Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 11 Agustus 2026

Pascabanjir Batang Toru, Prof Jatna Dorong Pembangunan Kawasan Pegunungan Berbasis Sains

Yogi Suwanda - Selasa, 11 Agustus 2026 19:36 WIB
139 view
Pascabanjir Batang Toru, Prof Jatna Dorong Pembangunan Kawasan Pegunungan Berbasis Sains
Foto: harianSIB.com/Yogie
Guru Besar UI Prof Jatna Supriatna menyampaikan paparan pada “Diseminasi Hasil Studi Bentang Alam Batang Toru dan Pengembangan Pasca Banjir Besar 2025” di Medan, Selasa (11/8/2026).

Medan(harianSIB.com)

Guru Besar Universitas Indonesia (UI) sekaligus Direktur Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) UI Prof Jatna Supriatna menegaskan pembangunan di kawasan pegunungan harus mempertimbangkan karakteristik geologi dan topografi setempat.

Hal itu disampaikannya dalam Diseminasi Hasil Studi Bentang Alam Batang Toru dan Pengembangan Pasca Banjir Besar 2025 yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara bersama UI dan I-SER UI di Medan, Selasa (11/8/2026).

"Pembangunan itu harus betul-betul sesuai dengan karakteristik geologi dan topografi. Ini yang harus dipahami betul-betul," ujar Jatna dalam paparan bertajuk "Batang Toru: Badai Senyar, Orangutan, Restorasi Ekosistem dan Ekonomi Hijau."

Jatna menyoroti kerentanan kawasan pegunungan Sumatera terhadap deforestasi dan bencana hidrometeorologi. Menurutnya, risiko bencana tidak hanya ditentukan curah hujan, tetapi juga kondisi geologi, topografi, tutupan vegetasi dan perubahan lingkungan.

Baca Juga:
Ia menjelaskan, hujan berintensitas tinggi yang berlangsung beberapa hari pada kawasan dengan tanah dan batuan rentan dapat menyebabkan erosi hingga longsor.

Penelitian tersebut memanfaatkan teknologi penginderaan jauh melalui Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk memetakan perubahan vegetasi dan wilayah yang rusak pascabencana.

Pemetaan itu diharapkan menjadi dasar ilmiah dalam menentukan langkah restorasi kawasan Batang Toru serta menyusun strategi pembangunan sesuai karakteristik dan tingkat kerentanan wilayah.

Kajian UI yang mengintegrasikan data geologi, geomorfologi, geofisika, penginderaan jauh dan hidrometeorologi menyimpulkan banjir bandang Batang Toru dan Garoga pada akhir November 2025 merupakan bencana hidrometeorologi yang dipicu hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar.

Curah hujan harian ketika itu mencapai 229,7 milimeter dengan akumulasi mingguan lebih dari 600 milimeter, setara kejadian berulang 300 tahun.

Hujan ekstrem tersebut diperkuat kondisi geomorfologi pegunungan, struktur geologi, dinamika daerah aliran sungai (DAS), migrasi saluran sungai dan karakteristik sedimen bawah permukaan.

Kajian itu juga tidak menemukan bukti yang menghubungkan banjir dengan aktivitas operasi pertambangan. Sistem Sungai Batang Toru dan Garoga disebut telah mengalami evolusi alami panjang dengan migrasi saluran aktif berulang setiap 5-10 tahun.

Migrasi saluran aktif terutama terjadi di DAS Batang Toru di Desa Perkebunan Sigala-gala serta DAS Garoga di Desa Garoga, Desa Huta Godang dan Desa Mombang Boru.

Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu mengatakan daerahnya membutuhkan rekomendasi berbasis riset untuk menjaga ekosistem sekaligus mengurangi risiko bencana serupa.

"Kami berharap betul dan mengucapkan terima kasih. Ini sangat kami butuhkan. Mudah-mudahan dari riset dan diskusi ini ada rekomendasi kepada kami di Tapanuli Selatan untuk bagaimana menjaga alam dan ekosistem di Tapanuli Selatan," kata Gus Irawan.(**)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Bus Sekolah Dihantam Banjir Bandang di Yordania, 14 Orang Tewas
Gubsu Hadiri Tahlilan di Pengungsian, Doakan Korban Banjir Bandang Madina
Poldasu Kirim Sembako untuk Korban Banjir Bandang Madina
DPRDSU Desak Penegak Hukum Telusuri Penyebab Terjadinya Banjir Bandang di Madina
Pakar Geologi Usul Pasal Kebencanaan Masuk UUD
Banjir di Medan Terjadi Berulang Akibat Proyek Abaikan Perencanaan dan Topografi
komentar
beritaTerbaru