak hanya lapak-lapak yang tertutup bahkan terlihat berdebu dan lapuk seperti terbunuh kondisi jalan yang diabaikan pemerintah.

Wajah-wajah pedagang yang dulu penuh semangat menawarkan dagangan, kini tampak pasrah dan mati suri.

Kemerosotan ekonomi berdampak berantai hingga ke petani dan pekebun di desa-desa sekitar Kecamatan Sitahuis.

Pasalnya, buah-buahan, kopi, madu, dan hasil bumi yang dijual di lapak-lapak tersebut adalah pasokan dari warga desa.

Ketika kendaraan tidak mau lewat, untuk menjual hasil kebun, maka warga harus memutar otak mencari modal lebih sekadar mengisi minyak kendaraan dengan menambah literan yang cukup besar dibandingkan jika melewati Jalinsum via Batu Lobang.

Warga pun mempertanyakan di mana tanggung jawab Badan Pelaksanaan Jalan Nasional.

Menurut warga, enam bulan waktu yang cukup panjang untuk melakukan perbaikan, namun kenyataannya kondisi justru makin parah. Warga khawatir jika hujan deras kembali turun, jalan ini akan amblas total dan akses terputus sepenuhnya, yang berarti mencekik ekonomi masyarakat setempat.

"Kami tidak minta fasilitas mewah, kami hanya minta hak kami. Jalan yang layak, aman, dan bisa dilalui," ucap B.Hutagalung dengan nada lirih di Sitahuis, Jumat (15/5).

Dia menilai pemerintah lalai dalam menjaga aset vital negara, seolah membiarkan kerusakan merembet. Padahal jalan nasional adalah urat nadi yang menjadi skala prioritas agar roda ekonomi di wilayah pesisir pantai barat tetap berputar.

"Lihatlah kondisi kami, dan bertindaklah nyata, bukan hanya imbauan lewat jalur alternatif yang tidak membantu ekonomi kami sama sekali," tegas pria berusia 53 tahun ini.

Melihat kondisi Jalinsum yang berada di Kabupaten Tapanuli Tengah yang diabaikan, petani karet ini membandingkan dengan penanganan Jalan Nasional Kabupaten Tapanuli Utara yang lebih cepat dan mendapatkan pengerjaan serius dan berlanjut.

Oleh itu, dia meminta Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu agar bersuara lantang memperjuangkan hak wilayahnya agar mendapatkan perlakuan yang setara dan adil dari pemerintah pusat melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional.

"Kenapa di kabupaten lain bisa ditangani serius dan terus dikerjakan sementara wilayah kami ditinggalkan begitu saja. Ini bukan soal perbandingan melainkan pemerataan penanganan pascabencana," pungkasnya. (**)

Editor
: Eva Rina Pelawi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Bobby Nasution Promosikan Sumut ke Dubes Australia sebagai Gerbang Investasi Indonesia Barat
Kinerja APBN Sumut Hingga Maret 2026 Tumbuh Positif
Brevin Lois Surbakti Siswa SMP Methodist-2 Medan Wakili Indonesia di Olimpiade Biologi Internasional di Rusia
OJK: Tren Penurunan Suku Bunga Kredit Perbankan Masih Berlanjut
Pemkab Karo Karo Siap Bangun Sekolah Nasional Terintegrasi
Pinggir Sungai Mola Longsor, Jalan Nasional Gunungsitoli–Telukdalam Terancam Putus
komentar
beritaTerbaru