Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 17 Mei 2026
Psikolog Dra Irna Minauli MSi:

Ibu Bunuh Anak Kandung, Kemungkinan Balas Dendam Atau Gangguan Jiwa Berat

* Pretty Hasibuan Pernah Minta Bantuan ke KPID
- Senin, 23 Januari 2017 11:27 WIB
513 view
Medan (SIB)- Direktur Minauli Counsulting Medan  Psikolog Dra Irna Minauli MSi mengatakan, kasus pembunuhan yang dilakukan orang tua terhadap anak dikenal sebagai filicide. Beberapa istilah lain yang menyerupai adalah  infanticide, ketika yang dibunuh adalah anak yang baru dilahirkan.

"Akan tetapi penyebab yang paling banyak adalah adanya gangguan jiwa berat yang dialami oleh orangtua, khususnya ibu," kata Irna Minauli, Minggu (22/1) di Medan ketika diminta komentar terhadap kasus pembunuhan anak kandung M Altahir (2.5 tahun) yang diduga dilakukan ibunya Pretty Hasibuan (35)  di Desa Mekar Sari ,Delitua, Minggu (15/1).

Pelaku diduga depresi karena sejak menikah ditinggal suaminya yang merantau ke Malaysia.  Dikatakan Irna, pada kasus pembunuhan yang dilakukan orangtua terhadap anak seringkali sifatnya kompleks dan banyak faktor yang mempengaruhi. Misalnya karena alasan altruistic, dimana ibu membunuh anaknya karena alasan ingin menyelamatkan masa depan anaknya. Alasan lain adalah anak yang tidak diinginkan (unwanted child), biasanya terjadi pada kasus kehamilan yang tidak dikehendaki.

Ada juga yang membunuh karena kecelakaan yang diakibatkan  kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya. Jenis lain yang terjadi adalah karena adanya faktor balas dendam terhadap pasangannya. Mereka yang sebenarnya marah pada pasangannya, namun kemudian mengarahkan kemarahannya kepada sang anak.

Dengan membunuh anaknya seolah ia ingin menghukum pasangannya. Akan tetapi penyebab yang paling banyak adalah adanya gangguan jiwa berat yang dialami oleh orangtua, khususnya ibu. Gangguan jiwa yang umum menyertai adalah skizofrenia dan depresi. Untuk itu tentunya perlu pemeriksaan yang lebih mendalam, kata Irna di Jalan DI Panjaitan 180 Medan.

Minta Bantuan KPAID Sumut
Sebelum peristiwa sadis pembunuhan terhadap anak kandungnya sendiri, ternyata Pretty Hasibuan (35) pernah meminta bantuan kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Provinsi Sumatera Utara (KPAID Sumut) pada 2016 lalu. Pretty meminta bantuan karena anaknya diasuh oleh opung (orangtua ayah si anak) di daerah Garoga.

"Pretty Hasibuan pernah meminta bantuan ke kita sekitar lima bulan yang di tahun 2016. Dia minta bantuan karena anaknya diasuh opungnya di daerah Garoga," kata Ketua KPAID Sumut, Muhammad Zahrin Piliang kepada SIB via selular di Medan, Sabtu (21/1).

Zahrin Piliang menceritakan Pretty Hasibuan memiliki seorang anak dari hasil hubungan dengan seorang pria yang berbeda agama dan tidak menikah. Akan tetapi pada waktu itu si anak diasuh opungnya di daerah Garoga, sedangkan ayahnya si anak tinggal di Batam.

Kata Zahrin, secara biologis pria tersebut ayahnya si anak. Namun karena tidak menikah berdasarkan undang-undang yang berlaku, hak asuh anak kepada ibunya. Oleh karena kejadian itu, Pretty Hasibuan meminta bantuan ke KPAID Sumut agar si anak diasuh oleh dirinya.

Setelah Pretty meminta bantuan, pihaknya memproses dan menyelesaikannya di Polda Sumut dengan menyerahkan si anak kepada Pretty. Berselang satu bulan kemudian, dia bersama orangtuanya membawa si anak kembali mendatangi KPAID dengan ceria dan mengatakan anaknya sehat selama diasuhnya sembari bersilahturahmi.

Setelah mengetahui peristiwa pembunuhan ini, KPAID Sumut tidak menyangka, sebab Zahrin Piliang masih ingat benar pada waktu Pretty Hasibuan meminta bantuan ke KPAID Sumut tidak tampak ada gangguan apa-apa, bahkan bicaranya normal.

Namun memang pada waktu itu wajahnya kelihatan sedih karena bukan dirinya yang mengasuh anaknya. "Sewaktu Pretty minta bantuan kita, tidak ada gangguan apa-apa dan bicaranya normal. Kita menduga dia mengalami beban psikologis yang sangat dalam, sehingga terjadi peristiwa yang memilukan ini," tuturnya.

Menurut Zahrin, peristiwa pembunuhan ini bisa tidak terjadi asalkan pihak keluarga maupun tetangga memperhatikan dinamika perkembangan Pretty Hasibuan. Apabila ada melihat sikap-sikap yang aneh segera ambil tindakan pencegahan dan jangan sampai memakan korban jiwa.

"Seharusnya, keluarganya bisa membaca tingkah laku Pretty. Peristiwa ini menjadi pembelajaran buat masyarakat Sumut. Sebaiknya kita memperhatikan kondisi anak yang menunjukkan sikap-sikap aneh agar dicari pencegahan," kata Zahrin Piliang mengakhiri.

Sedangkan, Kanit Reskrim Polsek Delitua Iptu Rian Permana enggan memberikan keterangan terkait hal tersebut. "Mohon maaf kalau mengenai itu, kita gak berani komentar. Keluarga pelaku juga tertutup sama kita,'' kata Rian via selular.(A01/A18)/Dik-1/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru