Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 26 Mei 2026

Peringatan Jumat Agung di GKPI Sriwijaya Medan

Sekjen GKPI: Allah Gantikan DiriNya Jadi Korban Sembelihan Demi Tebus Dosa Manusia
Horas Pasaribu - Jumat, 03 April 2026 20:38 WIB
563 view
Peringatan Jumat Agung di GKPI Sriwijaya Medan
Foto SIB/ Horas Pasaribu
IBADAH: Jemaat GKPI Sriwijaya Medan sedang melaksanakan ibadah peringatan Jumat Agung, Jumat (3/4/2026) di GKPI Sriwijaya.

Medan(harianSIB.com)

Di dalam Perjanjian Lama, Allah telah membuat perjanjian harus ada domba yang disembelih sebagai kurban bakaran untuk menghapus dosa manusia. Lalu di Perjanjian Baru, Tuhan yang jadi korban sembelihan untuk penghapusan dosa. Makanya Yesus disebut anak domba Allah. Dia menjelma jadi manusia, menanggung hinaan, cacian, cercaan sampai mati di kayu salib.

PIMPIN IBADAH: Sekjen GKPI Pdt Parsaoran Sinaga dan Pdt Polin Sihombing memimpin ibadah peringatan Jumat Agung, Jumat (3/4/2026) di GKPI Sriwijaya Medan. (Foto SIB/ Horas Pasaribu)

Baca Juga:

"Yesus adalah pribadi maha agung, maha kasih, maha kuasa, menjelma menjadi manusia sebagai hamba. Inilah pengorbanan Tuhan kita, Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang rela berkorban untuk umatNya," kata Sekjen GKPI Pdt Parsaoran Sinaga, M.Min, MTh dalam khotbah pada peringatan Jumat Agung, Jumat (3/4/2026) di Gereja GKPI Sriwijaya Medan.

Dikatakannya, Tuhan Yesus rela menderita, diperlakukan sebagai orang tidak terhormat, disiksa sampai mati dengan cara mengenaskan. Tapi Tuhan merelakan diriNya diperlakukan seperti itu, demi pengorbananNya kepada manusia.

"Ketika Tuhan Yesus disiksa, tidak ada yang mau melihat, semua melarikan diri, hanya ibu-ibu meratap dari kejauhan tanpa bisa berbuat apa-apa. Padahal, ketika Yesus sebelum disalibkan, Dia berbuat baik kepada manusia, menyembuhkan orang sakit bahkan orang matipun dihidupkan. Tapi ketua Dia disalibkan, tidak satupun orang yang Dia tolong melihatNya, bahkan murid-murid Yesus sendiripun lari," ungkap Sekjen GKPI.

Itu sebabnya, kata Pdt Parsaoran Sinaga, ketika di kayu salib, Yesus berteriak Eloi, Eloi lama sabakhtani. Orang yang menyaksikan bertanya apakah Yesus memanggil Elia? Padahal bukan. Yesus pada waktu itu sedang berada di puncak penderitaan, Dia menahan sakit luar biasa, tapi semua orang meninggalkanNya sampai mati di kayu salib.

FOTO BERSAMA: Sekjen GKPI Pdt Parsaoran Sinaga dan Pdt Polin Sihombing foto bersama para penatua GKPI Sriwijaya usai ibadah Jumat Agung, Jumat (3/4/2026) di GKPI Sriwijaya Medan. (Foto SIB/ Horas Pasaribu)

Pdt Parsaoran bercerita, pernah memakamkan seorang pejabat yang meninggal dunia. Sangat banyak orang melayat, ratusan papan bunga duka cita. Acara pemakaman pakai iring-iringan sampai di pemakaman, ada pakai upacara dan kata sambutan.

Bila dibandingkan dengan kematian Yesus sangat jauh berbeda, ketika dimakamkan tidak ada upacara dan kata sambutan yang memuji-muji kebaikanNya. Ketika dimakamkan, dimakamkan begitu saja, murid-murid pun tidak yang nampak, semua menjauh meninggalkanNya. "Maka wajarlah Yesus berteriak di atas kayu salib berkata: Allahku, Allahku, mengapa Engkau tinggalkan Aku, itu adalah ungkapan penderitaanNya," terangnya.

Lalu ketika Yesus mati, alam raya gelap gulita selama tiga jam, lalu gempa bumi dan gunung batu pecah. Itu sebagai bukti, ketika orang-orang bungkam melihat penyiksaan dan kematian Yesus, tapi alam bersuara mengungkapkan siapa Yesus sebenarnya. Kemudian tirai bait Allah terkoyak dari atas sampai ke bawah. Waktu itu, di bait Allah ada ruang kudus tempat para imam yang tidak boleh dimasuki orang-orangnya. Artinya, tidak boleh sembarangan masuk ke ruangan maha kudus.

"Tapi dengan terkoyak, tidak ada lagi dinding pemisah manusia untuk datang kehadapan Allah. Tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni, tidak ada kesalahan yang tidak bisa dihapus. Sampai-sampai, pemimpin pasukan Romawi berkata sambil bersujud, orang ini memang benar-benar anak Allah. Dia tidak belajar teologi, tapi fenomena alam yang berbicara membuat dia tersungkur minta ampun kepada Tuhan," jelasnya.

Dikatakannya, dari sisi hukum mungkin dapat dikatakan persidangan Yesus itu adalah peradilan sesat. Tapi dalam perspektif Tuhan Allah, Yesus disalib untuk menebus dosa manusia. "Yesus menggantikan kita, inilah yang kita renungkan melalui perjamuan kudus," tuturnya.

Di dalam ibadah dilaksanakan perjamuan kudus dipimpin Sekjen Pdt Parsaoran Sinaga didampingi Pendeta Resort GKPI Medan Barat Pdt Polin Sihombing dan dibantu para penatua GKPI Sriwijaya.(**)

Editor
: Eva Rina Pelawi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Gereja Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai Langkat Gelar Ibadah Ekaristi
Jemaat Lintasdenominasi Adakan Workshop Kehidupan Sesuai Alkitab di GKPI P Siantar
Muslimah Rabu Biru Sumut Kumpulkan Bantuan untuk Korban Bencana Alam Madina
Bishop GKPI Letakkan Batu Pertama Pembangunan Pastori Wilayah IV di Sidikalang
Pedagang Eks Pasar Aksara Sumbang Korban Bencana Alam di Madina
Sekolah Minggu Hanya Ibadah Anak-anak, Tidak Layak Masuk RUU Pendidikan Keagamaan
komentar
beritaTerbaru